Titik-titik

Baru sadar, udah lama nggak posting blog dan tulisan ini adalah posting pertama di tahun 2016. Kebetulan juga kemarin umur saya bertambah, tapi sebenernya bahasan ini bukan tentang itu sih. Well, sedikit hhe..

Hanya menyadari, bahwa waktu udah berjalan cepat sampai kita sering kali nggak menyadarinya. Dan ketika saat itu datang, nggak ada salahnya untuk berhenti sejenak dan melihat jejak-jejak kaki ini melangkah, dan belajar dari goresan-goresannya.

Pertama, sedikit mencoba melihat ke belakang di tahun 2015 kemarin. Karena tahun 2015 ini cukup banyak merekam memori penting yang beberapa diantara baik secara langsung ataupun nggak, membuat saya memandang banyak hal lain dengan cara berbeda.

Ada beberapa hal yang saya pikirkan tentang ini. Tapi sebelum itu, saya mau cerita sedikit..

Tentang 2015

Salah satu hal yang membuat tahun 2015 ini spesial adalah karena, yap, saya lulus kuliah S1 di tahun ini. Yeaay! Alhamdulillah.. Empat tahun di IPB menjadi hal yang nggak akan bisa saya lupakan, terutama orang-orang di dalamnya.

Setelah ini mungkin udara segar dari pojok koridor Al-Hurriyah yang memandang langsung ke pegunungan akan jarang saya rasakan lagi. Jalan berbelok dan menanjak curam dari Fakultas Pertanian ke Fakultas Perikanan yang biasa saya lalui saat pergantian kelas mungkin sulit untuk saya rasakan lagi.

Rimbun pohon-pohon besar di yang mengelilingi danau LSI, suara teriakan Roger yang menjual pulsa, juga dengan gaduh suara-suara mahasiswa di sekitarnya masih bisa saya rasakan dalam imajinasi ini, tapi akan terasa berbeda. Tapi itu cukup untuk membuat saya mengingat, bahwa saya pernah ada disana. Belajar, bermain, berjuang, dan bersenang-senang di Institut ini. Itu cukup untuk membuat saya bersyukur, karena saya pernah menjadi bagian nyata dari gambaran itu, dan hidup disana.

Perjuangan kuliah saya cukup unik mengingat saya belajar Ilmu Komputer di Institusi berlabel pertanian. Juga butuh waktu untuk bisa beradaptasi dengan sebagian orang di dalamnya. Sampai akhirnya saya sadari, ini justru bentuk peluang tersendiri. Inilah yang membuat perjalanan ini menarik. Dan saya bersyukur bisa ada disana, dan menjadi bagian dari mereka.

Saya masih ingat ketika awal-awal masuk kampus IPB. Banyak hal membuat saya selalu penasaran. Tentang bagaimana saya akan melangkahkan kaki disini, kemana, dan apa yang akan saya ingin coba raih. Memori yang biasanya banyak orang alami saat mereka ada di satu titik, dan menyadari bahwa setelah melangkahkan kaki dari situ mereka nggak boleh melihat ke belakang lagi.

Satu semester pertama, saya jadi mahasiswa asrama yang baik, tapi saya juga pernah jadi anak asrama yang bandel di semester berikutnya. Saya juga ingat pengen aktif di suatu organisasi, tapi nggak dengan organisasi kampus. Lalu saya mencoba berkecipung di luar, dan bermain disana, sampai akhirnya di tingkat tiga saya berubah pikiran, dan bergabung dengan organisasi kampus dengan cara yang nggak biasa.

Saya juga pernah lupa jadwal UTS di tingkat pertama, lalu dengan panik ujian tanpa persiapan apapun. Saya pernah coba bikin bisnis SASS kecil, berjalan, lalu akhirnya mati. Pernah juga dua kali bikin komunitas beberapa bahasa pemrograman yang belum ada di kampus, berjalan, lalu akhirnya mati lagi (tapi alhamdulillah, angkatan setelahnya menggiatkannya lagi dan berjalan lebih baik).

Bubur kacang hijau langganan sewaktu masa-masa di asrama untuk makan malam yang minimalis tapi cukup berenergiBubur kacang hijau langganan sewaktu masa-masa di asrama untuk makan malam yang minimalis tapi cukup berenergi

Lalu akhirnya datang tahun keempat.. Pemilihan topik skripsi, dan saya memilih topik yang di mata kuliahnya sendiri justru saya dapet nilai kecil. Tapi akhirnya itu jadi perjuangan skripsi yang seru yang saya alami.

