AMA #1: Lari Marathon, Quarter Life Crisis, Dream Job, Dan Lain-lain.

Sekitar dua minggu lalu saya membuat halaman AMA (ask me anything) yang semi-anonim. Rencananya pertanyaan-pertanyaan ini akan direview berkala setiap minggu-nya dan nanti dijawab dalam satu artikel sendiri, mungkin bisa dikelompokkan dalam tema tertentu juga kalau cocok. Nah, artikel ini adalah hasil pertama dari kumpulan jawaban dari pertnyaan yang ada.

Dan.. Kebetulan beberapa waktu lalu saya juga sempat sharing di grup whatsapp teman-teman SMA yang formatnya tanya jawab juga. Saya ambil beberapa tanya jawab yang agak berfaedah dari sana juga. Oh ya di bagian ini saya pakai kata ganti “gw” bukan “saya”, karena aneh juga ngebayangin ngobrol sama temen SMA pake kata ganti “saya” haha.

Oh ya, tanya jawab di whatsapp group SMA ini di-moderatori oleh temen saya bernama Zego, co-founder Cozora.com, sebuah startup platform kelas online indonesia. He’s a cool guy, you should definitely check him out.

Zego: Yang akan sharing malam ini adalah Anas 👏🏻👏🏻 jadi gw akan jadi moderator. Formatnya kasual aja ya, ga usah pake jas, ga kelihatan juga karena pake chat aja. Yang mau nanya ke Anas, silakan japri gw pertanyaannya ya kita batasin waktunya 45 menit.

Digun: Gw pertanyaan pertama, nas gimana caranya persiapan lari maraton 

Pertama, gw sebenernya belum pernah lari marathon kok, walau memang menuju kesana. Jarak terjauh gw lari itu half marathon plus plus, 25 km kalau nggak salah. Persiapannya? Gw sih membiasakan untuk lari rutin aja. Karena kalau terlalu banyak hari libur lari, performa tubuh lw untuk bisa ada dititik maksimum butuh waktu penyesuaian lagi, seperti layaknya energi aktivasi bekerja.

Tubuh kita diumur 20-an ini kayak karet. Kalau kita konsisten untuk melewati batas kemampuan, asal rutin latihan, titik batas ini akan jadi “zona nyaman” yang baru, dan tubuh lw bakal siap untuk mencapai titik yang lebih menantang lagi.

Dan kalau memang targetnya jarak sejauh mungkin, atau kalau lw masih mulai lari, nggak usah mikirin pace-nya. Fokus untuk bisa selama mungkin berlari aja. Awal gw lari juga karena memang senang-senang aja, tapi makin lama makin adiktif. Dan setiap kali gw berlari lebih jauh, ada sebuah perasaan yg sulit digambarkan yang membuat gw pengen ngerasain itu lagi dan lagi.

Zego: Nas, apa nih next goal yang lagi dikejar sekarang?

Sedikit perspektif dulu ya. Jujur gw sekarang agak berubah dalam hal pola pikir untuk mencapai sebuah cita-cita besar di masa depan. Gue hanya punya list sederhana isinya hal-hal menantang apa yang bisa gw selesaikan dalam rentang waktu tertentu kedepan. Mungkin efeknya gak langsung besar dan “mengubah dunia”, tapi kalau gw bisa menyelesaikan hal yang lebih sederhana ini dengan baik, mungkin compound interest yg bakal menjawab apakah yang sedang gw lakukan ini akan membuka jalan gw memberi impact yg lebih besar atau nggak.

Sama halnya dengan sekarang gw gak suka dgn makroekonomi dan suka dengan mikroekonomi, gw gak percaya dengan gerakan macro-environment tapi mendukung semangat micro-environment. Dan gw anggep langkah-langkah selanjutnya ini selayaknya bets seorang investor yang baik akan lakukan. Beberapa hal yg work in progress di list itu adalah:

  • Jadi speaker keliling dunia untuk sharing riset-riset gw
  • Nulis buku
  • Lari marathon

Zego: Waah, menarik, sebenarnya mau nanya kenapa pola pikirnya berubah. Tapi gw sudah dapat pertanyaan dari yg lain.

