Jurnal Anas

Saat Berita Membanjiri Ruang Hidup Kita

Kamu tahu Andi? mungkin kamu nggak kenal Andi. Tapi sebenarnya kamu tahu Andi, dan dia ada diantara teman-teman kamu. Seengaknya kamu tahu salah satu dari mereka adalah Andi. Atau mungkin, kamu sendiri adalah Andi.

Nggak peduli apakah memang ada salah teman kamu yang beranama Andi atau nggak, Andi ada dimana-mana.

Dia adalah remaja normal kekinian seperti yang lainnya. Andi kuliah, dia suka makan gorengan, dan dia juga punya cita-cita. Satu ciri khas dari Andi adalah setiap dia buka akun media sosial atau browsing, dia selalu baca berita. Tentang apapun itu itu, asal menarik.

Dan Andi nggak bisa menahannya untuk nggak membaca berita itu. Dia nggak tahan untuk mengomentarinya.

Dan ketika ada orang yang punya pendapat yang beda, dia nggak tahan untuk membuktikan orang itu salah. Dia suka berdebat, dan dia nggak mau kalah. Untuk itu, Andi akan selalu menggali semua hal tentang apapun berita itu sampai detil supaya argumennya bagus.

Dia adiktif dengan berita. Berbagai jenis berita. Berita kriminal. Berita skandal politisi-politisi. Sampai berita gosip selebriti. Andi suka menonton dan membaca berita, dan dia tahu kalau itu semua informasi, dan informasi berarti bahan pengetahuan. Dan siapa tahu, pengetahuan itu bisa berguna.

Tapi Andi bohong, dia suka baca berita bukan karena ingin tahu sesuatu. Tapi karena itu menyenangkan. Membaca berita, buat dia adalah kegiatan adiktif.

Sampai akhirnya dia sadar, dia udah menghabiskan waktu dua sampai tiga jam melakukan itu semua. Dan nggak mengerjakan tugas yang sebenernya jadi niat awal dia buka laptop.

Dan faktanya, Andi bukanlah outlier. Dia bukan pencilan aneh dalam statistik perilaku masyarakat saat ini. Sebagian besar dari kita adalah Andi.

Entah Andi yang suka baca berita online ataupun Andi yang suka menonton berita TV dari pagi sampai malam. Sebagian besar masyarakat adalah Andi.

Dan yang berbahaya adalah, Andi nggak merasa kalau itu salah. Mengikuti berita itu normal, dan sebagai warna negara yang baik, kita harus awas terhadap perkembangan yang terjadi saat ini. Andi pikir kebiasaannya adalah sesuatu yang baik. Kebiasaan yang edukatif dan bermanfaat.

Tapi menurut saya Andi salah. Salah banget.

Karena Perhatian kita berharga

Mari kita jujur. Berapa banyak waktu yang kita habiskan mengkonsumsi informasi yang kita nggak punya niat untuk mengambil tindakan tentang itu atau yang sebenarnya kita nggak pedulikan?

Misalnya: berita-berita kriminal, yang seolah nggak ada habisnya. Facebook dan Twitter update, gosip selebriti, reality show TV, dan lain-lain.

Dalam era informasi seperti saat ini, kita bisa mendapatkan berita yang nggak relevan dan informasi-informasi yang nggak penting dalam hitungan detik.

Dan problemnya adalah ini: awalnya kita melakukan itu sebagai sesuatu yang biasa. Tapi lambat laun, kita berubah menjadi Andi. Secara nggak sadar kita mengakses banyak berita itu karena sudah menjadi kebiasaan.

Tanpa kita sadari, arus berita ini membuat munculnya Decision Fatigue, meminta kita untuk memilih. Memilih untuk membaca berita, memilih mana acara yang akan ditonton. Semakin banyak pilihan yang kita punya dalam kisaran satu hari, akan semakin menyulitkan kinerja otak.

Semua orang, semua media, semua website, semua chanel TV berebutan untuk bisa mendapatkan perhatian kita. Untuk bisa membuat kita duduk di depan tv selama berjam-jam. Atau untuk bisa membuat kita mengklik link berita itu, membacanya, dan mengklik tautan-tautan lainnya. Memaksa kita untuk nggak berhenti.

Dan semua perhatian yang kita berikan itu, ada harganya. Energi kita perlahan-lahan akan berkurang. Kandungan glukosa dalam tubuh kita berkurang. Stok will power kita menipis. Dan itu membuat kita sulit untuk produktif.

