Untuk Ilkom 48

Halo Ilkomerz,

Udah lebih 3 tahun kita bersama, mengenal satu sama lain, mencoba berbagi sapaan setiap kali bertemu, mencoba berbagi ide, rasa dan mimpi selama kita belajar di kampus IPB ini. Dan itu adalah salah satu lembar dari hidup gue yang nggak akan pernah hilang.

Sejujurnya, agak aneh kalau gue menulis surat ini, apalagi untuk kalian semua. Bukan karena gue merasa janggal, tapi karena gue tahu gue nggak begitu terlihat untuk sebagian besar diantara kalian. Dan ketika beberapa dari kalian mencoba mengingat apa memori bersama gue selama berada dikampus ini, kamu mungkin akan bingung, karena nggak banyak yang terekam. Gue jarang ada di SC. Nggak banyak ikut kegiatan bareng kalian. Nggak sering untuk sekedar ngobrol dikampus sampai malam hari. Dan mungkin ada sebagian yang menganggap kalau gue memang nggak banyak mencoba mengenal kalian.

Lebih dari itu, gue nggak akan kaget kalau ada orang-orang awalnya yang nggak suka dengan gue. Dan itu wajar. Gue nggak sepenuhnya ikut MPD, gue juga nggak ikut makrab pertama kalian. Dan karena itu, dalam beberapa waktu di awal kita belajar dikampus ini, kalian bisa dengan mudah menganggap gue nggak ada.

Di TPB dan semester 3 saat kuliah bareng kalian, gue adalah anak yang duduk di pojok belakang atau pojok depan ruang kuliah. Yang lebih sering sendiri, dan beberapa saat setelah itu tanpa kalian sadari, gue akan pergi dan nggak ada disitu lagi. Jujur, itu gue lakukan dengan sengaja. Sebab akhir semester itu, gue direncanakan untuk pergi. Nggak bareng kalian lagi. Nggak kuliah duduk di ruangan bareng kalian lagi. Dan semua kesendirian terhadap kalian yang gue pilih itu, adalah agar gue nggak punya banyak kenangan tentang kalian. Agar gue nggak begitu mengenal lebih jauh, dan juga agar kalian nggak mengenal gue lebih dekat. Biar ketika gue pergi, gue nggak terlanjur mengenal kalian, nggak terlanjur menyayangi kalian, dan pada akhirnya kalian pun nggak mengingat gue.

Sampai semester itu hampir berakhir, ada satu hal terjadi. Kejadian yang nggak banyak orang tahu dan mungkin suatu saat bisa gue ceritakan pada kalian. Seperti layaknya kapal yang ada ditengah lautan, gue malah tiba-tiba melempar jangkar, dan menimbang kembali arah yang akan gue lalui setelahnya. Gue berpikir ulang, dan akhirnya gue memilih untuk tetap tinggal disini. Gue membakar kertas yang sebelumnya tertulis akan kemana gue pindah. Supaya gue bisa disini, di Ilkom IPB. Belajar disini. Berjuang untuk kampus ini. Dengan kalian.

Dan itu salah satu keputusan yang gue syukuri. Dari awal itu, gue bisa jadi bareng kalian.

Masih teringat ke taktentuan pikiran gue saat itu. Gue tahu gue bukan siapa-siapa, tapi  ingin rasanya gue bisa berguna untuk kampus ini. Ingin rasanya gue bisa membanggakan ilmu komputer IPB. Ingin rasanya suatu hari nanti, gue bisa bermanfaat, dan membanggakan kalian, teman-teman angkatan ilkom 48. Ingin rasanya gue berjuang dan mencoba meraih asa yang kadang ditengah jalan menjadi rapuh. Yang kadang di satu titik goyah, membuat diri gue yang kecil ini nggak berdaya dan merasa nggak berarti apa-apa.

Gue juga ingat awal gue mulai mengenal kalian sedikit demi sedikit. Gue masih inget, hari itu sehabis kuliah Kalkulus Lanjut,  ada seorang perempuan memanggil dari belakang. Dia bersama dua temannya, memanggil nama gue.

“Anas, udah tanda tangan mading rohis?” sahutnya.

“Mading? Buat?” tanya gue. Yang sebenernya pertanyaan gue lebih banyak dari itu. Kok dia bisa tahu nama gue? Kenapa gue harus tanda tangan? Dan sejak kapan gue tiba-tiba masuk rohis?

“Semua anggota rohis emang harus tanda-tangan..” jawab salah satu dari mereka.

“Bentar, emang gue rohis?”

“Iya, kata Baim. Masukin aja Anas di rohis, gitu katanya.. Ya udah deh..”

Siapa lagi Baim? Orang macam apa dia? Seenaknya aja masukin orang ke organisasi tiba-tiba, nggak pake nanya, gak pake minta ijin, asal masukin orang aja. Tapi akhirnya gue memilih untuk menjawab, “Waduh.. Ya udah, dimana?”

