Notes: Yang Hilang Dari Kita, Akhlak

Oleh: M. Quraish Shihab

Rating: 8/10

Membaca buku itu sekecil-kecilnya pengaruh, adalah seperti makanan. Secara langsung memang nggak selalu terlihat efeknya, tapi itu mempengaruhi diri kita dengan caranya sendiri.

Tapi tetap, kadang saya pengen punya sesuatu yang bisa jadi patokan untuk mengulas singkat dari buku yang pernah saya baca. Khususnya buku-buku yang saya suka. Dan untuk itulah kenapa saya coba buat kategori posting “Ulasan buku” ini, yang semoga kedepan bisa konsisten.

Nggak semua buku tentunya, apalagi yang fiksi agak susah juga. Dan ini juga bukan jenis tulisan yang utuh dibilang review sih. Tapi lebih ke kumpulan catatan dan kalimat menarik yang saya dapat saat membaca, dan bisa dijadikan pengingat untuk diri sendiri nantinya.

Alhamdulillah lagi kalau ini bisa ngasih insight dan manfaat ke orang lain.

Buki kali ini adalah “Akhlak: Yang hilang dari diri kita” karya dr quraish shihab. Jujur di indonesia agak jarang sih buku-buku yang pembahasannya seperti quraish shihab, bisa menggali cukup dalam dan terstruktur, sambil menceritakan pandangan filosofis barat maupun timur, yang lingkarannya tetap pada prinsip untuk lebih memahami yang sebuah nasihat hidup dari ajaran islam. Sejauh ini yang saya tahu selain beliau adalah buya hamka dengan buku “Filsafat hidup”.

Di tengah banyak buku-buku barat yang cenderung membahas perilaku hanya dari sisi behavioral psychology manusia (dan itu bagus, nggak ada yang salah), adanya buku ini seakan menjembatani antara konsep hubungan antar satu manusia dengan manusia lainnya dari sisi kebutuhan spiritual kita dengan konsep perilaku dari bahasan filsafat modern.

Menurut saya buku ini menarik dan ada banyak manfaatnya praktisnya. Ada keindahan dan manfaat, juga pencerahan kenapa kita perlu melatih untuk punya akhlak yang baik. Tentang sebuah gaya hidup yang indah dan menentramkan. Lebih dari sekadar apa yang dale carnaige berikan di how to win friends and influence people. Karena sebagai muslim, kita sendiri tahu bahwa nabi muhammad saw. Sendiri diturunkan salah satunya untuk menyempurnakan akhlak. Dan ada alasan penting kenapa kita diberitahu hal itu, juga memberi banyak hikmah kalau kita rendah hati dan coba mempelajarinya dengan sungguh-sungguh.


Akhlak ini bagian penting dari islam. Dan penting bagi kita sama-sama belajar tentang itu dan berusaha menjadikannya, menjadi bagian dari hidup kita.

Akhlak

kecenderungan pada kebaikan, kebenaran, dan keindahan adalah salah satu fitrah dari diri manusia. Ajakan pada pengamalan kebaikan yakni akhlak luhur yang harus diperjuangkan, pastilah terpatri dalam jiwa manusia.

Definisi akhlak: Akhlak adalah sifat dasar yang telah terpendam di dalam diri dan tampak ke permukaan melalui kehendak/kelakuan dan terlaksana tanpa ada keterpaksaan oleh satu dan lain hal.

Akhlak itu adalah sifat yang mantap dalam diri seseorang/kondisi kejiwaan baru dapat dicapai setelah berulang-ulang latihan dan dengan membiasakan diri melakukannya.

Dalam konteks niat/motivasi melakukan kebaikan, sementara para pakar menggarisbawahi bahwa kebaikan bisa dilakukan seseorang akibat:

  1. Dorongan/perintah dari siapa yang diharapkan perolehan manfaat darinya atau supaya terhindar dari marah dan ancaman.
  2. Dorongan/harapan memperoleh pujian.
  3. Dorongan kebaikan, yakni karena memang yang demikianlah yang baik

Yang pertama (1) lahir dari dorongan syahwat/keinginan atau takut dicela. Yang kedua (2) lahir dari rasa takut/malu, sedang yang ketiga (3) adalah dampak dorongan akal yang sehat dan hikmah yang disandang pelakunya.

