AnasJurnal Anas

Episode 1 : Apakah belajar programming perlu bakat?

Ini adalah episode dari JurnalAnas Podcast. Lihat arsip episode lainnya disini.

Listen on: Anchor, Spotify, Youtube, Apple Podcast, Google Podcast

Transcript

Anas: Di pilot episode yang bentuknya monolog ini, gue mau cerita tentang sesuatu yang empat taun terakhir ini gue lakukan, yaitu menjadi seorang software engineer atau programmer. Dan ini kebetulan juga karena beberapa waktu terakhir ini jadi bahan obrolan dengan beberapa temen gue juga, mungkin karena memang isunya lagi naik daun, industrinya sedang berkembang pesat dan dibarengi frekuensi gosip-gosipnya di pemberitaan dan media sosial juga lumayan kenceng.

Tapi yang mau gue bahas ini sebenernya buat gue pribadi sebenerny sebagai bentuk refleksi sih. Kebetulan saat ini gue juga lagi ngambil cuti sabbatical, dan sengaja untuk ngambil waktu luang ini salah satunya adalah untuk melihat apa yang sejauh ini gue lakukan. Apa yang gue pelajari, kesalahan-kesalahan apa yang gue perbuat, apa yang gue lakukan terkait itu, apa yang gue lakukan dengan pelajaran-pelajaran ini, dan harapannya gue bisa ngambil langkah selanjutnya dengan lebih siap dan tau apa yang sebenernya pengen gue capai setelah ini. Biar hidup yang dijalani ini, waktu yang dikasih porsi paling banyak sehari-sehari ini untuk bekerja dan punya karir, ini bakal lebih berarti. Bukankah itu reward yang sesungguhnya? untuk bisa menjalani hidup, yang punya arti.

Anyway, terkait dengan itu ada beberapa hal yang juga sepertinya bakal gue mention. Biar lebih gampang, disini gue mau bahas dalam tiga bagian, untuk menjawab dan ngebahas tiga pertanyaan spesifik. Tiga pertanyaan ini adalah:

  1. Bagaimana gue bisa masuk ke dunia Ilmu Komputer dan menyukai programming? masing-masing orang punya cerita sendiri tentang kenapa dia melakukan sesuatu yang lama, yang dia jadikan sebagai hobi, yang dia jadikan sebagai pekerjaan, yang dia anggap sebagai passion. Cerita gue ini ya hanya salah satunya aja sih.
  2. Terkait dengan hal ini, melihat industri IT yang keliatannya cepet dan lagi hot, membawa pada kebutuhan akan posisi software engineer ini lagi banyak juga. Salah satu efeknya nya -- yang mana bagus sekali -- adalah, munculnya berapa coding school yang mulai bermunculan. Dengan harga yang biasnaya relatif nggak ramah mahasiswa, apakah ini bakal jadi jalan yang efektif? dan apakah untuk bisa memrogram sebenernya perlu bakat atau nggak?
  3. Dan terakhir, gue baru sadar sih gue masuk kuliah pertama kali berarti 8 tahun yang lalu. Wow, nggak nyadar udah selama itu. Kalau gue bisa kembali ke masa lalu di tahun 2011, apa yang bakal gue kasih tahu ke dia -- Anas yang baru lulus SMA?

Kadang latihan menjawab pertanyaan itu penting, iya nggak sih? Setiap beberapa tahun sekali misalnya, bikin pertanyaan ke diri sendiri, tentang, apa sih yang udah dilakukan selama dua tahun terakhir ini? apa yang lo pikirkan, apa yang berubah, apa insights yang lo ambil, apa kesalahan-kesalahan terbaik yang lo lakukan saat itu, apa aja yang udah dicoba, apa yang belum, seberapa berbeda kenyataan yang ada dengan rencana lo sebelumnya. Hal-hal kayak gini selain berfaedah juga menarik sih, kadang kita nggak sadar aja bahwa lebih banyak waktu kita mengalir aja menjalani hidup dan lupa bahwa ada hal-hal berharga yang bisa jadi prinsip dari pengalaman-pengalaman di masa lalu. Atau sekedar menyadari, seberapa random sebenarnya pengalaman-pengalaman hidup ini. Ya sudah lah.


Oke, bahasan pertama adalah tentang bagaimana gue jadi seorang programmer?