Pertanyaan dari digun: Rencananya mau berapa lama kerja di bukalapak?

Sampai gw berubah pikiran (lho). Atasan gw pernah nanya ini sih, dan gw bilang dengan jujur gw most likely gak akan “selamanya” disini (bukalapak) karena cita2 gw adalah untuk independen, dan membuat mesin kreatifitas sendiri (eg: Perusahan). Sambil bisa bereksperimen dengan berbagai macam lifestyle. Tapi tetep, gw merasa masih banyak yg mau gw pelajari disini, dan gue menikmati proses ini.

Dan yang jelas, bukalapak udah baik banget dan ngebuka peluang yg lebar untuk gw belajar banyak dari orang-orang yg top di bidangnya disini.

Zego: Waduh, pertanyaan2 yang gw dapatkan ini agak melenceng dari tujuan #sharingfaedah nih. Banyak pertanyaan masalah jodohnya ini.

:’)

Ndu: Nyela dikit, yang nanya di-anonimkan aja

Zego: Oke..

Zego: Gimana sih caranya seorang Anas planning (mungkin pakai apps atau pakai buku notes) 😅 dan supaya tetap on track dengan goals dalam hidup

Gw sebenernya juga masih buruk soal hal ini hha. Gw eksperimen berbagai macam hal.. Actually, I own a truly embarrassing number of empty notebooks that I bought in an optimistic fantasy of re-invention 😂

Zego: Interesting, jadi apa yg works buat lu nas?

Workflow yg sekarang gw pake: Evernote -> google docs. Untuk nulis gw pake aplikasi Ulysses. Untuk to-do list gue pake Things, dan untuk planning project-project spesifik pake Trello.

Untuk tiap dedicated project gw punya file gdocs-nya untuk journalling progress dan ide, klo projectnya gede banget dan jangka panjang itu jadi folder tersendiri dan ada trello board-nya.

Root folder di google drivenya simple:

  • File: Braindump.gdoc
  • folder: In progress
  • folder: On hold
  • folder: Archive

Oh ya gw juga punya buku catatan fisik ”Daily Logbook” yg gw isi tiap pagi hari, untuk arsipin apa aja yg gw lakukan kemarin.

Zego: Ini yg ditulis apa nas? Bisa kasih contoh?

Untuk Logbook simple kok, hal2 yg gw temui/dapatkan, yg gw anggep menarik.. Apapun. Bisa jadi isinya kumpulan list gw lakukan di kerjaan kemarin, puisi bagus yg gw baca, ide-ide yg gw pikirin.. Sampai gambar gajah yg gw coba buat saat di bus Transjakarta dan somehow itu layak gw abadikan wkwk.

Fantasi gw adalah di umur 40/50 tahun nanti, klo gw mau bikin autobiografi gw udah punya banyak bahan, lengkap dengan tanggalnya hha.

Zego: Pertanyaan lagi nas, Apa yang membuat Anas jadi senang lari marathon? Selama ke Jepang kemarin, ada hal yang menyentuh hati lu, menggerakkan lu, atau menyadarkan lu kah? Atau mungkin yg layak di share buat kami. Kalo ada, apa itu?

Ini sebenernya jatuh bangun sih, karena prosesnya berawal dari agustus taun lalu, dan gw masih cupu. Tiga kilometer aja udah ngos-ngosan. How did this happen? 

Well, gw terinspirasi oleh kebiasaan lari Haruki Murakami dan Casey Neistat. Dan kalau gue liat, top performer kelas dunia, walau sibuk banget pasti nyediain waktu buat olahraga, karena tubuh itu sendiri adalah aset terpenting mereka untuk bisa maju.

Lalu gw cobalah berlari.. Dan ternyata proses berlari itu selain menyehatkan badan, juga menyehatkan pikiran dan meditatif. Banyak hal yg gw pikirkan dan renungkan juga saat berlari, dan membuat gw memutuskan banyak hal gila yg selanjutnya gw lakukan. Salah satunya ke Jepang sendiri untuk bertemu orang yang baru pertama kali gw temui waktu di JS Conf Asia di Singapore di januari kemarin. Di Jepang waktu itu seminggu. Sebenernya ada kisah lebih panjang lagi sih disana.. Tapi mungkin cerita untuk lain waktu :)

Zego: Ayolah ketemuan nas, cerita2 lagi yg lebih deep.