Mengapa akhlak yang luhur dibutuhkan? Karena eksistensi masyarakat ditentukan oleh tegaknya moral, bila moralnya runtuh, kepunahan mereka tiba. (Syair ahmad syauqi, penyair dari mesir)

sesungguhnya masa muda, pengangguran, dan kekayaan berpotensi merusak seseorang dengan pengrusakan yang besar. (Penyair kenamaan, abu al-‘atahiyah)

Sesungguhnya orang-orang berakal membutuhkan akhlak, sebagaimana kebutuhan terhadap pepohonan pada air. (Sayyidina Ali ra)

Tentang membalas keburukan dengan kebaikan dan diterima baik oleh yang anda hadapi dapat juga menimbulkan kebahagiaan.

Tolaklah (kejahatan dan keburukan pihak lain) dengan yang lebih baik; (Jika itu yan engkau lakukan) makan tiba-tiba orang yang di antara kamu dan dia ada ada permusuhan (akan berubah sikapnya terhadap kamu), seolah-olah dia teman yang sangat setia (QS. Fushilat [41]: 34)

Rasul melarang seseorang hidup sendiri.

Seandainya orang mengetahui betapa keterasingan orang yang sendirian, maka tidak akan ada yang bepergian di waktu malam. (HR. Ahmad dan at-tirmidzy)

Baik dan buruk

Epikuros (filsuf Yunani) mengingatkan agar jangan meraih kelezatan yang dapat mengakibatkan kepedihan di masa depan, sebagaimana jangan menolak/menghindari kepedihan demi mencapai kelezatan di hari esok.

Kelezatan bisa termasuk sebagai bagian dari kebahagiaan. Kelezatan dapat dituju sebagai salah satu cara meraih tujuan akhir, yaitu kebahagiaan di masa kini dan masa datang; Yang dekat dan yang jauh.

Jadilah mulia dan terpercaya, bukan karena manusia berhak mendapatkannya dari anda, tetapi karena anda tidak wajar hina dan khianat

Tentang keberanian. Keberanian adalah kemampuan menghadapi kesulitan dan bahaya saat dibutuhkan, menghadapinya dengan tekad dan kekuatan jiwa. Yang berani bukan karena tidak memiliki rasa takut, tapi rasa takut itu dienyahkan dari pikiran dan hatinya dengan mengendalikan diri dan mengukuhkan jiwa sehingga ia tampil menghadapi bahaya yang mengancam.

Pemberani sesungguhnya adalah yang berhitung lalu tampil menghadapi bahaya dalam situasi yang mengharuskannya ia tampil. Di sini kebaikan dan keburukan tidak lagi menggunakan penilaian berdasar angka-angka (banyak dan sedikit), tetapi berdasar penilaian apakah sudah waktu dan tempatnya seseorang tampil setelah memperhitungkan apa yang mesti dilakukan ketika itu.

Yang ceroboh pada hakikatnya bukanlah yang lebih banyak keberaniannya daripada yang penakut. Yang penakut pun bukan yang lebih sedikit keberaniannya daripada si penceroboh, tetapi penakut, demikian juga penceroboh, adalah mereka yang menghadapi bahaya, tanpa mengetahui situasi dan tanpa mampu bertindak dengan benar.

Jika seorang adil, maka keadilannya akan mengantarkannya menginggalkan apa yang tidak wajar ia lakukan, tidak juga keberatan tampil melaksanakan apa yang seharusnya ia laksanakan, lagi kikir memberi apa yang dimilikinya.

Al-Ghazali berpandangan bahwa keutamaan terhimpun dalam dua hal pokok, yaitu:

  1. Kecemerlangan pikiran dan kemampuan membedakan. Ini mengantar pada kemampuan memahami dan membedakan antara jalan yang mengantar pda kebahagiaan dengan yang mengantar ke jalan kesengsaraan, serta mengamalkan tuntunan jalan kebahagiaan dan menghindari sedapat mungkin terjerumus dalam jalan kesengsaraan.
  2. Budi pekerti luhur yang tercermin dalam kemampuan manusia membiasakan diri melakukan hal-hal baik – ucapan, perbuatan atau tingkah laku – dan selalu mengutamakan pekerti luhur atas selainnya dan ini mengantarnya menyingkirkan semua kebiasaan buruk/yang terlarang.