Ganti kata "programmer" ini dengan pekerjaan apapun, dan tanyakan pada orang yang menyukai pekeraan itu, yang udah melakukannya dalam jangka waktu yang lama dan gue yakin lo bakal bakal dapet cerita yang menarik. Seenggaknya gue melihatnya seperti itu.

Salah satu genre buku yang gue suka baca itu adalah autobigrafi. Cerita tentang seseorang yang menceritakan pengalam hidupnya, dari kecil, dan ngegambarin dengan detail bagaimana dia memandang dunia. Bagaimana dia menghadapi masalah di sekolah, bagaimana dia mengambil keputusan hidup yang besar dan sulit, sampai bagaimana dia berubah pikiran tentang sesuatu yang nantinya akan membawa dia ke jalan hidup yang benar-benar baru.

Beberapa autobiografi yang gue suka adalah Winston Churchill, Benjamin Franklin, Richard Feynman, dan Steve Wozniak. Biar relevan dengan bahasan podcast ini, gue cerita sedikit tentang yang terakhir. Yaitu Steve Wozniak.

Buat yang belum tau siapa Steve Wozniak, doi adalah partner Steve Jobs. Yap, Steve Jobs dan Steve Wozniak ini bareng-baeng bikin Apple di waktu mereka masih muda, yang mana sebelumnya dia kerja di Hewlett-Packard (HP) mendesain kalkulator. Dari segi teknikal, Steve Wozniak ini lebih superior dari Steve Jobs sih, Wozniak ini juga yang mendesain Apple II yang legendaris.

Di buku autobigrafinya, iWoz -- yang mana sangat gue rekomendasikan untuk dibaca -- dia cerita tentang bagaimana dia sejak kecil udah tertarik dengan elektronik, mempelajari sesautu secara otodidak dan mendesain mesin apapun yang pengen dia bikin. Cerita tentang ayahnya yang juga engineer disebuah project rahasia pemerintah, dan memori dimana dia diajari macem-macem tentang teknologi sejak kecil oleh ayahnya. Yang memicu dia untuk punya rasa ingin tau di bidang ini juga semakin liar. Lebih dari seorang engineer sejati, gue ngeliat Steve Wozniak, setelah mempelajari cerita hidupnya ini, juga sebagai seorang seniman. Apa yang dia buat bener-bener beda dari standar yang banyak orang lain punya dizamannya.

Apple II yang dia buat, umurnya udah lebih dari 30 tahun sekarang, tapi kalau lw bisa menemukan komputer ini lagi, itu bakal tetap jalan. Dia pernah bilang, “And it is this reach for perfection, this striving to put everything together so perfectly in a way that no one has done before, that makes and engineer or anyone else a true artist.”

Kurang mantep apa, cuy!

anyway, kebetulan beberapa hari yang lalu gue juga baru baca artikel seseorang di Hacker News, senior engineer di Stripe yang nulis tentang perjalanan dia dari kecil, apa yang membuat dia tertarik untuk akhirnya jadi seorang pemrogram komputer. Dan kebanyakan sih gue liat kurang lebih sama.

Dimulai dari sejak kecil udah suka permainan yang berhubungan memecahkan masalah, main lego, puzzle, suka permainan-permain yang membutuhkan strategi seperti catur dan lain-lain. Lalu dari satu hal membawa dia ke satu hal yang lain. Dari satu buku ke satu buku yang lain, sampai akhirnya dia bertemu komputer. Mengenal bahasa pemgrograman. Lalu mulai menulis program sederhana. Sesederhana menulis Hello World lalu memodifikasi sedikit demi sedikit, sampai akhirnya, lambat laun, bisa menulis program ribuan baris kode yang kompleks. Dan itu membawa dia menjadikan hobi ini jadi sebuah karir.

Dari permainan, jadi hobi, lalu jadi karir. Itu kan keren. Gue nggak tau apakah banyak orang juga punya perjalanan mendalami sesuatu se-smooth itu ceritanya. Karena gue kebetulan agak berbeda. Gue bukan orang yang dari dulu suka main komputer apalagi punya komputer dari lahir.

Dulunya, gue malah bisa dibilang, benci dengan komputer.