Nas, last question. Kebanyakan dari kita sekarang lagi merasakan quarter life crisis. Bentuknya macam2, mulai dari masalah sulit dapet jodoh, rasa bingung mau kerja apa, merasa tertinggal dari orang lain (si x kok gaji udah sekian, si y kok udah ke luar negeri kemana2, dll), merasa banyak gagalnya. Mungkin juga lu merasakan sebagian.  Yg lu lakukan supaya bisa menghadapi crisis itu apa aja sih nas?_

Ini memang pertanyaan penting nih, dan jawabannya bakal agak panjang.. Proceed?

Zego: Proceed 👍🏻

Kebanyakan orang suka banding-bandingin kehidupan dari dalam diri dengan cangkangnya orang lain. Pengen se-tampan si itu, pengen sepinter si anu, pengen se-prestatif si x, pengen sekaya si b misalnya. Tanpa mikirin, bahwa dia nggak boleh cherry pick bagusnya aja dong. Lw mau nggak semua problem hidup dia juga lw alami, mungkin dia punya hubungan keluarga yg gak sehat, apakah lw mau itu? Klo lw mau iri dengan seseorang.. Harus iri sekalian satu paket sama semua masalah hidup dia (yang pastinya gak akan diposting di social media). Mau nggak?

Kalau mikir itu, gw merasa nggak mau jadi orang lain. Gw udah sangat bersyukur dengan semua yang gw miliki saat ini.

Pertama itu.

Kedua, semua bunga itu indah dengan caranya masing-masing kan? Lw nggak bisa maksa satu bunga harus bermekaran di musim yang sama, dan menilai satu bunga lebih indah dari yang lainnya. Semua bunga indah, dan begitu juga diri lw. Kalau merasa belum saatnya itu datang, memang waktu lw untuk bermekar aja yang belum dateng.. Lakukan yang terbaik yang lw punya sekarang, dan berikan diri lw di masa depan hadiah yang terindah.

Kalau hidup lw 80 tahun, dan di-konvert dalam skala 24 jam, umur lw yang 20-an tahun ini tahun itu ada di angka jam 6 pagi. Masih pagi banget. Orang kerja juga belum pada berangkat. Yakin lw mau ngecap diri lw gagal dan cupu, bahwa satu hari lw itu buruk, di jam 6 pagii? Nggak kan? So, tenang aja, lw masih punya banyak waktu untuk merapikan hidup lw dan berubah total dengan jauh lebih baik. Dan akan punya hari bermekar yang indah..

Gw sendiri jelas jauuuh lebih banyak gagalnya dari pada suksesnya. Gw pernah membuat keputusan buruk, pernah juga membuat mengambil pilihan bodoh. Nggak apa-apa, itu bagian dari hidup. Justru itu yang membuat hidup lw nggak hambar. Ada rasanya. Kejadian-kejadian itu juga yang membuat gue tumbuh, berubah, berevolusi. Gue rasa salah satu hal terbaik yang lw punya sebagai manusia adalah kemampuan untuk berevolusi itu, itu juga yang membuat cerita perjuangan hidup seseorang selalu menarik untuk dipelajari.

Yang penting lw harus melakukan sesuatu, dan belajar dari sana. Itu aja. Lakukan hal yang berbeda, ukur apa yang salah dari keputusan lw di masa lalu. Buat strategi dan langkah hidup yang harapannya bisa membuat lw lebih baik.

Embrace the reality and deal with it, or you’ll suffer. Oh ya, satu lagi tentang bahagia.

I believe that happiness is, it’s really a default state. 

Happiness is what’s there when you remove the sense that something is missing in your life. We are highly judgmental, survival, and replication machines. We are constantly walking around thinking I need this, I need that, trapped in the web of desires. Happiness is that state when nothing is missing..

Itulah kenapa bahagia menurut gw bukan sebuah state yang diberikan saat lw mendapatkan sesuatu. Bahagia itu kata kerja, sebuah skill yang bisa dilatih dan diajarkan.. Dan yang mencarinya.. Akan kelelahan memanjat sampai satu saat dia menyadari sudah menaiki tangga yang salah.

