Informasi, Berita, Media Sosial, Dan Perhatian Kita

Rezim narasi tunggal pernah masyarakat kita alami. Saat dimana siapa yang sedikit saja berbeda dengan penguasa akan diamuk dan hilang, membuat orang-orang takut dan kebebasan menjadi hal yang langka. Saat ini zaman sudah berubah, teknologi memungkinkan untuk mendapat dan menyebarkan informasi menjadi murah.

Jelas sudah, seharusnya sekarang jadi jauh lebih baik.

Namun.. memang sepertinya kebebasan itu enak, tapi dia datang dengan konsekuensi baru: Banyak orang kebablasan dan kemudian lupa pada etika.

Ini tentang informasi, tentang cara kita memahami dunia, dan tentang hal berharga yang kita tukar murah.

Tentang Berita

Saat ini kita ada di dunia yang nggak pernah diam. Lucutan kotak-kotak update yang selalu muncul, menampilkan banyak hal baru yang menuntut perhatian kita. Meminta waktu kita, sedikit demi sedikit. Setiap perhatian yang kita punya, setiap hari.

Hal esensial tentang tahu berita terbaru adalah karena kita merasa membutuhkannya, untuk salah satu alasan primitif kita sebagai manusia: Untuk bisa mengerti sedikit lebih dekat dengan dunia yang kita tinggali. Kita ingin tahu apa yang orang lain sedang bicarakan, menjadi bagian dari mareka, dan bisa berbicara dengan suara kita sendiri.

Internet membuat kita bisa mengakses semuanya, tapi itu juga berarti semuanya bisa mengakses perhatian kita.

Ada berita yang membuat kita merasa senang. Ada informasi yang membuat kita belajar. Tapi dari semua itu, yang saat ini paling banyak beredar adalah berita yang membuat kita marah. Dan itu baru satu problem. Hal lainnya yang belum kita tahu adalah apa semua yang kita baca itu benar. Karena saat ini berita yang selalu ada bukan hanya sekedar “berita”.

Mayoritas berita yang menyebar dengan cepat, dan menjadi viral dalam sekejap biasanya hanya berupa komentar tentang sesuatu. Bukan tentang apa yang benar-benar terjadi. Lebih banyak interpetasi dibanding “berita” itu sendiri. Karena yang paling penting bagi publisher adalah berita apa yang ingin orang dengar, yang membuat orang untuk kembali dan membaca lebih jauh, itulah yang membuat industri media bisa berjalan.

Saya nggak bergumen untuk menghilangkan interpretasi dari sebuah fakta. Itu nggak mungkin. Bahasa yang kita punya didesain untuk bisa memberi suara tersendiri dari apa yang sedang diucapkan. Tapi apa yang terjadi sekarang-sekarang ini lebih dari itu. Ada banyak berita yang populer, menjadi konflik, dan semua berawal dari hanya sebuah rumor.

Publik menjadi bingung mana yang benar mana yang palsu. Apa yang kita alami saat ini, ada berita yang hampir semuanya interpretasi tanpa ada banyak fakta.

Monetasi informasi dan perhatian orang mengubah industri media menjadi nggak begitu memedulikan informasi yang mereka berikan. Berita-berita bohong dibuat, argumen-argumen nggak berdasar menjadi populer dan situasi yang nggak sehat dibuat lebih buruk. Semuanya demi traffic. Demi perhatian. Demi kepentingan bisnis yang bisa berjalan.

Dan masalahnya nggak cukup sampai disitu. Saat ini, practically semua orang bisa membuat situs website sendiri, dan nyaris tanpa perlu ada tanggungjawab sedikitpun. Dan kita nggak mau menggugat seorang remaja yang bikin website di ruang kamar ibunya atas dasar berita palsu. Dia nggak punya aset untuk diambil, atau dia bisa aja dengan mudah menghilang dan beli domain baru dengan hanya Rp 100.000 saja, dan mulai bikin website yang baru.