~

Sebelum gue kerja jadi programmer di yang saat ini salah satu unicorn company, sebelum gue bikin macem-macem website dan aplikasi -- baik buat hobi ataupun lomba-- sebelum gue pernah coba olim komputer, sebelum gue coba kuliah di Ilmu Komputer itu sendiri.. dulu, Komputer adalah bidang yang gue benci, dan hal terakhir dalam pikiran untuk gue dalami.

Waktu gue SD, gue bersekolah di daerah tergolong desa di Bogor. Lalu gue melanjutkan sekolah ke SMP yang termasuk paling kompetitif di kota. gue tahu pilihan itu akan membuat gue menemukan banyak hal yang belum gue alami waktu gue SD dulu, dan jelas akan jauh lebih sulit. Jadi gue mencoba untuk meminimalisir “faktor kaget” itu dengan mencoba belajar lebih giat dan menurunkan ekpektasi di semester pertama gue bersekolah.

Ujian semester pun datang. Saat hasilnya keluar, gue bersyukur semua pelajaran dapat nilai cukup baik, walaupun gue tidak berada di urutan atas seperti saat SD dulu. Terakhir, nilai mata pelajaran TIK pun keluar: untuk ujian tulis tidak begitu ada masalah tapi ternyata untuk ujian praktik gue remedial. Terpukul tentu, tapi tidak mengapa. Sewaktu SD gue tidak ada pelajaran TIK, dan saat itu gue belum punya komputer juga. Ditambah ada lebih dari selusin teman-teman sekelas yang juga remedial. gue hanya perlu berlatih lagi sepulang sekolah.

Lalu hasil remedial pun keluar. Semuanya lulus, kecuali satu: gue. Dan dari satu angkatan, hanya dua orang yang remedial ujian praktik dua kali. Bak malam yang tiba-tiba datang dan gelap yang seketika menghampiri, hari itu gue tidak bisa tidur.

Waktu SD performa akademik adalah salah satu yang membuat gue percaya diri, dan waktu itu bahkan gue tidak begitu merasa bekerja keras, tanpa les dari luar ataupun tambahan kelas lainnya. gue hanya suka membaca, sudah cukup untuk jadi rangking 1 saat itu. Dan gue juga sudah menduga saat memilih SMP ini, semuanya akan lebih sulit dengan persaingan yang lebih kompetitif karena semua yang ada disini adalah juara di sekolah-sekolah asal mereka. gue bukannya pesimis, gue hanya tidak akan kaget kalau gue lemah di beberapa bidang.

Tapi untuk turun dari yang dulunya ada di peringkat 1 di sekolah, menjadi dua terbawah di lebih dari 300 siswa? itu seperti saat lo sedang jalan-jalan di pantai, lalu tiba-tiba ada King-Kong raksasa keluar dari dalam tanah tepat di depan kamu, mengaum keras, dan melempar ke arah lo bongkahan batu raksasa dengan tulisan “LOSER” di permukaannya. BRAK!!

Sebuah momen yang membuat gue syok, dan percaya diri gue turun ke titik paling rendah.

Setelah itu hari-hari tidak sama lagi. Inferiority complex mulai muncul dalam diri. gue bukan hanya merasa tidak berbakat di bidang komputer, gue juga membencinya karena itu yang membuat gue lemah, padahal kelihatannya gue tidak kurang berlatih dibanding teman-teman gue yang lain. gue akan menjauh dan mencoba memfokuskan diri untuk tumbuh di bidang lainnya.

Masalahnya, laboraturium komputer di sekolah gue saat itu tepat berada di pintu gerbang masuk sekolah. Ruangan pertama selain kantor guru yang pasti gue lewati setiap hari. Dan itu artinya setiap hari pula, gue melihat ruangan horror itu dan membiarkan dia mengingatkan gue betapa payahnya diri gue.

Percayalah, itu perasaan yang tidak menyenangkan.

Sampai akhirnya suatu pagi saat melewati lab komputer itu untuk ke sekian kalinya, dan memutuskan untuk bilang, “cukup sampai disini”. gue sadari kalau gue memutuskan masuk sekolah ini lalu menyerah saat pertama kali jatuh, itu artinya gue tidak tumbuh. Tidak berbeda dengan diri gue yang dulu, gue tidak akan belajar apapun dari situasi ini.

Gue harus menerima kenyataan yang ada, dan berbuat sesuatu tentang itu, bukan menghindar.