Nggak masalah kalau yang kita baca itu sesuatu yang bisa berakibat positif untuk diri kita. Atau bagian dari pekerjaan kita. Karena itu berarti kita sedang melakukan sesuatu yang produktif. Tapi membaca berita itu konsumtif.

Semua orang suka berita karena itu mudah. Berita adalah tipe informasi yang mudah untuk dicerna.

Nggak seperti membaca buku dan membaca artikel panjang di majalah (yang butuh konsentrasi), kita bisa menelan pasokan berita dalam jumlah yang nggak terbatas. Karena kita menyukainya. Seperti saat kita memakan banyak gula-gulaan atau permen, tapi kita melakukannya pada otak, bukan perut.

Circles of Concern vs. Circles of Control

Dalam bukunya The 7 Habits of Highly Effective People, Steven Covey bilang bahwa semua kegiatan yang kita lakukan sehari-hari bisa dibagi kedalam dua kelompok, yaitu kelompok dalam Circle of Concern dan Circle of Control.

Circle of Concern adalah hal-hal yang biasanya membuang-buang waktu dan memboroskan energi, tapi itu adalah hal-hal yang nggak bisa kita kontrol. Sementara itu, Circle of Control adalah hal-hal yang bisa kita kendalikan.

Sebagai contoh, kebayakan jenis berita – berita kriminal, harga saham, gosip selebriti dan skandal politik – masuk kedalam Circle of Concern. Mereka dapat menghisap waktu dan energi kita, tapi kita nggak punya kontrol langsung pada kejadian-kejadian itu.

Orang yang terlalu fokus pada kelompok kegiatan Cirles of Concern adalah tipe orang-orang reaktif, sementara orang yang memfokuskan kegiatan pada Circle of Control adalah tanda orang-orang proaktif.

Dan percayalah, kita semua ingin jadi orang yang proaktif.

Efek-efek

Kebayakan berita bahkan nggak seharusnya disebar luaskan. Tapi berita memang ada karena ada “market”-nya. Dan kebanyakan berita ini berefek buruk.

Berita mengganggu mental berpikir kita tentang belajar. Pada dasarnya, berita, hampir semua jenis berita ada sebagai bentuk hiburan. Dan seperti halnya jenis hiburan yang lain, berita dibuat agar terlihat menarik. Sisi edukatif hanyalah bonus dari efek samping aja. Hanya bagian dari collateral damage.

Dan ini berpengaruh pada cara kita memandang belajar.

Prinsip dalam pembelajaran, seperti apa yang Josh Waitzkin bilang dalam The Art of Learning, adalah untuk fokus pada satu hal yang kita pelajari secara mendalam, hingga ketingkat mikro untuk sampai bisa mengerti dalam tingkat makro.

Dan kendala kita saat ini adalah kita sedang hidup dalam budaya attention-deficit. Kita dibombardir dengan jauh lebih banyak informasi dan acara-acara televisi, radio, ponsel, video game, dan Internet.

Pasokan konstan stimulus ini berpotensi untuk mengubah kita menjadi pecandu, selalu lapar untuk sesuatu yang baru dan memaksa kita untuk terus terhibur. Ketika nggak ada lagi hal menarik yang terjadi, kita akan akan cepat bosan dan terganggu.

Kita akan terus mencari akses lebih banyak informasi dan hiburan. Dan ini, punya efek yang buruk dalam proses pembelajaran. Dalam proses kita mendalami sesuatu.

Kebanyakan berita itu Lebay. Dan biasanya nggak relevan dengan yang menjadi masalah.

Sebuah mobil berjalan diatas sebuah jembatan, dan jembatannya roboh. Apa yang menjadi fokus media massa? Mobilnya. Orang yang berada di dalamnya. Seberapa parah luka yang dia alami. Dari mana dia berasal. Kemana dia akan pergi. Dan apa yang dia rasakan saat tubrukan itu terjadi (kalau korbannya masih hidup).

Tapi itu semua nggak relevan. Apa yang relevan? Stabilitas struktural jembatannya. Itulah yang menjadi penyebab utama kecelakaannya terjadi, itu membuat jembatannya jadi berbahaya. Dan siapa tau itu juga yang memungkinkan resiko yang sama pada jembatan-jembatan yang lain.