Zego: Yosh, terima kasih nas #sharingfaedah nya malam ini. Sangat menginspirasi! Semoga sharing lu dinilai sebagai kebaikan di sisi Allah ya, aamiin.

Aamiin..


Selanjutnya saya akan jawab kumpulan pertanyaan dari seseorang yang bernama Ti ([email protected]) (di isian form namanya emang ini).

Pertanyaannya adalah:

Apa pendapat kakak tentang morning ritual dan apakah kakak menerapkan hal itu? Gimana cara kakak konsisten dalam mengerjakan proyek pribadi? Gimana cara kakak mengatur keuangan dan menurut kakak investasi apa yang paling pas untuk anak muda berusia dua puluh tahun awal? Apa pendapat kakak tentang pekerjaan itu harus sesuai passion? Apa dream job versi kakak? Dari sekian banyak buku yang kakak baca, buku apa yang paling berkesan dan istilahnya mengubah hidup kakak? P.S: Selalu suka dengan tulisan-tulisan kakak sejak sma. P.S.S: Maaf pertanyaannya banyak kak.

Terimakasih Ti, sudah baca tulisan-tulisan saya dari waktu SMA :). Oke, saya jawab satu-satu ya.

Apa pendapat kakak tentang morning ritual dan apakah kakak menerapkan hal itu? 

Ya, saya punya morning ritual, tapi nggak terlalu menganggapnya sebagai “kewajiban” yang kalau dilanggar membuat saya kecewa. Jadi kalau ada hari yang bolong-bolong ya nggak apa-apa, tinggal coba lagi besoknya.

Morning ritual saya kira-kira begini:

  • Bangun jam 4 am pagi (untuk melakukan ini saya harus udah tidur jam 10 pm), dan showering. Yes, you read that right. I shower at 4 am :). Solat sebentar, lalu
  • nulis Morning Journal, ini freewriting yang artinya saya nggak mikir apa-apa hanya menulis apapun yang ada dipikiran saya saat itu, minimal 750 kata (3 halaman).
  • Sebelum dan setelah sholat subuh, melakukan_deep work_ ngerjain sesuatu selama kurang lebih dua jam. Setelah itu,
  • Lari pagi. Sepulang itu, mandi lagi.
  • Sisa harinya diisi dengan melakukan apa yang mau saya lakukan hari itu.

Saya pikir punya morning routine ini penting, karena dengan itu kita jadi bisa membuat bagian pagi hari kita produktif secara autopilot, tanpa harus berpikir mau melakukan apa. Karena proses melamun dan merencanakan membutuhkan energi yang nggak sedikit di otak lho.

Akan lebih efisien kalau performa otak dan will power ini dipake untuk kegiatan yang memang membutuhkan fokus pikiran atau kreatifitas, dibanding berpikir lama membuat rencana yang pada akhirnya eh nggak dikerjain juga :’).

Gimana cara kakak konsisten dalam mengerjakan proyek pribadi?

Simpen jadwal ngerjainnya di google calendar, terus kasih reminder.

Gimana cara kakak mengatur keuangan dan menurut kakak investasi apa yang paling pas untuk anak muda berusia dua puluh tahun awal?

Saya sempet belajar tentang investasi dan beberapa area seperti saham, properti, dan lain-lain. Lalu saya berubah pikiran, dan hanya berinvestasi dalam bentuk emas saja, untuk kepentingan jangka panjang.

Saya menyadari kalau memang saya mau membuat keputusan untuk investasi dalam satu produk atau area tertentu, saya harus melakukan riset mendalam. Saya mau coba meniru gaya investasi-nya Warren Buffet, dengan menganalisa sebaik dan sedalam mungkin, sebelum akhirnya membuat keputusan untuk invest dalam skala besar untuk jangka waktu yang lama. Dan ini butuh waktu, mungkin beberapa minggu khusus untuk melakukan riset ini dengan serius, sementara saya sendiri masih umur 20-an.