Dan setiap harinya, website seperti ini semakin banyak. Tumbuh, merambat, dan membesar. Karena ada pasar yang bisa diisi: Orang-orang yang nggak punya waktu untuk mengklarifikasi apapun yang dia baca.

Baris-barik kicauan 140 karakter yang berisi kebencian dan dark humor pun meloncat-loncat di depan mata kita, dalam layar-layar yang kita genggam, membombardir otak kita. Memicu reaksi kimia yang secara bersamaan membuat nggak tenang, dan tanpa kita sadari, juga beracun.

Katanya kita hidup di era informasi. Zaman dimana ada jauh lebih banyak pengetahuan bisa di akses dengan mudah. Internet membuka banyak peluang yang puluhan, atau bahkan ratusan tahun yang lalu umat manusia nggak bisa capai.

Tapi ternyata kemudahan akses informasi, kebebasan mendapatkan ilmu nggak sama dengan pengetahuan yang meningkat. Banyak orang memilih untuk membuat hidupnya jadi nggak tenang dengan pilihan itu. Dengan menerima apa yang lebih mudah didapat. Bukan yang penting.

Akan selalu ada lucutan data dan informasi dari banyak orang, dari ratusan sumber, dan dikonsumi ribuan orang setiap harinya. Yang mencoba memberi kita fakta dan data lebih banyak.

Tapi sayangnya peningkatan informasi sedrastis itu nggak selalu berbanding lurus dengan kualitas diri kita untuk lebih bijaksana.


Dan semakin hari, yang kita rasakan adalah rasa letih untuk menerima informasi ini.

Dan pernahkah kita berpikir, dan merasakan, bahwa rasa lelah ini selalu ada dan menghantui diri kita setiap hari? Sebuah fakta bahwa kita bisa selalu dalam keadaan terkoneksi kepada siapapun dan apapun membuat kemampuan kita jadi terbatas.

Waktu kita terbuang, dan tanpa sadar semua energi yang kita punya menjadi rasa lelah dalam kepala kita. Karena konektifitas yang sebelumnya kita anggap dengan kekuatan. Bahwa informasi yang kita dapat itu bisa membuat entah apapun itu, jadi lebih baik. Ternyata itu menjadi bumerang yang melayang berbalik ke arah kita.

Banyak orang bilang ini bagian dari efek samping teknologi yang semakin pesat, dan menganggap semua efek kemajuan teknologi pasti berdampak baik, alias technophobic. Sampai akhirnya terlalu banyak informasi membuat masyarakat ada dalam situasi yang sebelumnya nggak pernah terjadi. Kita seperti ayam yang sedang mencari makan ke tempat yang salah, dan pada akhirnya mati di lumbung padi.

Tentang Kita Saat Ini

Mari kita mulai dari pertanyaan paling sederhana yang seringkali kita nggak berani jawab: Seberapa penting kita harus tahu semua berita yang ada di depan kita?

Apa semua berita itu harus kita tahu? Apa kita punya obligasi untuk mengkonsumsi semua yang kita lihat, semua yang bisa kita akses, dan semua yang algoritma newsfeed berikan? Nggak. Dan ketika kita sadari itu, dan bertanya lebih dalam tentang apa aja yang layak dibicarakan, kita akan kaget. Karena jumlahnya sangat sedikit.

Kebanyakan hal yang kita dapat dan berita yang kita tahu nggak layak untuk dibicarakan, didebat, dan dijadikan bahan obrolan. Kurangnya fakta, akurasi dan objektifitas membuat sebagian besar berita yang kita dapat dari orang lain punya kemungkinan bias yang besar, dinarasikan dengan penuh logical fallacy. Dan membuat apapun argumen kita selanjutnya tentang rumor itu bisa jadi nggak relevan.

Tapi kita nggak peduli dengan hal itu. Membaca berita, nggak peduli beritanya benar atau nggak, membuat kita merasa sibuk. Kita bisa saka membuka facebook, melihat notifikasi twitter.. Dan setelahnya tenggelam disana berjam-jam tanpa sadar.