Sejak hari itu, setiap pulang gue gue ke perpustakaan. Mencoba belajar lebih banyak tentang komputer. Dan tentu itu hal yang lucu karena yang gue lakukan belajar tentang teori-teori dari buku saja dan berpikir semuanya akan lebih baik hanya dengan melakukan itu. Bukannya langsung ada di depan komputer dan bereksperimen sebanyak mungkin yang bisa gue lakukan. Tapi waktu itu gue masih lugu, tidak tahu apa-apa tentang komputer dan harus berlatih seperti apa. Gue hanya tau bahwa gue senang membaca buku dan melihat itu sebagai satu-satunya cara.

Apakah semuanya berjalan lancar setelah itu? tidak. Gue masih frustasi dan merasa tidak mengalami perkembangan apapun.

Ya, gue jadi tahu sedikit lebih banyak tentang bagaimana benda-benda dalam komputer bekerja, dan bagaimana internet bisa ada, juga sejarah orang-orang penting di dalamnya. Tapi praktiknya, gue masih tidak tahu apa-apa. Gue masih gagap teknologi saat benar-benar duduk di depan komputer.

Sampai akhirnya sepulang sekolah gue datangi salah satu teman gue yang nilai TIK-nya paling tinggi, dan minta tolong untuk dia ajari. Dia bilang iya, dan mengajak gue ke rumahnya. Dia memperlihatkan gue — mungkin tanpa dia sadari — tentang apa yang belum gue tau dan apa yang harus dilakukan kalau itu nantinya itu terjadi lagi. Bukan hanya itu, dia juga membuat gue suka untuk berekplorasi lebih dalam, dengan tangan gue sendiri, dengan pengetahuan yang saat itu sudah gue punya.

Hari-hari setelah itu gue seperti Terminator, atau seperti anak kecil yang baru dibelikan mainan baru. Sepanjang hari pikiran gue penuh dengan apa yang mau gue lakukan ketika sepulang sekolah dan ke lab komputer. Waktu istirahat gue gunakan ke lab komputer, begitu juga sepulang sekolah, sampai gue diusir karena pintunya mau ditutup. Lalu gue pindah ke komputer perpustakaan, juga sampai pulang bareng dengan penjaga perpustakaannya. Lalu gue sempatkan ke warnet, sampai langit menggelap, dan uang jajan gue habis untuk bisa membayar jam sewa.

Gue bermain dengan semua program yang ter-install di komputer. Sedikit demi sedikit gue mulai menyentuh program-program konsol, mulai berkenalan dengan HTML, membuat blog, mencoba Geocities, juga membuat website sendiri.

Di ujian praktik dan teori TIK di semester kedua, gue termasuk dengan nilai paling tinggi dan membuat beberapa teman — yang tahu betapa buruknya gue di bidang itu sebelumnya — kaget. Tapi nilai akademik itu jadi tidak penting lagi buat gue, karena gue punya lebih banyak hal untuk dipikirkan, hal-hal yang ingin gue lakukan di lab komputer setelah bel pulang berbunyi nanti.

Dari satu hal beranjak ke hal lainnya, ketertarikan gue dalam bidang komputer belum jelas punya arah kemana. gue hanya tahu kalau itu menyenangkan. Satu hari gue bisa seharian mencoba install Wordpress dan mencoba sedikit demi sedikit belajar PHP, dan minggu depannya tiba-tiba gue belajar video editing.

Gue bertemu beberapa teman yang juga computer nerd, dan melakukan banyak hal bareng. Membuat beberapa website di waktu luang, dan sesekali merilis perangkat lunak kecil. Tahun pertama dan kedua SMA gue sempat merilis dua website dan membangun perusahaan teknologi Startup dari sana. Pada akhirnya keduanya gagal, dan gue move on melakukan hal lainnya. Tapi walau begitu keduanya pernah menghasilkan, mendapat sedikit publisitas dan popularitas, yang cukup untuk membuat gue terpikiran untuk Drop Out dari sekolah, tidak berencana kuliah, dan fokus melanjutkan apa yang gue mulai. Dan percakapan tentang itu dengan orang tua benar-benar terjadi, saat itu gue kelas XI SMA.

Gue berubah pikiran di kelas XII SMA, dan mengambil jurusan Ilmu Komputer. Di tahun terakhir kuliah, gue diundang ke sebuah makan malam, dan saat ini gue masih bergabung di perusahaan mereka.