Kata “Akal” <aqala dalam bahasa Arab yang dari akarnya lahir kata ‘aql (akal) berarti menghalangi. ‘Iqal adalah tali yang digunakan mengikat dan menghalangi sesuatu. Daya pikir yang lurus dan baik dinamai akal karena dengan menggunakan daya dengan baik, pemiliknya akan terhalang dari anek keburukan dan kesalahan.

Ada yang menyimpulkan akhlak yang baik dengan kata kemaslahatan. Orang berkata:

“Di mana ada maslahat–apalagi maslahat umum–disitu ada agama Allah”.

Itu benar, tetapi tidak sepenuhnya! Mengapa? Karena agama allah tidak diukur dengan keadaan masyarakat, tetapi masyarakatlah yang diukur dan dinilai dengan tuntunan agama allah.

Tentang buah dari meneladani sifat-sifat allah swt. Siapa pun yang berhasil meneladani sifat-sifat allah, maka akan lahir dari tingah lakunya –lahir dan batin– secercah dari sifat-sifat allah yang diteladaninya. Tentu jika masing-masing dengan perspektif yang benar.

Gambaran seorang muslim yang berakhlak mulia:

Ma’rifat adalah modalnya. Keadilan adalah tumpuan ajarannya. Pengendalian diri dasar aktifitasnya. Kasih asas pergaulannya. Kerinduan kepada ilahi kendaraannya. Zikir pelipur laranya. Kepuasan setelah usaha maksimal adalah harta simpanannya. Kesadaran akan kelemahan di hadapan allah adalah kebanggaannya. Sabar adalah busananya. Zuhud merupakan profesinya. Kepercayaan diri kekuatannya. Keprihatinan tunggangannya. Kebenaran andalannya. Ketaatan adalah kecintaannya. Jihad/perjuangan kesehariannya. Sedang buah matanya adalah ketika menghadap allah swt di dalam shalat.

Bagaimana membentuk akhlak?

Pembiasaan dalam konteks meraih akhlak, mutlak adanya. Pembiasaan itu dalam bahasa agama dinamai takhalluq yang seakan dengan kata akhlak. Takhalluq adalah “Memaksakan diri dan membiasakannya untuk melakukan sesautu secara berulang-ulang”.

“Ilmu diperoleh dengan belajar (memaksakan diri dan mengulang-ulangi belajar). Kelapangan dada melalui pembiasaan melapangkan dada. Siapapun yang selalu berusaha mencari kebaikan, ia akan dianugrahi dan siapa yang senantiasa berusaha menghindarkan diri dari keburukan, ia akan dihindari darinya” (HR. Al-khathib)

dalam konteks zikir, ada yang dinamai wirid, yakni bacaaan-bacaan tertentu yang tujuan utamanya menyugestikan dalam jiwa makna-makna wirid yang dibaca itu sehingga mantap jiwanya dan tercermin dalam kegiatannya.

Selain pembiasaan dan meniru keteladanan, hal lain dari sekian banyak hal yang perlu digaris bawahi dalam konteks meraih akhlak luhur adalah: (A) melakukan introspeksi, (b) menyibukkan diri dengan hal positif, (c) memperhatikan dampak buruk ketiadaan akhlak, (d) berada di lingkungan yang baik, (e) membaca yang bermanfaat, (f) bergaul dengan yang berbudi, dan (g) yang amat penting pula adalah bermohon kepada allah.

Akhirnya, keberhasilan membentuk akhlak luhur ditentukan oleh allah setelah kesungguhan manusia berupaya.

Islam adalah akhlak

Malu dan iman bergandengan bersama. Kalau salah satunya tiada, maka yang lain pun (turut) tiada” (HR. Al-Hakim)

“Sebagian yang masih terekam (dalam benak) manusia tentang tuntunan kenabian masa lampau adalah jika engkau tak malu, maka lakukanlah apa yang engkau sukai” (HR. Bukhari)

“Setiap agama ada akhlaknya, dan (puncak akhlak islam adalah malu” (HR. Ibnu Majah)

puncak tertinggi dari setiap aktivitas adalah ihsan, yakni melakukan sesautu sebaik mungkin. Ihsan berbeda dengan adil. Keadilan wajib ditegakkan, tetapi ihsan adalah anjuran dan ia merupakan puncak terbaik dari aktivitas.