Dan terlebih, kita belum banyak tahu bagaimana informasi itu dibuat.

Ibarat setiap berita itu adalah kuman. Kita bisa bilang bahwa setiap kita share sesuatu, sama halnya dengan sedang bersin. Dan ketika itu terjadi, otomatis kita membuat orang lain ikut terinfeksi dari kuman yang kita keluarkan.

Tapi yang unik disini, nggak selalu kuman yang kita bawa ini mengandung penyakit. Bisa jadi dia bakteri sehat yang membuat orang lain jadi ikut mendapatkan manfaatnya.

Setiap kali kita bergabung dalam media sosial, yang sebenarnya kita lakukan adalah membuka diri kita dalam sebuah tempat dimana semua orang bersin, dan membaca semua newsfeed berarti kita mempersilahkan semua kuman dari orang lain itu masuk dalam otak kita. Membuat diri kita rentan. Itulah resiko yang kita ambil setiap kali membuka media sosial.

Dan setiap kuman ini punya level dan kualitas yang berbeda. Misal berita negatif bisa kita anggap sebagai kuman penyebab flu. Dan informasi yang destruktif seperti hoax adalah senjata biologis.

Setiap kuman ini masuk dalam otak kita, ada yang sampai merangsang kita membagikannya dengan orang lain, juga ada yang nggak. Cara berita merespon emosi kita juga berbeda-beda. Ada yang membuat kita nyaman, atau membuat kita sedih. Dan setiap berita yang menyentuh imun-imun emosi kita, akan membuat kita terpicu untuk ikut membagikan berita yang kita dapat. Kecuali satu jenis berita, yang membawa satu jenis kuman.

Berita jenis ini, dia bisa menembus semua imun emosi dalam otak kita, dan dalam waktu singkat memicu kita untuk membagikan berita itu. Jenis kuman ini sangat efektif, yang saking efektifnya banyak orang yang berkuasa melakukan strategi ini untuk membuat propaganda di internet.

Berita jenis itu, adalah berita yang membuat kita marah.

Bila kita marah, nggak ada lagi yang ada di pikiran kita selain untuk segera membagikan itu dan membuat orang merasakan hal sama yang kita rasakan.


Dan ketika itu semua terjadi, kita nggak menyadari hal berharga yang sudah hilang dalam kendali diri.

Kehausan kita akan informasi yang mudah tadi, seperti memakan gula. Kita bisa memakan sebanyak apapun informasi tadi, nggak merasa kenyang, dan tanpa sadar pikiran kita sudah banyak dicemar. Bersama dengan perhatian yang sebelumnya kita punya, nggak dalam kontrol diri kita lagi. Daya perhatian kita terhadap sesautu sudah direnggut.

Daya fokus yang kita bisa gunakan untuk berkarya, untuk belajar, untuk mengeksplorasi sudah nggak dalam kontrol diri kita lagi. Dengan membolehkan diri kita untuk mengakses banyak berita dan kiacauan media sosial, kita memilih untuk membuat daya fokus kita menjadi hal yang nggak penting. Dan semua pengorbanan itu dibuat, untuk mengkonsumsi banyak berita, yang nggak membuat kita jadi lebih baik.


Ada banyak berita. Ada banyak informasi hoax. Ada banyak keributan. Ada banyak konflik. Ada banyak hal yang sebenernya nggak perlu terjadi. Dan itu membuat banyak keburukan. Konflik yang seharusnya bisa dihindari dalam masyarakat kita.

Tanpa sadar ini juga berpengaruh pada diri kita, cara kita memandang dunia, dan cara kita memandang diri kita sendiri. Hal ini terjadi dalam kehidupan kita, dan seringkali nggak kita sadari.

Bagaimana kita mengkonsumsi informasi, bagaimana kita mendapatkan informasi, bagaimana kita menyebarkannya — mengubah banyak hal.