Sampai sekarang, teman SMP gue dulu mungkin hanya menganggap siang hari 12 tahun yang lalu, yang terjadi hanyalah mengajak main temannya ke rumah dan selama satu jam bermain komputer. Tapi yang terjadi lebih dari itu, dia menjadi pemicu yang membuat gue akhirnya menyukai bidang ini dan efeknya punya andil sampai gue ada di dalam industri ini sekarang. Pelajaran berharga tentang bertanya dan meminta bantuan saat lo benar-benar membutuhkannya.

Dan pelajaran yang gue ambil sendiri dari sini, yang jadi reminder buat gue adalah, Apapun yang penting, yang punya arti, membuat lo penasaran, atau yang membuat lo bahagia adalah sesuatu yang layak untuk lo coba. Tidak peduli peluang berhasilnya besar atau kecil, tidak peduli lo berbakat atau tidak.

Gue menganggap coding ini sebagai salah satu hobi aja sih, selain gue juga suka nulis dan beberapa hal lain. Kebetulan jadi programmer ini yang sekarang bisa menopang hidup gue. Itu aja. Definisi bahwa gue bekerja sebagai software engineer ya karena itu yang gue lakukan sekarang secara professional. Itu aja.

Tapi esensinya, apa yang gue lakukan saat melakukan pekerjaan ini, sebenernya saling berkaitan dengan hal-hal lain yang gue suka lakukan. Hal-hal yang gue nggak tau nantinya akan membawa gue kemana. Yang mungkin nantinya akan membuat gue melakukan sesautu yang beda, atau membuat sesuatu yang benar-benar baru dari situ. Gue nggak tau.

Sama seperti podcast ini. Gue nggak tau seberapa lama gue akan bertahan melakukan ini, dan nggak tau juga apa yang akan terjadi setelah ini. Yang gue tau adalah saat ini, gue pengen coba bikin sesuatu dengan media yang lain, selain tulisan. Media yang dimana disitu bisa ngobrol dengan cara yang berbeda.

Dan itulah mengapa gue menggagap programming bukan sebagai, apa ya, pekerjaan formal. Gue melihat programming ini sebagai sebuah tool, yang memungkinkan gue untuk bisa bikin apapun yang gue mau, mesin perangkat lunak yang bisa menyelesaikan masalah, dengan nggak perlu punya pabrik dan mesin-mesin segede rumah yang di industri engineering lain perlukan.


Dulu beda dengan sekarang. Dulu paradigma programmer dibayar murah dan hidup dan punya gaya hidup mengenaskan dan nggak sehat, sekarang lambat laun mulai berubah. Walau pada kenyataanya mungkin masih banyak terjadi. Tapi seenggaknya sedikit demi sedikit citra ini pudar. Malah sekarang media banyak memperlihatkan betapa menarik dan uniknya kerja sebagai software engineer di startup dan perusahaan teknologi saat ini.

Jam kerja lebih fleksible dan kerja remote dari mana-mana, kantor ada tempat bilyar dan bom-bom car-nya, makannya gratis, dan benefitnya kompetitif karena memang pertumbuhan industrinya juga lagi cepet banget.

dan salah satu karakteristik dari industri IT ini memang itu sih, pertumbuhannya yang cepet. Ini bisa jadi hal yang menarik, sekaligus juga menantang. Karena industri IT ini kalau kita liat dari sudut pandang yang lebih luas, dan bandingin dengan bidang-bidang lain, bidang komputer ini tergolong muda. masih bayi malah. mulai berkembang di tahun 40 atau 50-an, dan mulai tumbuh di tahun 70-an. Rentangnya sampai ke hari ini di tahun 2019, itu masih muda. Dibanding dengan misalnya industri otomotif, cara membuat mobil itu udah dipelajari dan didalami oleh orang jauh lebih lama dari komputer yang masih punch card, IBM 80-column punch card itu dibikin taun 1920-an. Mobil udah dibuat sejak taun 1800-an. Perkembangan cara membuatnya, dan bagaimana membangun organisasi dan perusahaan untuk membuat kinerjanya efektif juga beda gapnya.

