Jurnal Anas

Do One Thing Every Day That Scares You

Everything has been composed, just not written down.

- Letter to Leopold Mozart [1780]

Siang bolong di kampus, dua tahun yang lalu..

Saya, bareng Rudi dan Baim waktu itu sedang berjalan dari gedung FMIPA ke perpustakaan pusat IPB. Jarak kedua tempat itu sekiatar 12 menit jalan kaki, dan menanjak. Cukup normal dikalangan mahasiswa sini. Seenggaknya cukup untuk membuat kita semua nggak perlu fitness lagi untuk jadi kurus.

Saat di perjalanan, di waktu sedang sibuk-sibuknya kita memikirkan persiapan skripsi (yang selalu saja dilanda bahaya prokrastinasi yang akut), saya mencoba memulai percakapan yang menyegarkan. Yang 10 menit kemudian, saya sadari adalah sebuah kesalahan.

Do one thing that scare you, every day” celetuk saya tiba-tiba, nggak ada hubungan apapun dengan topik yang sedang dibicarakan sebelumnya.

“Apa?” Tanya Rudi.

“Kalau lu mau maju, lu harus berani apa yang belum pernah lu lakukan. Dan jadiin itu bagian dari kebiasaan.. Sesuatu yang bikin lu takut.” Ungkap saya dengan semangat. “Kalau bisa sehari tiga kali..”

“Terus?” Baim mencoba kontributif dalam percakapan ini.

“Hmm..” Saya mikir bentar.

Nyari ide.

Yang ternyata lama.

Dan nggak menghasilkan apa-apa.

Sampai akhirnya Baim menawarkan ide bagus.

“Gini aja.. Ini kan masih jauh.. Dan ada banyak orang di sepanjang jalan.. Gimana kalau kita jailin?” Baim, yang saat itu (belum) menjabat sebagai ketua BEM fakultas, mengajukan gagasan yang penuh inspirasi. 
 “Gimana im?” Saya dan Radi barengan.

“Gini..” Baim berhenti bicara. Lalu dia berjalan ke depan lebih cepat, menyilangkan kakinya dengan tiba-tiba, dan akhirnya menjatuhkan diri ke tanah. Setelah itu bangun lagi sambil menyerukan nada kemenangan, “gituu..!!”

Ya, aneh memang.

“Jadi jatuhin diri sendiri di depan orang tiba-tiba?”

“Yoi”

Saya dan Rudi terdiam sebentar. Merenungi ide absurd ini sejenak.

Lima menit berlalu. Lalu kami merentak bersama.. “Oke!!”

“Tapi lu dulu yang contohin.. Gue belum liat jelas tadi..” Ucap saya yang sebenernya hanya kedok untuk gak mulai duluan.

“Ya udah, gue dulu, nanti gantian ya!”

Semua mengangguk. Dua diantaranya ketawa sediri dalam hati: Saya dan Rudi.

Tantangan pun dimulai. Waktu itu ada beberapa orang yang kebetulan ada di depan jalan yang kami sedang lewati.

Salah satunya seorang mahasiswi yang sepertinya anak Fakultas ekonomi, sedang berjalan bersama temannya. Saya dan Rudi memberi kode bahasa tubuh ke baim, yang artinya, “lihat arah jam 12! Go!”

Baim mengangguk, sedikit meremehkan tantangan, lalu memulai langkahnya kearah dua mahasiswi yang malang tadi. Dia tahu, saat langkah kaki pertama itu selesai, dia sudah memulai. Dan nggak bisa berubah pikiran lagi.

Baim berlari kecil memutar, agar bisa ada didepan dua orang tadi, mencoba mempersiapkan kuda-kuda untuk jatuh. Saya dan Rudi menjauh. Pura-pura nggak melihat. Biar kalau Dia gagal, kita nggak ikut kena malu. Brilian.

Baim berjalan dengan seolah dia sedang nggak fokus. Akting-nya boleh juga. Setelah sekitar 2 meter didepan dua mahasiswi tadi, dia melakukan apa yang sebelumnya dia lakukan, persis sama: Menjatuhkan dirinya ke tanah. Ditambah dengan teriakan, “aduh!”, Yang membuatnya semakin lebay.

