AnasJurnal Anas

Episode 2 : Digital Minimalism dan tentang Belajar Lagi Menjadi Manusia

Ini adalah episode dari JurnalAnas Podcast. Lihat arsip episode lainnya disini.

Listen on: Anchor, Spotify, Apple Podcast, Google Podcast

Transcript

Anas: Halo semuanya, hari ini mungkin bahasannya agak sensitif, sulit dibicarakan tapi juga sudah jadi hal yang umum terjadi. Sensitif karena bakal menyentuh banyak hal yang dilakukan orang, terutama teman-teman yang bekerja di media dan teknologi, termasuk gue. Yaitu tentang Digital Addiction dan dampak yang ditimbulkannya, terutama terkait dengan media sosial dan issue information overload.

Tapi pembicaraan ini juga penting, biar kita sama-sama punya pemahaman yang lebih tetang isu ini dan untuk selanjutnya bisa sama-sama membuat dunia yang kita tinggali ini jadi lebih baik. Khusus buat yang ada di industri teknologi, untuk bikin produk yang user friendly dan memudahkan orang untuk menyelesaikan masalah, tapi tetap untuk mempertimbangkan efek kesehatan psikologis dari penggunanya.

Mari kita mulai dengan membahas judul podcast ini sendiri, Digital Minimalism. Minimalism. Ketika orang bilang, dia hidupnya minimalis, apa sih maksudnya?

Gue lupa kapan pertama kali denger tentang gaya hidup minimalis ini, tapi yang gue inget adalah bahwa waktu itu gue menumakan ini sebagai sebuah approach yang dipake dalam desain. Salah satu yang gue inget dulu adalah — sebelum gue denger tentang Marie Kondo — waktu SMA gue sempet mulai baca blog-nya Leo Babauta. Dia bayak menulis tentang self improvement yang praktikal gitu, cukup populer juga websitenya. Beberapa bukunya kalau nggak salah udah diterjemahin ke bahasa indonesia dan ada di gramed. Bahasan paling pokoknya adalah tentang minimalism, tentang hidup minimalis.

Dan desain websitenya juga memperlihatkan filosofi itu, namanya zenhabits.com. Bayangin ada orang punya website populer, biasanya kan website kayak gini rame banget ya. Bahkan nggak jarang ada iklan-iklannya juga. Nah, ini nggak. Homepagenya cuman berisi artikel terakhir yang dia tulis, header dan footernya bersisi navigasi, link ke halaman-halaman lainnya di website itu. udah itu aja. Tahun 2010 atau 2011, dimana mayoritas website trennya adalah memasukan sebanyak mungkin yang bisa dimasukkan dalam sebuah halaman, dimana website paling populer adalah kaskus masih ramai berisi dengan banyak link cerita, dan gambar-gambar dalam satu halaman sendiri, rame banget deh. Melihat website yang sesederhana itu cukup ngasih impresi yang unik sih buat gue.

Dan tanpa sadari dengan desain sesimple itu, gue sebagai pembaca jadi nggak bingung harus ngapain, saat gue buka websitenya, gue tau satu-satunya hal yang gue pengen gue lakukan adalah membaca tulisan Leo ini, dan itulah yang memang satu-satunya yang bisa gue lakukan. Dan itu juga yang pembuat websitenya ingin pembaca lakukan, untuk baca, dan kalau mau merespon, tinggal kirim dia email. Hal-hal lainnya yang terlihat umum seperti background bergambar, emoji yang animatif, atau bahkan kolom komentar — walaupun nggak ada yang salah dengan itu — adalah nomor dua. Hal-hal itu bisa diganti dengan menggunakan hal lain yang memang didesain untuk itu. Misalnya untuk kolom komentar blog, sebenernya udah bisa diganti dengan diskusi di reddit atau bahkan melalui email langsung. Gue sebagai orang yang juga kadang menulis essay panjang dan nggak ada kolom komentarnya, merasa pembaca yang secara proaktif ngirim email untuk berkomunikasi dengan lw berkomentar tentang tulisan lw, adalah salah satu reward spesial buat gue dan salah satu yang membuat gue semakin suka menulis juga.

Anyway, lambat laun, gue semakin melihat dan menyadari betapa powerfulnya desain yang minimalis itu. Karena desain yang minimalis memberi peluang untuk subject yang menggunakan untuk bisa fokus. Fokus ke hal yang memang penting, esensial aja. Di dunia dimana semua orang punya lebih banyak pilihan, saat orang punya attention span yang sedikit, sebuah produk, sebuah media, sebuah website yang bisa membawa usernya untuk fokus ke dalam satu hal fungsional yang penting dan meggunakan waktu yang ada untuk berada disitu aja.. itu salah satu bentuk super power.