Makanya selain dari banyaknya hal baru yang dibuat, di dunia IT juga metode kerja dalam organisasinya pun masih sering ada perubahan. adanya agile dan Scrum adalah salah satu dari hasil perubahan mempelajari cara engineer software ini.

Efeknya adalah orang sulit memprediksi juga teknologi IT seperti apa yang nantinya akan digunakan dan populer. Dulu nggak ada yang tau bahwa internet ini akan jadi sebuah universe sendiri seperti yang ada sekarang, delapan tahun lalu nggak ada yang nyangka smartphone benar-benar akan banyak dipake, dan sekarang tren yang sedang ramai adalah AI. Entah apa hal baru yang muncul 5 tahun lagi, tapi industri ini berkembang cepat.

Itu salah satu gambaran aja sih buat kalian yang pengen masuk ke industri IT.

Nah, terus gimana nih dengan fenomena ada banyak orang yang ganti karir jadi software engineer sampai ada banyak sekolah coding? Menurut gue sih, yaa.. bagus lah. Malah gue pikir harusnya ngoding itu jadi mata pelajaran wajib di SMA atau SMP sih jaman sekarang mah.

Gue pernah ngobrol ini dengan beberapa temen yang kebetulan ada temennya yang mau banting setir, ganti kerjaan, dan belajar ke sekolah koding. Tapi masih galau. Galau karena biayanya relatif gede, 30jt-an keatas, dan dia masih ragu punya bakat atau nggak.

Oke, mari kita bahas satu-satu.

Pertama, apakah bayar 30jt keatas itu layak untuk belajar programming, mempertimbangkan trend industri saat ini? kalau memang sekolahnya bagus, kurikulumnya jelas, instrukturnya kompeten, lonya juga punya motivasi yang kuat dan environtment-nya disana mendukung buat lo tumbuh.. maka, ya, investasiin uang segitu dan waktu 1-3 bulan menurut gue layak dicoba.

Tapi pastiin dulu, lo serius benar-benar mau ngelakuin ini nggak? parameter orang bisa dibilang serius ini buat gue adalah, kalau dalam sehari dia bisa meluangkan waktu minimal 3 jam tanpa interupsi untuk hal yang dia pelajari, selama 6 hari berturut-turut. Kalau lw punya komitmen dalam level segitu, maka gue yakin lw akan baik-baik aja selama belajar pemrograman walaupun nggak punya pengalaman ngoding sebelumnya.

Gue sebenernya baru tahu sekolah koding lokal itu baru-baru ini sih, Hacktiv8, Purwadhika startup school, sepertinya salah dua yang jadi pilihan banyak orang. Sebelumnya yang gue tau it Lambdaschool, itu juga juga sekolah coding di US yang lulusannya bisa dijamin bakal dapet kerja dengan minimal sekian nominal gaji. Dan memang kurikulumnya bagus sih.

Entah kenapa kebanyakan kurikulum sekolah koding ini mayoritas atau seenggaknya yang populer itu track untuk jadi web developer, frontend developer, dan javascript engineer. Mungkin salah satu bahasa pemgrograman yang memang lagi banyak demand-nya javascript kali ya, atau bisa jadi memang supply dari instrukturnya yang mayoritas adalah javascript engineer.

Dan kurikulumnya juga bisa jadi panduan kalau mau belajar sendiri. Biasanya dimulai dari belajar fondasinya seperti HTML, CSS, Javascript, dan prisip2 UI. Lalu belajar Web Development pake React, Redux, Vue, dan beberapa teknik terkait. Setelah itu belajar badian Back-end developmentnya kayak Node.js, Express, SQl, dan Autentikasi. Lalu belajar Struktur data dan algortme, dan yang ideal biasanya ada materi Arsitektur komputer juga, seperti OS, Networking, Hast Tables, gitu2 lah.

Lalu pertanyaannya adalah.. kalau lw masih mahasiswa atau baru lulus, yang sabun aja kalau mau abis dikasih air biar lebih awet.. gimana caranya bisa belajar di sekolah koding? yang bisa tergolong mahal ini?