Dua mahasiswi tadi berteriak refleks. Salah satunya hampir menjatuhkan buku yang sedang dia bawa, sementara teman di sebelahnya menutup mulut mencoba menahan teriakan. Setelah pura-pura tidak sadarkan diri selama dua detik, Baim kembali bangun dari lantai. Dan berjalan seperti biasa. Tanpa mengatakan apapun. Tanpa merasa berdosa. Jalan, jau, teriak, jalan lagi.

Nggak jelas banget memang. Tapi operasinya sukses.

Sial.

Singkat cerita, akhirnya sepanjang perjalanan ke lsi tadi, baim sudah terjatuh di depan 5 orang (mostly girls, because that what make this a challenge, right?) Dan semuanya menjerit tiba-tiba. Seru juga. Tapi sayangnya nggak sempet direkam.

Oh ya, saya dan Rudi? Nggak jadi ikutan tantangan itu, karena sudah sampai di lsi. Yap, alasan lagi memang


Sekarang, abaikan cerita diatas.

Kecuali pada satu hal: Quote yang jadi judul tulisan ini, dari seorang bernama Waldo Emerson. Quote ini dia populerkan pada tahun 1931, lewat tulisan disebuah majalah, “Boy’s Life”.

Ini potongan artikelnya:

“Every day you are placed in some situation that definitely tests you. It requires courage to practice patiently in spite of discouragement until you have acquired proper form in swimming, life saving, or some other activity. Almost every step of progress that you make will be in the face of difficulty and discouragement. But don’t let it beat you! Always do what you are afraid to do..”

Dan dari beberapa sumber yang saya dapet, quote ini ternyata cukup banyak [dipopulerkan oleh banyak orang lain juga], dan dari berbagai generasi. Termasuk Eleanor Roosevelt, di bukunya yang berjudul, “You Learn by Living” dalam sebuah bab, ”Fear — the Great Enemy”. Di sini dia menceritakan problem yang dia alami sewaktu kecil dan apa yang mempengaruhi dirinya karena saat itu dia punya sifat takut yang berlebihan.

“Fear has always seemed to me to be the worst stumbling block which anyone has to face. It is the great crippler. Looking back, it strikes me that my childhood and my early youth were one long battle against fear.”

Oke, kita tahu konteks sesuatu yang menakutkan untuk dilakukan ini terkait pengembangan diri, entah dalam keahlian atau keterampilan hidup. Tapi cerita jailin orang tadi sepertinya cukup relevan untuk jadi patokan karena dua hal:

  1. Jailin orang itu nggak begitu berguna, tapi oddly satisfying. Kenapa? karena..
  2. Menantang. Kalau jailnya nggak berlebihan dan dilakukan dengan benar, itu bisa mempererat hubungan. Tapi kalau sedikit saja salah, bisa saja dianggap ofensif. Disitulan tantangan terbesarnya.

Dan inilah yang menjadi akar yang membuat kita nggak berani untuk memulai sesuatu yang belum pernah kita kenal. Atau lingkungan yang masih asing, suasana yang nggak biasa, dan resiko yang belum pernah kita ambil. Ada rasa takut, yang membuat kita enggan untuk berubah, dan keluar dari area aman yang sedang kita tempati.

Kita takut untuk gagal.

Lalu, bagaimana dengan para inovator kelas dunia? Yang menghasilkan banyak karya luar biasa dan selalu sukses dengan apa yang dia lakukan, apakah mereka berbeda? Apakah mereka nggak pernah merasa takut juga saat melakukan sesautu yang menantang, baru, atau yang belum pernah orang lain lakukan?

Kita cenderung menganggap mereka berbeda, dan itu pasti yang membedakan top performers atau world leaders dengan orang biasa yang lain: mereka nggak pernah takut. Apa itu benar? Salah. Mereka juga takut. Rasa takut yang sama yang kita semua rasakan.

Para inovator, para originals, mereka juga takut gagal, tapi yang membedakan mereka dengan yang lain adalah mereka lebih takut untuk nggak mecoba, ketimbang takut untuk gagal.

Mereka tahu dalam jangka panjang, sebagian besar apa yang mereka sesali bukan pada aksi yang pernah mereka lakukan, tapi karena tindakan-tindakan yang nggak mereka lakukan.

Hal-hal yang kita harapkan untuk bisa kita lakukan kembali, [menurut penelitian], adalah pada kesempatan-kesempatan yang nggak kia ambil. In the end, what we regret most are the chances we never took.