“Di Tanggut..” salah satunya menjawab.

Gue akhirnya ikut mereka ke tanggut dan memberi tanda tangan di salah satu mading, yang diatasnya bertulis, “Biner”. Dan saat itu juga akhirnya gue tahu 3 orang tadi bernama Nida, Whina, dan Nalar. Dengan begitu, dengan cara yang aneh, gue resmi jadi anggota rohis.

Biner juga, yang akhirnya mendorong gue untuk pertama kalinya bicara didepan kalian, jadi pengisi Kisah Inspiratif sebelum kuliah Kaljut hari rabu pagi dimulai. Yang entah isinya benar-benar inspiratif atau nggak. Yang gue inget satu isinya adalah, gue bilang statistik memperlihatkan bahwa orang yang dekat dengan kita saat kita berumur 2o-an adalah besar kemungkinannya dia akan jadi orang paling spesial dan berpengaruh di hidup kita seumur hidup. Itu juga bagian yang paling dingat sebagian dari kalian.

Dan karena materi gue yang aneh itu, beberapa anak menyapa dengan sindiran topik itu, dan saat itu juga lah gue mulai mengenal beberapa dari kalian. Sedikit demi sedikit.

Saat gue menulis ini, adalah menjelang subuh di hari kedua acara farewell kita, di perbukitan Lembang yang sejuk dan dingin ini. Gue sedang meminum kopi hangat sambil duduk bersila di ujung balkon luar di lantai dua. Di sekitar meja masih banyak gelas-gelas kosong dan setengah penuh yang berserakan, entah apa yang sebelumnya kalian lakukan disini tadi malam, yang pasti gue yakin itu akan jadi kenangan nantinya. Jam menunjukkan pukul 03.30 pagi, dan diluar terlihat jelas pemandangan pohon dan perkebunan yang hijaunya masih tertutupi gelap malam. Dari ujung nun jauh disana, masih terlihat bulan antara tanggal 16 dan 17, muram dan damai, seakan menjadi saksi bahwa momen ini pernah ada.

Dari ujung pemandangan itu, sekejap berpindah pada apa yang gue pikir akan terjadi nggak lama lagi. Saat ini sebagian besar kita bisa sama-sama ada disini, bersuka cita dan membuat memori yang harapannya bisa dibawa sampai tua nanti. Dan kita tahu, dalam beberapa bulan kedepan, insyaAllah kita semua akan memakai topi toga. Merayakan perjuangan kita setelah menuntut ilmu di kampus negeri ini. Dan setelah itu, kita akan berpencar, berpisah, dan sama-sama meninggalkan kampus sederhana yang kita cintai ini.

Lalu kalian akan melanjutkan perjalanan hidup masing-masing. Ada yang kembali pulang untuk berjuang ke tanah kelahirannya, ada pula yang menempuh perjalanan lebih jauh lagi, mungkin ke provinsi lain, ke pulau lain, atau ke negeri orang lain. Saat ini kita bisa bersama, dan gue nggak tahu apakah ini akan jadi yang terakhir kalinya atau bukan. Dan untuk beberapa saat, bayangan itu membuat gue takut.

Setelah pulang dari acara farewell ini, gue bahkan nggak tahu apakah gue akan bisa bersama-sama kalian lagi, seperti layaknya 3 hari ini, atau seperti makrab 2 tahun lalu yang nggak gue ikuti? Gue nggak tahu, setelah ini seberapa sering gue akan ke kampus, atau seberapa sering gue akan bertemu banyak dari kalian lagi, atau apakah gue akan sering duduk bersama-sama kalian lagi.  Karenanya, dengan surat ini, sempatkanlah gue untuk menyatakan beberapa hal yang gue ingin kalian ketahui.

Pertama, selama ini sebagian besar dari kalian mungkin melihat gue sebagai invisible man. Ikut kuliah bareng kalian, dateng praktikum, sama-sama ikut ujian bareng, tapi jarang terlihat. Gue jarang ada di SC, jarang terlihat masih ada di kampus di waktu-waktu luang lain, mungkin gue hanya hadir di beberapa acara aja dan seringkali itu pun karena gue ikut mengisi acaranya. Dan mungkin karena itu, beberapa dari kalian menganggap gue agak tertutup. Seakan gue memang nggak mau banyak berbaur dengan kalian.

Kalau itu masih ada dipikiran kalian, tolong dihapus, karena itu nggak benar.