Mungkin sambil nambung juga, Saran gue sih, tes diri sendiri dulu. Ini justru memang yang gue rekomendasiin. Ada banyak course online atau ebook online yang bisa lo baca dan berkualitas. Yang gue sarankan baca untuk pemula adalah buku Eloquent Javascript (Marijn Haverbeke), gratis dibaca online. Coba pelajari itu, abisin weekend lo untuk menyerap sebanyak mungkin yang ada di buku itu. Dan saat ada baris kode, jangan cuma dibaca. Diketik, dan coba dijalanin langsung. Lebih bagus lagi kalau ngetiknya itu tanpa liat buku.

Buku Eloquent Javascript menurut gue udah ngasih fondasi yang cukup untuk membuat lo berbuat banyak. Dari mulai bikin program javascript, jalanin website yang lo buat di node.js, dan yang paling penting adalah ngajarin lo dasar-dasar programming dan bagaimana sebuah website itu bekerja. Topik-topik agak low level seperti paham akan HTTP protocol, yang mana diajarin di buku itu, adalah hal yang penting yang sayangnya kayaknya nggak banyak dipelajari orang yang nggak kuliah ilmu komputer.

Kalau udah baca buku itu, lo akan punya dua pilihan nanti: pertama, masuk coding school dengan pengetahuan yang udah cukup matang, jadi lo bisa lebih fokus dan menggunakan waktu saat belajar lo nanti benar-benar untuk berlatih, mengasah, dan menambah pengetahun yang belum lo punya. lo bisa jadi lebih produktif menggunakan waktu selama di inkubasi belajar koding nanti. Atau opsi kedua, lo akan punya percaya diri bahwa lo bisa kok belajar dan membuat program javascript sendiri, lo dapet komunitas di reddit, lo udah terbiasa browsing stackoverflow atau website github, dan lo tau apa yang lo mau lakukan setelah itu yang pada akhirnya lo bisa belajar koding secara ototidak. Dan bisa tetap bersaing dengan mereka yang belajar coding di tempat kursus atau bahkan bangku kuliah. Serius.


Nah terakhir, Kalau gue bisa kembali ke masa lalu di tahun 2011, apa yang bakal gue kasih tahu ke dia -- Anas yang baru lulus SMA?

Mungkin gue akan bilang dua hal aja sih, pertama bahwa apa yang gue khawatirkan dan sering kali digambarkan imajinasi gue berlebihan itu.. biasanya nggak terjadi. Dan kayaknya kita memang lebih sering tersiksa karena imajinasi kita sendiri sih, bukan karena kenyataan yang ada. Di dunia nyatanya mah sebenernya nggak gede-gede amat masalahnya, tapi pikiran yang lalai kadang bikin bikin seakan jalan keluar ini sulit. Padahal ada. Dan banyak. Relax aja, santai bro.

Dan yang kedua yang mau gue kasih tau ke gue saat itu, adalah terkait dengan belajar sesuatu atau mencoba apapun yang baru, nggak ada batas kecepatannya. There is no speed limit. Kalau lw merasa bisa melahap hal-hal esensial dalam belajar sesuatu yang baru dalam 3 bulan aja, sementara di sekolah butuh satu tahun, pakai standar yang lw buat aja. Standar umum itu dibuat untuk kepentingan umum. Sekolah SD dibuat 6 tahun biar semua siswanya, yang rata-rata, asal nggak badung-badung amat pun bisa lulus. Bisa selesai dalam 6 tahun. Sekolah musik yang kurikulumnya 4 tahun, siapa tau bisa lw jalani lebih cepat kalau memang ada usaha. Belajar sendiri atau minta diajarin mentor selama 3 minggu, biar nanti tes di sekolah musik bisa skip 6 bulan misalnya. Itu kan hemat, bukan hanya biaya, tapi juga waktu.

Termasuk belajar programming. Ada yang pake cara sekolah pemrograman, ada yang karena keterbatasan biaya hanya belajar sendiri, dan proaktif mencari tempat sendiri untuk tumbuh, nggak ada yang salah. Dengan resources berkualitas yang melimpah dan gratis seperti sekarang, yang jadi penghalang orang untuk nggak belajar sesuatu cuman satu sih, keinginan untuk belajar.

Dan saat belajar itu, buat standar yang lebih ketat buat diri lw sendiri. Biar hidup nggak terus diisi dengan bercanda.

About the Author

Anas

Hey, I 'm Anas. I'm a software engineer, author in training, and long distance runner. JurnalAnas is an archive of my collected essays, thoughts, and notes as published here and elsewhere.

Skip the social networks and email me.