Karena itu, “Ihsan” melebihi “Adil”. Jika anda menuntuk semua hak anda, itu adalah adil, tetapi jika anda menuntut hanya sebagian, sedang sebagian lainnya anda relakan, ketika itu anda telah melakukan ihsan.

“Sesungguhnya allah menetapkan ihsan menyangkut segala sesuatu, maka jika engkau membunuh, lakukanlah pembunuhan dengan ihsan, jika engkau menyembelih, maka lakukanlah penyembelihan dengan ihsan. Hendaklah siapa pun mengasah pisaunya dan menenangkan sembelihannya.” (HR. Muslim)

Sopan Santun

Islam amat mengedepankan sopan santun. Dengan sopan santun, permusuhan dapat dihindari, bahkan permusuhan dapat berubah menjadi pertemanan yang akrab (QS. Fushshilat [41]:34). Di sisi lain, sopan santunlah yang lebih mampu meraih simpati dan menciptakan hubungan baik dibandingkan dengan apapun selainnya, termasuk materi. Diriwayatkan bahwa nabi saw. Bersabda:

“Kalian tidak dapat menjangkau semua orang dengan harta benda kalian, tapi mereka dapat terjangkau oleh kalian dengan wajah yang cerah dan akhlak yang luhur” (HR. Al-bazzar dan lain-lain)

beberapa nilai akhlak penting:

  1. Keikhlasan
  2. Rahmat
  3. Ilmu
  4. Membaca
  5. Kesabaran
  6. Kebenaran
  7. Amanah
  8. Kesetiaan
  9. Kekuatan
  10. Kelapangan dada
  11. Toleransi
  12. Kemuliaan dan harga diri
  13. Kedisiplinan
  14. Hidup sederhana
  15. Al-haya/malu
  16. Tabayyun (check and recheck)

rahmat jika disandang oleh manusia, maka ia menunjukkan kelembutan hati yang mendorongnya untuk berbuat baik.

Seorang muslim dituntut untuk menyebarkan rahmat dan kasih sayang kepada seluruh makhluk. Untuk itu, rasul saw. Mengingatkan agar setiap langkah seorang muslim hendaknya dimulai dengan basmalah. Tanpa itu, maka kegiatan yang dilakukannya tidak akan sempurna.

Sabar adalah menahan kehendak nafsu dengan melakukan sesuatu atau meninggalkannya demi mencapai yang baik atau lebih baik.

“(Puncak) kesabaran adalah pada saat datangnya peristiwa yang mengentakkan” (HR. Bukhari dan muslim)

dalam hidup ini, kita sering diperhadapkan dengan persaingan, yang sabar akan berhasil.

Ash-shidq/kebenaran/kesungguhan berkaitan dengan empat hal pokok:

Pertama: Ucapan kedua: Janji ketiga: Tekad keempat: Kerja

“mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai allah daripada mukmin yang lemah, namun keduanya baik. Bersungguh-gungguh meraih apa yang bermanfaat untukmu dan mohonlah bantuan kepada allah, jangan melemah. Jika engkau ditimpa sesuatu, maka jangan berkata: ‘Seandainya aku melakukan ini dan itu’, tapi ucapkanlah:’Ini telah ditakdirkan allah apa yang dia kehendaki dilakukan, (jangan berkata seandainya) karena seandainya membuka pintu (masuk) setan’.” (HR. muslim).

Memang, sikap manusia bermacam-macam dalam konteks kelapangan dada dan amarahnya, yang terbaik adalah kalau sedang tersinggung/marah tapi tidak marah dalam hal yang berkaitan dengan ketersinggungan pribadi atau dalam hal-hal yang dapat ditoleransi justru lebih baik.

Toleransi dapat diartikan sebagai sikap membiarkan, menenggang, dan menghormati pendapat/sikap pihak lain walau yang membiarkannya tidak sependapat dengannya.

Semakin tinggi pengetahuan dan kesadaran manusia tentang diri dan lingkungannya, semakin tinggi pula rasa malunya sehingga bisa jadi seseorang justru malu pada dirinya sendiri.

Sampaikanlah kepada hamba-hamba-ku agar mereka berbicara yang terbaik.

Wallahualam.