Desain minimalis ini juga yang jadi gaya banyak desainer-desainer popoler di berbagai industri, salah satunya Jony Ive-nya Apple, dan yang lebih legendaris adalah Dieters Rams, Industrial Designer Jerman, untuk perusahaan bernama Braun. Dia bayak mendesain produk-produk keseharian. Salah satu prinsip desain yang dia pake adalah, Good design is as little design as possible – Less, but better. Karena Desain yang sederhana artinya memfokuskan produk pada aspek-aspek esensialnya aja, dan bagian-bagian nggak esensial diilangin aja.

Dan dari situ itu juga yang memaknai hidup minimalis itu apa. Yaitu gaya hidup dengan hanya menggunakan dan fokus ke hal-hal yang penting aja. Melakukan hal-hal yang penting aja, yang esensial aja. Punya barang-barang yang esensial aja. Me-refine hidup jadi sesederhana mungkin biar yang kita punya, yang kita berikan energi adalah hal-hal yang esensial aja.

Inget prinsip pareto? Bahwa 80% outcome dihasilkan oleh 20% input. Dan ini berlaku dalam hampir semua hal. 80% kekayaan populasi dimiliki oleh 20% orang. 80% profit dihasilkan oleh 20% klien. 80% error disebabkan oleh 20% kode.

Minimalism adalah prinsip dimana kita memfokuskan diri pada 20% hal penting itu. Ya, itu artinya kita mungkin akan ketinggalan kalau membahas 80% yang lain, tapi dengan mengoptimalkan 20% yang penting tadi, kehilangan yang ada karena nggak melakukan 80% hal yang nggak esensial tadi, tertutupi dengan hasil yang 1000 kali lebih bagus karena fokus tadi.

itu salah satu prinsip yang gue suka dari sudut pandang minimalis. karena sangat merepresentasikan banyak hal dalam hidup juga. lw mungkin akan kehilangan lelucon bagus atau gosip terbaru karena nggak buka akun shitposting di social media dalam beberapa hari, karena lw memilih untuk belajar karambol misalnya. Tapi benefit dari keputusan itu adalah lw jadi juara karambol se kabupaten. Oke, sebenernya ada banyak hal yang lebih baik dari main karambol, tapi ya, itu contoh aja lah ya.

Nah itu tentang Minimalismnya.

Lalu, apa itu Digital Minimalism? Buat gue, Digital Minimalism adalah gaya hidup dimana kita mengadopsi teknologi yang membantu kita dalam melakukan hal-hal esensial dalam hidup, dan untuk bisa selektif dalam memilih informasi dan teknologi apa aja yang kita konsumsi.

Seenggaknya ada tiga hal, tiga issue, yang menjadi alasan kenapa menurut ini gue penting.


Problem pertama adalah tentang media sosial. Gue nggak tau kenapa ini harus jadi term tersendiri, dibanding dengan banyak layanan lain yang juga bisa digunakan online. Mungkin karena, well, manusia itu makhluk sosial. Dan untuk pertama kalinya dalam sejarah umat manusia, generasi kita mencoba membuat alternatif dari interaksi sosial yang kompleks ke sebuah medium yang benar-benar beda, dengan skala yang semasif saat ini. Estimasinya tahun 2019 ini penggunanya bakal 2.77 miliar orang. Penggunanya memang banyak banget kan.

Beberapa waktu lalu gue baca essay-nya Andrew Sullivan NYMagz.com, judulnya, "I used to be a human being". Linknya ada di deskripsi. Dia mengungkapkan kegelisahannya yang diakibatkan oleh bombardir berita dan gosip yang membuat kita jadi orang yang pecandu informasi yang maniak. Kebanyakan dari kita mungkin udah lupa gimana rasanya untuk bisa bosen. Bisa inget kapan terakhir kali lw bosen?