Elon Musk pernah bilang, dia nggak punya ekspektasi bahwa Tesla akan sukses. Beberapa peluncuran awal SpaceX akan gagal untuk bisa sampai ke orbit, alih-alih sampai bisa kembali pulang, “but it was too important not to try”, katanya.

Dan kabar baiknya adalah, kamu nggak akan dinilai orang dari ide-ide kamu yang gagal. Kebanyakan orang mengira itu akan terjadi, mereka takut kegagalannya digali habis-habisan dan memastikan biar kamu nggak melakukan hal bodoh lagi. Well, kenyataannya nggak ada orang yang peduli juga sih kayaknya.

Sayangnya itu membuat banyak dari kita yang nggak berani untuk bahkan membicarakan ide keren itu di depan banyak orang, karena bisa jadi itu ide yang nggak masuk akal. Yang aneh, nggak bermakna, dan nggak layak untuk berhasil. Bisa jadi benar. But guess what? Innovators have lots and lots of bad ideas.

Salah satu karya Thomas A. EdisonSalah satu karya Thomas A. Edison

Tahukah kamu Thomas Alfa Edison pernah membuat boneka seram yang bikin takut bukan hanya anak kecil, tapi orang dewasa? Yap, ini beneran. Entah apa yang dia pikir keren dari boneka berbicara itu. Tapi tebak, apakah ide boneka itu yang membuatnya dikenal? Nggak, doi dikenal karena kontribusinya dalam penemuan lampu pijar. Dan semua orang tahu itu.

Mari kita jujur, dan tanyakan pada pada diri kita sendiri:

Sewaktu kita kecil, selalu ada orang yang membuat keputusan untuk kamu, dan kamu mempercayai mereka tentang hampir semua hal: orang tua, guru-guru kita, atau seorang kakek yang biasa membantu kamu menyebrang jalan saat pergi ke sekolah.

Lalu seiring waktu berjalan, kita bertambah dewasa. Dan kita semakin sadar pada fakta bahwa ada banyak kemungkinan yang bisa terjadi di dunia yang kita jalani. Dan nggak ada orang membari tahu kamu lagi apa yang harus kamu lakukan, untuk setiap hal — sekecil apapun yang kamu lakukan.

Kamu harus membuat keputusan-keputusan sendiri. Dan berharap pilihan itu adalah yang terbaik.

Dan ketika kamu memutuskan pilihan mana yang terbaik, apakah kamu selalu yakin? atau apakah kamu selalu yakin, bahwa setiap pilihan yang kamu putuskan adalah yang terbaik, yang nggak membuat kamu khawatir sedikit pun?

Apakah rasa khawatir bahwa kamu bisa saja membuat keputusan yang salah, pernah nggak ada sepenuhnya? Hilang sama sekali?

Rasa khawatir, takut, atau keraguan biasanya lahir karena kita ingin melakukan semuanya dengan sempurna. Dan disaat yang sama kita nggak mau mebuatnya berantakan. Dari mulai project, karir, atau hal-hal kecil yang sering kita hadapi bernama hidup: Kita nggak mau itu semua gagal.

Rasa takut itu akan selalu ada. Dan kita perlu tahu, bahwa itu normal. Tapi membuatnya mengalahkan passion yang kita punya bukanlah keputusan terbaik.

Rasa khawatir itu nggak akan pernah lari. Dan bisa saja datang tiba-tiba, nggak peduli diri kita siap atau tidak. Dari pada mencoba melawannya, mungkin akan lebih baik bila kita menjadikannya sebagai teman, dan dan bersahabat dengannya.

Tapi kemudian, berjalanlah, lanjutkan petualangan. Dan jangan melihat ke belakang.

Menghasilkan karya yang bagus dan melahirkan inovasi-inovasi original, apalagi yang bisa membantu banyak orang tidaklah mudah. Itu hal sulit, yang semua orang jenius pun mungkin akan setuju. Tapi percayalah: Itu adalah cara keren yang bisa kita lakukan untuk membangun dunia yang lebih baik.

Takut gagal itu manusiawi. Dan semua orang merasakannya.

Bedanya, ada sebagian kecil dari mereka yang lebih takut untuk nggak mencoba. Termasuk yang manakah diri kita, itu pilihan masing-masing.

Pilih dengan bijak.

Letter art by: widuri