Jurnal Anas

Resensi Buku: Smarter Faster Better

Kalau saya tidak salah, ini adalah buku kedua Charless Duhigg, setelah “The Power of Habit” cukup nge-hit tahun 2014 kemarin. Tapi jujur, alasan awal saya baca buku ini sebenernya karena buku ini ada di urutan pertama di Amazon untuk kategori “Productivity”. Itu aja.

Dan setelah baca, menurut saya isinya tidak menawarkan ide-ide yang spektakuler nan bikin mind blowing, alias biasa aja. Tapi dari sisi cerita, cara penulisan, dan insight yang dijelaskan di setiap cerita membuat buku ini menarik. Kayaknya seperti merangkum berbagai buku tentang produktifitas sekaligus dengan saling sambung menyambung.

Pertama, yang unik dari buku ini adalah dia tidak seperti buku nonfiksi tentang produktifitas lainnya: sebuah narasi tentang bagaimana si penulis melakukan sesuatu dan memberikan langkah step by step yang menurut dia efektif.

Kenapa saya tahu? Karena saya pernah membaca buku seperti itu, dan agak membosankan sih.

Buku ini pendekatannya lebih mirip gaya menulis Malcolm Gladwell: melakukan research terhadap satu atau beberapa event untuk sebuah ide atau gagasan, menceritakan problem di setiap cerita itu, lalu proses berpikir untuk menyelesaikannya. Setelah itu di akhir cerita Duhigg akan membuat interpretasi kenapa itu bisa bekerja, dan men-decode apa yang menjadi formula dari keberhasilan atau kegagalan tokoh di cerita tersebut. Dan semua cerita ini, tentu, kisah nyata. Itulah alasan terbesar yang membuatnya menarik.

Mirip seperti menyambungkan titik-titik.

Saya tidak tahu sejak kapan, banyak penulis yang saat ini membuat format tulisan atau essay dan buku mereka seperti ini. Membuat berbagai poin dari setiap cerita dan pada bagian akhirnya, membuat koneksi yang menjadikan semua cerita itu terlihat seperti sebuah pola. Mungkin karena kita sebagai manusia pada dasarnya adalah story teller, cara ini selalu berhasil menarik perhatian.

Kalau kamu suka dengan buku seperti ini dan suka membaca untuk menikmatinya, ini akan jadi buku yang sangat menarik.

Yang mau saya bicarakan disini adalah sedikit tentang beberapa ide random yang saya ambil dari buku ini. Sebenernya, buku ini terbagi ke dalam lima bagian bab, yaitu:

  • Motivations
  • Team
  • Focus
  • Goal Setting
  • Managing Others
  • Decision Making
  • Innovation
  • Absorbing Data

Tapi disini saya tidak menceritakan setiap key point sesuai bab, tapi lebih ke beberapa gist dan hal-hal random yang saya tangkap dari isi keseluruhan buku ini.

Saat Kita Bisa Mengontrol Diri Sendiri, Kita Cenderung Akan Bekerja Lebih Keras

Dan kita akan mendorong diri kita untuk melakukan lebih dari yang sebelumnya kita pikirkan. Dan inilah yang membuat kita bisa punya daya fokus pada sesuatu: saat kita bisa mengontrol diri, termasuk saat kita bisa menggambarkan apa yang akan terjadi selanjutnya, saat kita melakukan sesuatu.

Apa yang akan terjadi pertama kali? apa yang akan jadi hambatan? Bagaimana kita mengatasinya? Meceritakan cerita itu pada diri sendiri tentang apa yang kemungkinan akan terjadi, akan membuat kita lebih mudah untuk menentukan kemana kita harus berfokus saat rencana yang kita buat benar-benar dieksekusi.

Ini mungkin salah satu ide dasar bagaimana produktifitas itu bisa lahir. Saat kita dalam keadaan sibuk, banyak hal yang harus di-handle, dan tenggelam dalam tumpukan inbox yang seakan tidak pernah habis, akan sulit untuk bisa menemukan sense bahwa kita masih mengontrol diri sendiri.

Dan ini penting. Kalau kita mau lihat banyak orang yang produktif banget, kita akan sadari bahwa hari-hari mereka seakan sudah di desain sedemikan rupa yang bisa membuat mereka bisa tampil di panggung dengan lebih baik. Tapi sebenernya yang mereka lakukan adalah membuat filter, dan memilih apa yang penting saja, untuk selanjutnya akan mereka lakukan.

Sisanya, mereka akan bilang tidak. Sering. Banget.

Dan hal ini hanya bisa dilakukan oleh orang yang sadar — bahwa keseharian mereka, hidup mereka, adalah kontrol yang harus dia kendalikan.

Untuk bisa benar-benar produktif kita harus mengontrol perhatian kita. Kita harus bisa mengontrol apa hal yang sebaiknya kita fokuskan, dan bisa membuat keputusan sadar apa yang sebaiknya harus kita abaikan. Kita harus membangun mental model, yang menggambarkan bahwa diri kita lah yang menjadi nahkoda dari setiap pilihan yang ada di depan kita.

Tentang Mencapai Goal

Saya baru tahu bahwa format atau metode SMART goal (Specific, Measurable, Attainable, Realistic, Timely) — yang mungkin udah kamu dengar sejak seminar motivasi waktu SMP di sekolah — awalnya lahir dari eksperimen manajerial General Electrics di tahun 1980-an. Yang merupakan salah satu upaya untuk dapat meningkatkan produktifitas perusahaan, disaat karyawan mereka yang semakin banyak membuat pengukuran produktifitas menjadi lebih sulit.