Kalau dulu, waktu masih kecil, ini bakal terjadi sesederhana karena saat gue keluar rumah nggak ada anak-anak lain yang lagi main. Atau saat gue sampe temen buat main, orang tuanya bakal bilang bahwa anaknya lagi tidur. Gua akan memainkan apapun yang ada, yang gue temui, rasa bosan ini yang akhirnya membawa gue ngelakuin hal-hal seperti bikin mainan sendiri dari kayu, dan lain-lain. Entah apa anak sekarang, dengan gadget yang selalu siap ngasih hiburan kapanpun dan dimanapun, ngerasain rasa bosen gini juga nggak.

anyway, sekarang yang cukup penting dan esensial untuk kita bahas juga adalah terkait dengan mesia sosial. media sosial itu sebenernya sama seperti rokok. Dan begitu pula bagaimana media sosial ini dibuat, keputusan sekecil apapun seperti warna apa yang mereka pake untuk sebuah tombol kecil login, itu adalah hasil riset dari yang melibatkan banyak orang dan dilakukan dengan serius. Biar kita bisa selama mungkin ada di layanan mereka.

Taun 1995 pernah ada interview yang cukup terkenal dengan seorang whistleblower bernama Jeffrey Wigand, seorang ilmuwan yang pernah kerja di sebuah pabrik rokok. Dia ngejelasin bahwa rokok itu memang di-engineer untuk bisa jadi adiktif.

Sebenernya, penggunaan media sosial yang secara luas dan tinggi ini hal yang nggak aneh. Dulu, di zaman paleolitikum, dimana orang-orang kerjaannya masih berburu dan metik buah doang, penting untuk bisa selalu memastikan posisi kamu secara sosial dengan orang lain di tribe/suku, karena peluang kamu untuk bertahan hidup dan nggak jadi makanan singa sangat bergantung pada hal itu. dan itu yang lambat laun berkembang dan menjadikan kita bahkan secara definisi adalah makhluk sosial, dan alasan kenapa sosial media perkembangannya bisa cepat banget adalah karena produk-produk ini menciptakan hal yang mirip dengan dengan kebutuhan artifisial kita ini.

Lalu apa yang media sosial ini ingin miliki? perhatian kita. Itu yang jadi produk mereka, kita nggak perlu bayar untuk pake layanan media sosial karena kita memang yang jadi produknya. But, in an open marketplace for attention, darker emotion attract more eyeballs than posotive and constructive thoughts. Ini yang bikin kenapa mayoritas isu yang trending, dan banyak dikomentari, dan banyak engagementnya adalah hal-hal yang negatif dan toxic.

Inilah kenapa lw akan selalu menemukan keributan baru di twitter karena pasti yang lebih mudah rame itu adalah keributan. Berita-berita yang yang membawa tendesi negatif, terlepas informasinya bisa dipercaya atau nggak. Gue kayaknya belum pernah ngeliat ada tweet viral karena ada anak SMA kita yang menang mendali emas olimpiade matematika, padahal kan banyak prestasi kayak gini. Kenapa nggak viral? karena bagi netizen ini nggak menarik.

Jadi bisa dibilang kalau kita scrolling socmed tanpa tujuan dan cari yang menarik itu, mirip dengan klo kita keluar rumah dan secara sengaja nginjek eek kucing. Itu kan.. geli juga ya.

Dan suka nggak suka, kenyataanya media sosial yang kita pake juga dibuat seperti itu. Bahwa dibalik banyaknya kemudahan yang membuat kita bisa berkomunikasi dengan lebih cepat dan mudah, teknologi-teknologi ini di-engineer untuk jadi adiktif. Gue yakin sih ada banyak orang yang di industri teknologi punya visi untuk bikin sesuatu yang berguna, tapi mungkin udah saatnya kita mulai concern dan bikin batasan mana inovasi yang membuat produk yang lebih mudah digunakan, dan mana yang membuat penggunanya jadi kecanduan dan berakibat jangkat panjang yang negatif.

Gue bukan anti media sosial, gue hanya mengungkapkan bahwa penting untuk punya awareness tentang gimana media sosial ini dibikin dan bekerja. Biar kita bisa lebih mengontrol penggunaannya. Biar kita bisa pake teknologi-teknologi ini dengan lebih mindful, dan lebih bijak aja. Itu concern pertama gue tentang media sosial.

Poin gue yang lain adalah bahwa media sosial, aplikasi smartphone secanggih apapun nggak akan bisa menyentuh kualitas yang interaksi yang dihasilkan dengan langsung ketemu. teman yang kamu temui setiap hari, itu lebih ril dari profil-profil selebgram yang kamu kepoin setiap hari.