Di dunia dimana semua orang semuanya dalam keadaan synchronize, di dunia yang dimana ada terlalu banyak kebencian ditebar, dan berita bohong disebar, ketenangan menjadi menjadi nilai yang mahal. Dan ketika kita nggak memperlakukannya sesuai dengan harga yang seharusnya, kita nggak sadar ada sesuatu yang berharga hilang dalam kesaharian kita. Rasa tenang menjadi langka.

Tentang Apa Yang Bisa Kita Lakukan

Gambaran hidup yang kita punya saat ini lahir dari sesuatu yang cukup primitif, dan sudah menjadi bagian dari diri kita sebagai manusia. Kita haus dengan cerita, dengan “Narrative” yang bisa menjelaskan apa yang kita lihat, yang kita alami, dan tentang dunia yang kita tinggali. Kehausan yg lahir ini berasal dari kegelisahan kita dengan banyak kejadian-kejadian random yang terjadi dalam kehidupan kita, dan kita ingin tahu cerita dibalik apa yang kita lihat.

Kita ingin penjelasan dari apa yang kita alami, kita ingin sebuah cerita, dan rasa haus ini kadang membuat kita menerima cerita apapun yang bisa kita dapat.

Dan hal yang membuat situasi ini menjadi lebih buruk, berawal dari sini.

Saat ada banyak berita yang bisa kita pilih, kita menganggap informasi hanya sebagai sebuah produk dalam sistem kapitalis. Kalau kita nggak suka dengan apa yang kita dapat, kita akan mencari sumber berita lain yang menceritakan apa yang ingin kita dengar.

Diskusi yang hanya menyebar kebencian, beradu sarkas, dan dengan menampilkan gambar-gambar humor di topik sensitif bagi orang lain. Yang seperti ini pada sebenarnya bukan diskusi, lebih seperti beberapa orang yang saling melempar argumen tanpa mendengar apa yang orang lain bilang. Melihat kotak-kotak informasi seperti ini ada dalam timeline, membuat saya bepikir bicara seharusnya nggak gratis. Membuat konflik dan debat banyak terjadi, tapi nggak melahirkan diskusi yang sehat, dan malah nggak menyelesaikan masalah.


Kita sering kali beragumen terhadap sesuatu. Terutama tentang orang-orang di era sebelum kita, lalu menertawakan mereka dengan banyak kebodohan yang ada didalamnya. Karena banyak hal-hal nggak masuk akal yang orang-orang dulu percaya. Bumi itu datar, matahari itu mengelilingi bumi, atau mungkin ronggeng dukuh paruk.

Dan rasa arogansi itu membuat kita keliru dan merasa bahwa apa yang generasi kita buat populer, adalah hal yang benar, hal yang nggak akan salah.

Seperti itukah? Apakah kita ada di era dimana semua yang kita percaya adalah benar? Kalau melihat sejarah, jawabannya adalah nggak. Ajaib banget kalau generasi kita adalah satu-satunya era yang nggak pernah salah.

Dan di masa depan, ketika orang-orang melihat ke masa lalu, menggunakan mesin waktu dan melihat kita saat ini, kemungkinan besar mereka juga akan tertawa.

Itulah kenapa, kita seharusnya lebih berhati-hati dalam berbicara. Dalam membagikan informasi yang kita dapat. Dan menyuarakan argumen yang kita punya.

Dan menyadari, bahwa kita nggak bisa seenaknya berbicara apapun tanpa berpikir.

Andai mesin waktu sudah ada. Kalau kita bisa menjelajah waktu, ada satu peraturan yg pasti berlaku di semua era: Hati-hati kalau ngomong.

Berbicara itu ibarat fashion. Kita mungkin punya selera fashion yang beda-beda. Tapi ada semacam kode etik tertentu dalam berpakaian untuk acara-acara tertentu, dan itu nggak bisa sembarangan.