Di umur-umur ini, investasi terbaik yang kamu punya adalah waktu. Investasi terbaik kamu adalah ilmu pengetahuan, juga melakukan banyak hal yang membuat kamu belajar sebanyak mungkin, secepat mungkin, dan mendapatkan pengalaman-pengalaman berharga. Jadi itulah investasi yang saya fokuskan.

Karena pola pikir ini juga, ada beberapa hal yang sebelumnya saya anggap konsumtif semata jadi saya nggap sebagai investasi. Seperti buku yang bagus (seperti “Principles” karya Ray Dalio yang harganya sampe Rp 500rb), atau course yang memang berkualitas.

Peganturan keuangan saya juga sederhana, hanya mencatat track total saldo, dari bulan kebulan, dan memastikan pengeluarannya tidak melewati batas threshold.

Apa pendapat kakak tentang pekerjaan itu harus sesuai passion? Apa dream job versi kakak?

Passion itu dibangun, bukan diterima. Orang yang bekerja kasar pun kalau memang dia on track dengan rencana lebih besar, bisa jadi lebih menyenangkan untuk dilakukan. Misalnya ada orang yang pengen jadi musisi, dan cuci piring di restoran itu untuk membiayai dia ke sekolah musik dan latihan menulis lagu. Saya rasa orang itu lebih bahagia dibanding karyawan kantoran yang bisa duduk nyaman seharian tapi tidak ada semangat untuk tumbuh dan berkarya.

Buku yang bagus tentang ini adalah “So Good They Can’s Ignore You” karya Cal Newport. Kalau mau sedikit perspektif tambahan bisa baca jawaban saya di quora.

Tentang dream job, mungkin mirip-mirip career plan juga ya.. yang mana saya nggak punya sih.

Yap saya nggak punya career plan yang benar-benar runut dan pasti. Yang saya punya hanya sebuah list apa yang mau saya lakukan dalam hidup dan deadline untuk itu. Kalau poin list itu selesai, saya lanjut mengerjakan atau meraih goal selanjutnya.

List ini mungkin bisa berubah juga dalam beberapa tahun, nggak apa-apa. List terdekat saya saat ini:

  • Menulis buku sendiri tentang topik2 yang selama ini saya suka,
  • Keliling dunia sambil share riset-riset pribadi saya ke banyak orang,
  • Tinggal di Boston (US) selama beberapa tahun, belajar dengan entrepreneur sebanyak mungkin disana (mungkin nanti pindah juga ke East Coast karena ada SF disana),
  • ikut NYC Marathon,
  • Membangun dream team untuk membuat “mesin kreatifitas” saya sendiri nantinya.

Well, siapa tau di umur 40an saya berubah pikiran dan pengen jadi presiden, mungkin aja. Tapi kecil kemungkinan sih saya bakal terjun ke politik hehe.

Dari sekian banyak buku yang kakak baca, buku apa yang paling berkesan dan istilahnya mengubah hidup kakak?

Ini pertanyaan sulit sih, karena banyak juga buku yang bagus. Lengkapnya bisa kamu lihat di profil goodreads saya dan lihat yang ratingnya 5.

Beberapa buku yang cukup membuat saya banyak berubah adalah “Mastery” karya Robert Green, “Deep Work” karya Cal Newport, dan “Poor Charlie’s Almanack” oleh Charles T. Munger (sahabatnya Warren Buffet).


Baiklah sekian untuk write-up AMA edisi perdana ini, maaf nggak belum bisa jawab semuanya (ini juga udah panjang kan, hhe). Maaf juga saya nggak bisa jawab semua jenis pertanyaan yang masuk karena ada beberapa pertanyaan sangat personal dan berdasar gosip (salah lagi, berarti fitnah dong, Hayolo), yang baiknya nggak dijawab ke publik. Apalagi pertanyaannya dari orang random yang saya nggak kenal dengan atau tanpa email asli.

Saya nggak masalah dengan adanya pertanyaan-pertanyaan ini, mungkin karena mereka pengen tau aja. Tapi pertanyaan-pertanyaan ini baiknya ya nanyanya langsung aja, kan udah ada teknologi seperti email pribadi, chat, atau telepon.

Okay, kasih pertanyaan kamu disini kalau memang ada yang mau ditanya dan mau saya jawab selanjutnya. Tapi yang sopan ya..

Thanks :D