Dan Interaksi sosial kita terlalu kompleks untuk bisa di-outsource kedalam sebuah social network atau direduksi kedalam chat messages dan emoji.

percakapan dari muka ke muka itu prosesnya lebih lambat. Dan itu mengajarkan kita kesabaran. Kita juga menggunakan intonasi dan ekspresi. sementara dengan komunikasi hanya secara digital kita akan belajar kebiasaan yang beda. komunikasi digital ini menurut gw efektif kalau tujuannya memecahkan masalah yang butuh melibatkan banyak orang yang punya terhalang tempat dan waktu. Buat kerja ini efektif. Buat kebahagiaan dan kualitas hidup lw, ketemu langsung walau dengan jumlah orang yang jauh lebih sedikit dari follower lw di twitter, itu lebih bernilai.

Inget, media sosial itu alat, sebuah benda produk teknologi, yang berfungsi untuk kita gunakan saat diperlukan. Kalau nggak perlu-perlu amat, nggak bakal ada masalah sih kalau lw batasin cara dan frekuansi penggunaanya.


Oke, itu pertama tentang media sosial. Isu kedua adalah tentang Information Overload. Kalau dulu orang nunggu jam 9 malem untuk nonton Dunia dalam Berita, sekarang tiap detik pasti ada berita baru. Dari mulai Syahrini yang tiba-tiba sakit flu sampe Diwan pengen makan baso. Itu hiburan sih, normal lah ya kalau memang nonton itu buat keperluan entertainment. Maksud gue yang Diwan ya, bukan Syahrini.

Tapi berita-berita umum pun banyak banget. Dan bakal selalu ada. Konflik pasti bakal selalu ada, karena dunia yang kita tinggali ini gede banget. Indonesia ini gede banget. Kalau dicari-cari masalah setiap hari, pasti ada yang baru. Dan tanpa sadar energi mental kita seharian abis karena dikit-dikit disuntik berita-berita yang nggak begitu penting ini.

Ya, mayoritas berita menurut gue nggak penting-penting banget sih, kecuali kalau pekerjaan dan produktifitas lw bergantung pada volume pemberitaan ya beda lagi. Tapi mayoritas orang nggak perlu untuk secara konstan baca atau nonton berita. Baca koran sehari sekali aja itu udah cukup banget.

Ya, mungkin itu kedengeran 80'an banget: baca koran. Tapi itu masih efektif sampai sekarang. Untuk membuat lw jadi bagian dari masyarakat yang aware dengan isu-isu yang ada di dalamnya, dan tanpa menghabiskan terlalu banyak waktu.

Dari pada kita nerima semua berita dalam jumlah yang nggak terbatas, ada organisasi yang isinya orang-orang profesional memilih mana aja berita yang penting dan menarik untuk satu hari, yang bisa dibaca satu kali duduk, itu hal yang membantu banget.

Tau apa lagi yang lebih efektif dari koran? majalah mingguan. yap. berita terpenting yang ada selama seminggu, dalam satu package aja. Dan dibaca sambil ngopi di kafe di sabtu pagi abis lari pagi, misal. Mantep kan? tau apa lagi yang lebih efisien dari majalah mingguan? Yap, majalah bulanan.

Gue jadi kepikiran, pernah gak sih ada studi semacam.. seberapa beda jauhnya awareness terhadap isu-isu penting dalam masyarakat antara orang yang mengkonsumsi informasi melalui majalan bulanan, dibandingkan dengan orang yang baca berita -- baik tv ataupun online media -- setiap hari. Bisa jadi ide skripsi nih, buat anak psikologi, sosial atau politik mungkin.

Tebakan gue, bedanya nggak banyak. Yang baca berita bulanan mungkin malah punya persepsi lebih mendalam terhadap beberapa isu penting.. karena yang dia konsumsi adalah longform pieces dari jurnalis profesional, dibanding orang yang setiap hari dibombardir berita clickbait yang tiap artikelnya cuman 500-1000 kata ditulis oleh orang yang kinerjanya diukur dari seberapa banyak respon yang didapet dari situ.


Oke, itu dua hal yang menurut gue jadi isu bersama kita saat ini. Penggunaan media sosial dan information overload. Menurut gue, awareness akan dua hal ini aja udah bagus banget, karena kebanyakan orang mengkonsumsi apapun yang dia dapet. Karena semuanya gratis, ya kenapa nggak diambil? kenapa nggak dimakan? tanpa sadar bahwa sebenernya waktu yang mereka keluarkan adalah produk sebenarnya.

Lalu apa hal yang bisa kita lakukan? ya yang jadi judul episode ini sendiri, yaitu coba adopsiin jadi Digital Minimalist dikit-dikit. Nggak harus bikin pengumuman di depan rumah untuk jadi Digital Minimalist..

Bisa dimulai dengan hal-hal seperti..