Idenya adalah dengan membuat sebuah goal yang ambisius, lalu dipotong-potong menjadi sebuah langkah actionable yang lebih kecil, reasonable, terukur, dan punya deadline.

Dan ini berhasil. Dalam beberapa hal, tapi tidak dalam semua hal. Terutama untuk mencapai goal yang butuh daya kreatifitas dan inovasi tinggi.

Satu hal lagi adalah, kebanyakan orang yang gagal dalam mencapai sesuatu, dalam mencapai goal yang dia buat adalah karena dia terlalu banyak memformulasikan nilai yang salah.

Orang yang gagal ini, dia terlalu banyak melihat dan mendengar cerita sukses. Setiap hari seakan ada semakin banyak orang yang sukses dan mengasumsikan bahwa kalau dia hanya melakukan apa yang perlu dilakukan, sepertinya, dia pun akan sukses seperti mereka.

Sampai akhirnya mereka gagal dan tidak bangkit lagi.

Kebanyak orang yang sukses justru kebalikannya, mereka menginvestasikan banyak waktu mereka untuk meng-eksplore dan mencari informasi tentang kegagalan di bidang terkait yang mereka tekuni. Mencernanya, menganalisis, dan membuat rangkaian keputusan yang memungkinkan mereka tidak terjerumus kesalahan yang sama.

Jadi, lain kali kalau kamu mendapat hari yang buruk, atau baru aja mengalami konflik di kehidupan sosial, jangan hanya memberi tahu diri kamu sendiri bahwa lain kali, setelah ini, semuanya akan lebih baik. Tapi, dorong diri kamu untuk benar-benar mencerna dan mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi. Dan belajar dari sana.

Tentang Kreatifitas

Bagaimana tim di salah satu project Disney, film animasi “Frozen”, menyelesaikan masalah krusial dari soal pembangunan karakter yang sebelumnya terlalu “Dark”? Mereka tidak menyelesaikannya selancar yang kita kira. Yang terjadi justru frustasi yang sering muncul, karena jalan keluar belum ada, sementara tenggat waktu semakin dekat.

Sampai suatu ketika, hanya beberapa bulan sebelum film ini selesai, mereka membuka diri dan mendapat ide cemerlang yang akhirnya membawa film ini ke dalam sebuah kesuksesan besar.

Satu hal itu poin tentang kreatifitas yang terkait disitu, dan banyak orang kreatif lainnya alami adalah: kreatifitas tidak bisa disederhanakan dalam bentuk formula. Munculnya kreatifitas, bisa tergantung pada hadirnya kesan yang baru, kejutan, dan elemen-elemen lain yang tidak bisa direncanakan dari awal. Tidak ada Manual Checklist untuk membuat sesuatu yang kreatif.

Tapi itu — kreatifitas, bisa di-trigger dengan mencoba berbagai hal yang baru.

Dan satu bahan yang krusial dan penting yang ikut andil di dalamnya adalah data. Saat ini, untungnya ada banyak data yang bisa kita ambil untuk banyak hal yang kita bisa pikirkan. Bukan hanya untuk sistem dalam skala yang besar, saat ini bahkan kita bisa men-generate dan mengumpulkan Data pribadi diri kita sendiri.

Tapi mengumpulkan data adalah satu hal. Untuk membuatnya jadi sebuah informasi yang bermakna, adalah permainan yang lain lagi.

Kalau kita bisa dengan baik mengolahnya, sudah cukup untuk bisa menyelesaikan banyak masalah yang kita punya. Banyak contoh bagaimana cara seseorang membaca data bisa menghasilkan banyak ide dan keputusan-keputusan penting yang memungkinkan hal-hal yang sebelumnya terlihat tidak mungkin, bisa tercapai. Dari mulai bagaimana mangambil atlet-atlet yang cukup untuk membuat sebuah tim olahraga bisa menang, sampai bagaimana membuat satu sekolah dengan prestasi terburuk di sebuah negara bagian, menjadi sekolah yang berprestasi.

Tapi data ini pedang bermata dua, kalau kita memfokuskan diri pada hal yang salah. Dan terlalu menghabiskan banyak waktu untuk hanya mengumpulkan data sudah jadi bagian dari kesalahan itu. Karena yang penting adalah bagaimana kita bisa mencari data yang tepat, dan mengolahnya dengan benar, untuk bisa menjawab persoalan yang kita punya.

Dan orang-orang yang paling sukses dalam belajar — yang bisa mencerna data yang ada di sekitar mereka, yang menyerap insight yang tersimpan dalam pengalaman-pengalaman hidup mereka dan mengambil keuntungan dari informasi yang terkandung di masa lalu — adalah orang yang akan tahu bagaimana menggunakan kekurangan yang mereka alami menjadi pelajaran yang berharga.


Hal utama dari ide tentang produktifitas adalah sebuah perspektif, bawa setiap pilihan yang kita buat dalam hidup adalah sebuah eksperimen. Setiap hari menawarkan banyak kesempatan baru untuk menemukan pola lebih baik dalam membuat keputusan yang lebih efektif.

Produktifitas adalah tentang bisa menyadari pilihan-pilihan yang kebanyakan orang lain tidak sadari, yang orang lain lewatkan, dan mengambil pelajaran darinya.

Ukuran profuktifitas pun tidak berarti setiap aksi yang kita lakukan harus efisien. Dan itu tidak berarti juga bahwa hal-hal yang sia-sia tidak boleh terjadi. Faktanya, seperti yang Disney pelajari dalam proses kreatif mereka, kadang kita harus mendorong ketegangan terjadi untuk mendorong kreatifitas. Kadang salah mengambil langkah adalah langkah yang paling penting di sepanjang jalan menuju sukses.