Kita punya dress code dalam bekerja, dalam berpesta, dalam berkabung atau masuk ke rumah adat. Belum lagi dress code dalam acara-acara tradisional khusus yang lebih sakral atau ke dalam gedung-gedung tertentu. Melanggarnya bisa membuat orang ada dalam masalah, dihukum, atau bahkan dibunuh.

Begitu juga dalam berbicara. Dan kita seharusnya tahu itu, sebelum mengatakan hal yang nggak kita tahu kebenarannya ke orang-orang yang belum begitu kita kenali.

Kadang ada opini yang menurut kita nggak berbahaya padahal itu bisa jadi membuat orang lain terluka. Dan dalam kasus tertentu, melakukan itu bisa membuat kita ada dalam masalah besar.

Ada harga yang harus dibayar. Dan semakin tinggi kedudukan kita dalam masyarakat, semakin besar pengaruh kita pada banyak orang, harga yang harus dibayar akan semakin besar. Seorang pemimpin yang nggak menyadari itu seharusnya berpikir lagi tentang apa yang sebenernya sedang dia lakukan, karena dia ada di tempat yang salah.


Di dunia yang semakin padat dengan informasi, kita harus memilih: Mau jadi orang yang selalu tahu apa yang orang lain biacarakan, atau berkarya dan menjadi individu yang produktif dalam masyarakat.

Kalau kamu memilih untuk jadi jenis yang kedua, mulailah untuk memperlakukan berita dan media sosial sebagai makanan. Bukan makanan yang sehat, tapi makanan enak yang ada di jalanan. Makanan enak nggak selalu sehat, dan yang dijual dijalan biasanya terkontaminasi banyak bakteri nggak sehat.

Kamu tahu bagaimana memperlakukan makanan jenis ini: Semakin jauh di tempat makanan ini dijual, akan semakin baik. Dan kita harus berlari. Karena kita sudah ada di satu titik dimana ketertarikan kita untuk mengkonsumsi sudah terlalu banyak.

Meng-unistall beberapa aplikasi media sosial di smartphone, atau membatasi akses berita bukan dengan berhenti makan, tapi bagaimana caranya kita lebih sulit untuk mendapatkan kalori dari makanan itu.

Dan ketika saatnya kita mau berbicara di media sosial, kita bisa memberi infomasi yang lebih baik. Karena kualitas informasi yang kita dapat untuk menyuarakan suara kita, berbeda dengan banyak infomasi toxic yang banyak beredar — yang sudah kita hindari.

Solusi dari masalah ini? Yang paling efektif adalah jalan yang juga paling sulit dan paling lama: Pendidikan, meningkatkan kualitas dan memastikan masyarakat punya minimal kesadaran etika yang cukup untuk bisa bermasyarakat. Atau bisa juga membuat institusi media yang nggak melibatkan uang untuk bisa bertahan, dan mendanai mereka untuk membuat berita yang lebih baik dan objektif untuk dikonsumsi.


Kenapa kita belajar untuk memilah informasi? Kenapa kita harus aware bahwa kita punya pilihan untuk itu? Kenapa kita harus punya peran aktif untuk membuat situasi jadi lebih baik, bukan lebih buruk? Apa nilai yang paling penting bagi diri kita untuk orang lain, dan untuk dunia yang sedang kita tinggali?

Apa yang kita lakukan, yang kita sebar itu membuat perbedaan yg lebih baik? Membenarkan yg salah? Punya pemahaman yang baik dan pola pikir yang benar terkait itu akan memberi banyak perubahan positif. Itu perlu waktu. Tapi sekarang, yang penting kita tahu adalah mengapa itu pantas dilakukan.

Mungkin dimulai dengan berdiet informasi. Mulai dengan berbagi hal yang positif. Mulai mencoba untuk menahan diri dan tidak reaktif. Untuk mencoba menjadi orang baik, untuk diri sendiri dan untuk orang lain.