Kurangi corong tempat lw menerima informasi dengan jumlah sesedikit mungkin. Coba liat lagi apa aja yang jadi sumber konsumsi informasi sehari-hari, terus evaluasi kalau ini nggak penting-penting banget buat hidup lw yang unfollow atau hapus aplikasinya. Soalnya, gini lho.. email dan semua notifications yang ada itu,pada hakikatnya adalah sekumpulan agenda orang lain untuk diri lw. Jadi kalau nggak mau hidup dikontrol dengan agenda orang lain terus, apalagi oleh random netizen, yaa.. buat agenda hidup lw sendiri, dan jadiin itu prioritas dulu.

Kalau lw nggak menentukan apa yang penting dan yang nggak, orang lain yang nanti bakal mengontrol keputusan itu. orang yang minta lw melakukan sesuatu, orang yang marah2 diinternet dan minta perhatian dan respon dari lw, termasuk berita dan media sosial. Waktu hidup yang lw punya itu berharga cuy, jangan mau dijual murah. Pake untuk hal-hal yang memang punya value, dan buat orang-orang yang memang berarti.

Selain itu, mulai juga cari kegiatan yang butuh.. real-world structured social interactions. Yang butuh interaksi sosial yang nyata. Volunteer di suatu event. Ikut toastmaster club dan belajar public speaking bareng-bareng. Atau ikut club lari juga seru tuh.

Terakhir, yang sederhana dan underrated, adalah berjalan. Coba jalan-jalan, literally ya pake kaki lw dan ngelilingin kebun binatang atau kebun raya bogor misal.

Memang, jalanan di jakarta atau kota-kota besar nggak banyak yang ramah untuk penjalan kaki. saran gw sih cobain untuk pergi kesuatu tempat dan agendain cuman untuk jalan doang, bisa sendiri atau sambil ngobrol, dan yang penting koneksi internet di HP lw dimatiin dulu atau gak usah bawa sekalian.

apa sih hal terburuk yang bakal terjadi kalau HP mati satu jam aja? Abraham Lincoln aja waktu jadi presiden sering kabur dari White House dan menyendiri di kabin pribadinya, Leonardo Da Vinci tiap sore pergi ke hutan, Isaac Newtoon ilmuwan yang sibuk juga sering nongkrong di kebun apelnya.

Kalau lw bukan Dokter Bedah, Jurnalis perang atau Presiden kayaknya nggak terkoneksi internet beberapa jam nggak bakal heboh-heboh amat sih.

Kalau gue punya kafe, mungkin akan gue tempel di dindingnya, "Disini nggak ada wifi. Anggep ini tahun 1995. Dan ngobrol". Keren juga kan?

Yaa.. biar ngerasain lagi, penting lho untuk punya solitude dan secara intended nggak terkoneksi dengan informasi-informasi yang tiap detik muncul di layar HP.


Gue sendiri orang yang ada di industri teknologi, dan gue masuk kesini selain karena menyenangkan, karena gue tau bahwa ada banyak hal yang baik dan berguna dibuat disini. Yang bisa membaut hidup kita jadi lebih baik. Coba pikir deh, yang ngebedain satu generasi dengan generasi lain, keliatan mana zaman dulu dan zaman modern, itu dari teknologi lho. Progress umat manusia itu banyak banget terlihat dari apa teknologi yang kita buat.

Hanya saja disini, gue ngobrolin tentang teknologi ini dari sisi lain, bahwa yang menentukan ke arah mana teknologi ini berkembang adalah kita sendiri. Kalau kita melihat ada yang perlu diperbaiki, ya berarti kita harus mulai melakukan sesuatu.

Dan fondasi dari Digital Minimalism ini adalah bahwa teknologi baru, ketika digunakan dengan bijak dan intentional, bisa membantu kita menjalani hidup dengan lebih baik, bukan dengan Luddism atau karena mengadopsi trend ini karena ikut-ikutan aja.

Inget lho, energi yang lw keluarin karena terbawa emosi karena sesuatu di socmed itu nggak sedikit. Inilah kenapa banyak orang seharian nggak ngapa-ngapain cuman online aja seharian di socmed tapi tetep aja bisa ngeras kecapean. Karena ada energi mental yang kesedot. Mending energi ini dipake untuk hal-hal yang lebih bermanfaat seperti nyapu lantai, atau montong rumput di taman. Kan lumayan.

About the Author

Anas

Hey, I 'm Anas. I'm a software engineer, author in training, and long distance runner. JurnalAnas is an archive of my collected essays, thoughts, and notes as published here and elsewhere.

Skip the social networks and email me.