Bukan hanya tentang skripsinya, tapi juga perjalanannya. Rasanya, baru aja kemarin rutinitas saya adalah untuk dateng ke kampus pagi-pagi lalu ke lab AC sebagai base saya dan teman-teman satu topik (yang niatnya) untuk mengerjakan skripsi. Lalu sorenya setelah lab di tutup, pindah ke perpustakaan LSI bareng Tri sampai pulang jam 9 malem. Yang semua waktu satu hari itu, kalau di-agregat, waktu yang dipake untuk benar-benar ngerjain skripsi mungkin nggak sampai dua jam :v

Saya masih ingat gosip-gosip yang diomongin saat itu, kepanikan-kepanikan yang terjadi akibat baru bikin slide presentasi H-1 seminar (itu saya btw), sampai momen saat saya melakukan kebiasaan aneh mem-foto bulan di malam hari.

Sampai pada akhirnya, setelah toga itu saya pakai 4 bulan yang lalu, di hari wisuda, saya menyadari bahwa empat tahun kebelakang ini semua memori ini bukan hanya tentang saya dan studi saya. Jauh lebih dari itu, perjalanan ini adalah tentang orang-orang yang ada didalamnya, dan cerita-cerita yang ada karena kehadiran mereka. Dan itulah yang membuat empat tahun saya di Institut Pertanian Bogor menjadi begitu berharga.

Tapi ini bukanlah akhir, ini adalah awal yang baru. Di depan ada dunia yang lebih menantang untuk diterjang, masih ada perjalanan yang harus ditempuh, dan hal-hal baru didalamnya yang belum tersentuh.

Waktu berlabuh disini sudah habis, dan kaki ini harus mulai bergerak lagi. Lebih cepat.

Tentang 2016

Seperti yang biasanya saya mencoba membuat list kecil di tanggal 1 januari. Entah memang untuk dijadikan patokan setahun kedepan atau hanya karena jutaan orang lain di dunia juga melakukan hal yang sama.

Sebenanya ada concern tersendiri buat saya tentang ini. Sepertinya kalau nulis resolusi, saya bisa nulis banyak hal tapi kadang justru ini yang menjadi pikiran. Awalnya memang akan memotivasi, sampai pada akhirnya saya berubah pikiran ditengah jalan, atau ada banyak alasan yang membuat daftar list tadi nggak bisa dicapai saat itu (dan alasannya akan selalu terlihat valid). Lalu semuanya akan berulang sampai tahun yang baru datang lagi.

Ini normal. Tapi nggak melakukan apa-apa bukanlah pilihan. Ada sesuatu yang harus dilakukan.

Dunia, memang, nggak bergerak linear seperti apa yang kita pikiran logis kita bisa perkirakan. Kadang ada hal-hal yang terlihat sederhana untuk dicapai bisa aja jadi lama dan nggak terlihat selesai, tapi ada juga hal-hal yang bisa jadi awalnya terlihat nggak mungkin justru bisa terjadi begitu aja, dan hidup kita berubah saat itu juga.

Dan itulah kenapa, kali ini saya mencoba berpikir dengan pendekatan yang berbeda.

Satu atau dua tahun yang lalu kita mungkin punya gambaran berbeda tentang diri kita saat ini. Kejutan-kejutan hidup datang dengan sendirinya dan membawa kita ada di satu titik ini, dan kita nggak sadar bahwa ada banyak hal yang berubah. Skenerio-Nya memang selalu mengejutkan.

Nggak ada yang salah dengan mencoba memetakan hidup setahap demi setahap dan mencoba meraih titik yang saat itu kita inginkan, yang saat itu kita anggap terbaik. Tapi berkeyakinan bahwa semuanya akan berjalan persis sesuai apa yang kita bayangkan mungkin hanya fantasi.

Sepuluh tahun dari sekarang, apa yang kita lakukan saat ini mungkin sudah nggak relevan lagi, kita mungkin akan berada di negara yang berbeda, dan industri yang saat ini sedang jadi trend, mungkin sudah lenyap. Dan diri kita sendiri pun akan berubah.

Tapi kebiasaan-kebiasaan yang baik, saya yakin akan membawa kita pada hal-hal yang baik. Nah, kenapa nggak mencoba untuk fokus kesitu aja? membangun kebiasaan-kebiasaan yang baik. Jadi kalau ada goal apa yang benar-benar ingin saya capai tahun ini, jawabannya adalah punya kebiasaan-kebiasaan baik yang baru dan mempertahankannya.

Kebiasaan-kebiasaan yang membuat diri saya jadi lebih baik, beribadah dengan lebih baik, dan memberi lebih banyak manfaat.

saya mau mencoba untuk lebih Essentialist dalam memilih kegiatan dan dan memangkas hal-hal yang nggak bermanfaat. saya juga ingin melatih kebiasaan untuk melakukan Deep Work pada hal-hal esensial yang saya lakukan.