Gue mungkin agak pendiam dengan orang-orang yang belum gue kenal dekat. Mungkin gue nggak banyak ngobrol dan bercanda dengan orang-orang yang jarang gue temui. Ya, gue memang introvert. Tapi dalam sikap gue yang diam itu, gue ingin kalian tahu bahwa di Ilkom 48, adalah orang-orang yang sempat bersimpangan jalan hidup dengan gue, kalian berharga artinya buat gue. Mungkin kalian nggak tahu, tapi di angkatan ini, ada orang-orang yang gue kagumi, ada orang-orang yang gue ingin kenali lebih dekat, ada orang-orang yang gue ingin belajar dari mereka, dan ada orang-orang yang ingin gue bisa temui lebih sering lagi. Dan kalau selama tiga tahun lebih ini kalian masih belum merasakan itu, gue hanya bisa berharap semoga di kedepan nanti gue bisa mengungkapkan perasaan itu pada kalian. Perasaan bangga dan bersyukur bahwa gue bisa bersama-sama dengan kalian. Semoga.

Kedua, saat ini kita sedang menaiki tanggal senior sebagai mahasiswa di kampus IPB ini. Kita masih berumur 20, atau 21, atau 22. Kita masih muda, masih sangat muda. Akal kita masih dipenuhi beragam cita-cita, ide, dan impian yang gila. Sentimen dan angan-angan masih sering hadir mewarnai keseharian kita. Tubuh kita masih kuat menopang beban seberat gundukan pasir, tangan kita masih kuat menopang badan untuk terus berdiri lagi dan lagi, kaki kita masih kuat  untuk berlari dan kita arahkan kemanapun kita mau. Kita sama-sama tahu, akan ada banyak hal yang akan terjadi didepan. Ada perjalanan jauh yang akan kita tempuh didepan.

Dan sebagai teman, gue ingin memberi semangat, dan sebagai teman pula, gue ingin bilang: Mari kita sama-sama berjuang. Mari kita sama-sama gunakan kesempatan ini untuk belajar, baik untuk di dunia maupun untuk di akhirat kelak. Mari kita sama-sama capai impian kita yang besar-besar itu, mari kita kejar cita-cita yang indah-indah itu. Mari kita berjuang untuk menjadi lebih baik. Untuk bisa bermanfaat bagi sebanyak-banyaknya orang lain. Untuk tetap bisa bermanfaat, baik selama kita hidup maupun setelah kita mati.

Kau lihat bintang-bintang yang bersinar diatas itu? Atau kau lihat puncak-puncak tinggi disana? Itulah impian-impian kita. Mari kita daki dan taklukkan puncak-puncak itu. Bukan supaya dunia bisa melihat kita, tapi supaya kita bisa melihat dunia.

Dan terakhir, gue ingin mengucapkan terimakasih. Terimakasih untuk tiga setengah tahun ini. Terimakasih udah mau menjadi bagian dari hidup gue, terimakasih juga untuk mau menerima gue yang sederhana dan apa adanya ini jadi bagian kecil dari mozaik-mozaik hidup kalian. Gue mau minta maaf kalau selama ini ada kesalahan-kesalahan yang gue buat, baik yang disengaja ataupun yang tidak disengaja. Maaf juga kalau gue masih ada khilaf gue yang pernah menyakiti hati kalian. Dan maaf karena belum bisa memberi banyak hal untuk keluarga ini.

Dan jika suatu hari nanti, ada diantara kalian yang butuh sesuatu, apapun itu, jangan ragu untuk menghubungi gue. Tentang apapun, kapan pun, dan dimanapun kamu berada saat itu. Dan kalau sekiranya itu masih dalam kapasitas dan dalam kemampuan gue, insyaAllah akan gue bantu.

Selangkah lagi.

Selangkah lagi, insyaAllah kita akan mendapat diploma dari kampus ini. Dan setelahnya mungkin kita akan jarang bersama lagi. Mungkin kita nggak akan melihat satu sama lain lagi di tahun depan. Atau menjadi tetangga dan tinggal di satu blok yang sama dimasa depan nanti. Tapi setidaknya, mari kita kuatkan hati untuk bisa sama-sama menebar kebaikan. Mari kita sama-sama memberi karya terbaik. Mari kita sama-sama nikmati perjuangan hidup di depan dengan semangat, dengan antusiasme dan kegembiraan yang sama, yang tiga hari dan dua malam itu sama-sama kita rasakan.

Our path may change as life goes along, but the bond between us remains ever strong.

Dan semoga hidup kita selalu dalam lindungan-Nya. Amin.

Dari seorang anak ilkom 48,
Yang katanya pendiam,
Walau ada juga yang bilang nggak bisa diam,
Yang katanya dulu suka menyendiri,
Yang stand up nya gaje,
Yang katanya kalo ngomong lama,
Yang katanya suka aneh,
Yang katanya bookworm,
Yang katanya dingin,
Yang juga teman satu angkatanmu di kampus,

-

-

-

-

Anas

Bogor, 18  Januari 2015