Tapi berita tentang mobilnya lebih menarik, dramatis, ada kisah tentang seseorang disana (si korban), dan itu adalah tipe berita yang mudah untuk dibuat. Seringkali, berita mengarahkan kita memfokuskan diri pada hal yang salah, pada hal yang bahkan mengandung resiko.

Dan seringkali, berita menyajikannya dengan berlebihan. Meremehkan berita-berita lain yang justru lebih penting.

Ancaman teroris itu berlebihan. Fenomena stress akut diremehkan. Kolapsnya Lehman Brothers itu berlebihan. Kasus kesewenang-wenangan fiskal diremehkan. Jokowi mantu itu berlebihan. Kondisi perawat-perawat diremehkan.

Berita membuat cara kita berpikir terganggu. Membuat kita nggak rasional. Menonton berbagai berita tentang sebuah pesawat jatuh di televisi akan membuat kita merasa pesawat penuh sangat berbahaya, nggak peduli probabilitas sebenarnya peristiwa seperti itu terjadi.

Bahwa Semua politikus itu kriminal. Bahwa Semua pedagang makanan itu psikopat yang dengan tanpa merasa berdosa menggunakan zat-zat kimia berbaya dalam dagangan mereka. Kebanyakan berita hanya membuat kita berpikir bahwa dunia yang kita tinggali ini penuh dengan penyakit, semua orang jahat, dan kita nggak bisa merubah itu. Pandangan kita terhadap dunia menjadi berubah. Membuat kita sering kali keliru menyimpulkan sesuatu.

Seperti kata Warren Buffet: ”What the human being is best at doing is interpreting all new information so that their prior conclusions remain intact.” Karena banyak yang diceritakan dalam berita itu mengandung bias, kita jadi overconfidence terhadap sesuatu, memilih keputusan yang salah dan nggak melihat peluang-peluang yang ada.

Berita nggak baik untuk kesehatan. Menerima terlalu banyak berita membuat sistem imun tubuh kita melemah. Dia secara konstan akan memicu sistem limbik. Berita-berita yang membuat kita panik menyulut sekresi banyak glukokortikoid (kortisol). Ini akan meregulasi ulang sistem imun kita dan menghambat keluarnya hormon pertumbuhan.

Dengan kata lain, tubuh akan mengira bahwa kita sedang dalam kondisi stress.


Saya nggak bilang bahwa industri media massa itu harus dihancurkan. Saya juga nggak bahwa sebaiknya kita kembali ke zaman batu atau kembali menggunakan radio kota untuk mecari informasi seperti saat zaman penjajahan.

Membaca informasi itu bagus, mengetahui berbagai berita itu sehat. Itu yang membuat kita masyarakat yang peduli. Tapi nggak terlalu banyak, yang malah membuatnya destruktif. Yang membuat diri kita justru nggak lebih baik, sebagai individu, maupun sebagai bagian dari masyarakat. Toh berita yang benar-benar penting bisa kita lihat dalam headline koran-koran dinding. Atau malah kalau berita itu penting banget, pasti mereka akan dengan sendirinya menyebar.

Yang harus kita tahu adalah bahwa membaca berita itu konsumtif, bukan sesuatu yang produktif. Dan saya nggak bicara tentang berita skandal selebriti. Dan sama seperti semua hal lainnya, sesuatu yang kita konsumsi, walaupun itu ada manfaatnya, kalau berlebihan akan berbahaya.

Karena kita tetap memerlukan aspek jurnalisme. Jurnalisme yang berfungsi sebagai kontrol bagi pemerintah, korporasi, bahkan untuk publik itu sendiri. Sebagai masyarakat, kita tetap butuh industri jurnalisme untuk berkembang. Tapi dalam bentuk yang berbeda.

Kebanyakan berita itu berefek buruk karena sebagian besar hanya berfokus pada sensasinya aja dan kita nggak bisa berbuat apa-apa untuk merubah situasi yang ada. Jadi, nggak semua berita itu berefek buruk. Tapi kebanyakan, ya.

Dan satuhal lagi: seringkali, hal-hal yang buruk masuk dalam keseharian kita justru datang dalam bentuk yang menyenangkan. Yang membuat kita kecanduan. Yang mudah untuk kita nikmati. Yang melalaikan kita. Itu berpengaruh buruk. Dan kita harus tahu itu.

Diagram by: James Clear