Oh ya, sebenarnya ada juga target-target kongrit untuk tahun ini. Masih terlalu umum untuk disebut sebagai goal, tapi cukup spesifik untuk dijadikan patokan yang insyaAllah mau saya coba:

  • Travelling. Belum ada rencana kemana. Sambil siapin tabungannya dulu sih. Kedepannya mungkin saya akan jadikan ini kebiasaan rutin yang berlanjut sampai ketika udah berkeluarga nanti. Setiap tahun patokannya adalah mengeksplore satu negara. Saya rasa pengalaman seperti ini akan membuat kita berpikir lebih luas. Tapi tentu, ini berarti saya juga harus memikirkan bagaimana menyediakan budget-nya.
  • Nulis. Target tahun ini adalah 15.000 kata. Entahlah apakah saya akan benar-benar ngitung jumlah katanya atau nggak (tapi kodingan scriptnya udah dibuat sih). Tapi seenggaknya kalau diprint bisa setebal satu atau dua buku.
  • Fitness. Tiga minggu sekali, main tenis meja nggak termasuk.

Sebenarnya ada juga beberapa skill teknis yang menjadi fokus saya saat ini seperti React-Redux dan Ruby on Rails.. khususnya sekarang saya sedang fokus untuk membangun Progressive Web App (PWAs).

Mungkin nanti list ini juga akan bertambah lagi karena di dunia IT yang saya dalemin, hal-hal keren bisa aja muncul tiba-tiba. Dan akan mengubah dunia persilatan saat itu juga.

Tentang Dunia Pasca Campus

“If you’re early on in your career and they give you a choice between a great mentor or higher pay, take the mentor every time. It’s not even close. And don’t even think about leaving that mentor until your learning curve peaks.

There’s just nothing to me so invaluable in my business, but in many businesses, as great mentors. And a lot of kids are just too short-sighted in terms of going for the short-term money instead of preparing themselves for the longer term.” 

Stanley Druckenmiller Business Week

Kebetulan setelah ujian sidang, saya langsung terjun ke Industri dan sampai sekarang – berarti sudah sekitar 5 bulan menjadi Front End Developer di Bukalapak.com. Can’t complain. Great company. Seru dan bisa belajar banyak dari orang-orang didalamnya.

Salah satu spot favorit saya di kantor terutama ketika malam hari adalah tempat ini (yap, karena biasanya saya pake ruang perpustakaan kalau lagi mau nginep aja :v)

Saya juga coba mempersiapkan petualangan-petualangan lain di depan. Karena bisa aja ada momen-momen penting terjadi disaat yang nggak terduga dan pintu itu harus saya buka saat itu juga, dan saya harus siap.

Saya nggak tahu, mungkin nanti saya mungkin udah merilis beberapa side project, atau mungkin juga lanjutin kuliah dan pindah Boston atau Cambridge, atau bisa juga memulai persiapan awal bangun startup baru atau justru tenggelam di hal lain yang bahkan belum saya pikirkan saat ini.

Entah apapun itu, yang pasti tahun ini, orientasi saya adalah membangun kebiasaan-kebiasaan baik dan bisa belajar sebanyak mungkin di tempat saya saat ini pada sebanyak mungkin orang yang saya bisa temui. Terutama dari mentor-mentor saya saat ini.


Sudah hampir tiga bulan tahun 2016 berjalan, dan sudah banyak momen-momen terekam. Dan ini baru aja dimulai, karena masih akan ada banyak pertualangan baru di depan.

saya bersyukur untuk semua hal yang bisa saya ambil hikmah dan pengalamannya ditahun 2015. Dan berharap hikmah-hikmah itu nggak hanya dijadikan koleksi, dan bisa bermanfaat untuk mengambil keputusan-keputusan kedepannya.

Walau udah telat banget, selamat datang 2016! semoga 9 bulan kedepan ada banyak hal yang bisa saya beri, insyaAllah. Tahun 2015 memberi banyak nostalgia tentang kehidupan kampus, tapi 2016 juga adalah awal baru yang seru untuk kehidupan yang lebih dinamis.

Saya melihat sudah ada banyak perubahan yang menarik dilingkugan sekitar saya. Ada teman-teman yang pulang ke daerah asalnya dan mengabdi disana, ada juga yang dengan berani mengambil langkah untuk berdiri membangun start-up company sendiri, ada juga yang lanjutin kuliah, dan banyak hal lainnya yang terjadi.

Melihat ini, semakin memberi saya gambaran bahwa kita dan banyak orang lainnya memilih jalan yang berbeda. Dan dengan melihat satu sama lain, denga saling mencoba mengerti, kita akan semakin banyak belajar. Bahwa perbedaan-perbedaan ini baik adanya. Inilah yang justru akan membuat kita semakin erat:

Karena kita membutuhkan perbedaan ini, lebih dari yang kita duga. Karena titik-titik random ini ketika pada saatnya nanti, akan bertemu. Lalu saling berhubungan. Dan titik-titik ini akan menjadi alasan yang membuat cerita ini semakin indah.