Sekat Antara Ekspektasi Dan Harapan

Waktu kelas empat SD, saya mulai suka baca buku. Awalnya hanya buku-buku yang ada ceritanya. Seperti buku fiksi dan novel-novel tahun 80 atau 90-an terbitan Balai Pustaka yang biasanya ada di perpustakaan sekolah. Dan ternyata seru.

Dari situ, saya mulai terpikat dengan serunya berpetualang dengan imajinasi sendiri dengan membaca buku.

Sedikit demi sedikit saya pun mulai menyukai buku-buku nonfiksi. Awalnya saya membaca buku ESQ Ary Ginanjar yang ada di rumah, dan menyukainya karena ada berbagai macam cerita di dalamnya.

Salah satunya adalah cerita menggambarkan teori relativitas Einstein dengan persoalan dua buah pesawat ulang alik yang berbeda kecepatannya. Saya tetap nggak ngerti teorinya, tapi saya suka fakta unik dan penggambaran narasinya.

Dari situ, saya mulai menyukai hal-hal yang berbau fakta-fakta pengetahuan. Membaca berbagai majalah, dari majalah tanaman sampai majalah obat-obatan. Saya juga jadi lebih suka berbagai film dokumenter National Geographic, sampai acara-acara kuis di TV. Dan entah kenapa, saya merasa info-info itu berharga, dan saya ingin merekamnya. Saya ingin mencatatnya.

Saya membeli sebuah buku catatan tebal dengan ukuran kira-kira setengah kertas B5. Saya mencatat apapun yang saya baca, yang saya tonton, dan yang saya temukan. Ketika menonton kuis Who Wants to be A Millionaire, saya mencatat setiap pertanyaan dan jawabannya. Saat saya menonton film dokumenter binatang-binatang, saya mencatat narasinya.

Nggak ada alasan khusus, mungkin saya hanya tertarik melakukannya karena siapa tau itu akan berguna. Yang saya tahu adalah ternyata itu menyenangkan. Bisa membuat sesuatu sendiri itu keren, walaupun itu hanyalah sebuah catatan random.

Dan secara nggak sadar, kebiasaan baru saya ini berpengaruh.

Ketika saya belajar di sekolah, saya entah kenapa bisa menghubungkan fakta-fakta yang pernah saya tulis tadi dengan materi yang diajarkan. Akibatnya ketika saya bertanya atau menjawab sesuatu, penjelasan saya sedikit lebih kaya dan menarik.

Nggak hanya saat dikelas, ketika saya ngobrol pun selalu ada hal menarik yang bisa saya bagikan. Membuat apapun yang sedang dibicarakan terasa lebih seru. Ini membuat guru dan teman-teman menganggap saya pintar.

Kenyataannya? nggak tau deh. Tapi semoga aja bener.

Yang pasti, saya akhirnya didaftarkan untuk tes seleksi siswa teladan tingkat sekolah. Dan akhirnya terpilih. Ini berlanjut lagi sampai ke beberapa tingkat berikutnya. Setiap ada kompetisi cerdas cermat atau apapun, guru selalu meminta saya ikut untuk mewakili sekolah. Saya juga sempat diminta jadi guru kecil.

Yang unik adalah kadang kompetisi-kompetisi yang nggak saya bisa pun, tetap aja ditawari. Saya pernah diikutkan lomba menggambar dan melukis untuk mewakili sekolah. Apakah saya bisa? boro, menggambar dari TK aja nggak pernah berubah: kalau nggak gambar gunung bersawah, ya gambar kapal laut dengan desain paling sederhana yang pernah ada. Dan bener aja, saya nggak menang. Tapi saya nggak peduli.

Yang terpenting adalah saya jadi punya banyak pengalaman baru. Berkenalan dengan teman-teman dari berbagai sekolah lain, dan bisa melihat bahwa dunia ternyata lebih luas dari yang saya kira sebelumnya.

Ada banyak banget anak hebat disana, dan saya ingin bisa menjelajah lebih jauh lagi. Membuat saya punya semangat dan perspektif baru dalam memandang dunia. Dan membuat saya berpikir lebih besar, bercita-cita lebih tinggi.

Yap, semua itu berawal dari kegemaran sederhana saya untuk mencatat. Saat memulai itu, saya nggak punya ekspektasi apa-apa. Saya hanya suka mencatat informasi-informasi yang unik. Entah bagaimana sebelum tidur saya ingin memastikan bahwa ada hal-hal baru yang saya catat, karena ada kepuasan tersendiri disana. Saya nggak tahu spesifiknya apa, tapi yang pasti itu adiktif.

Oh ya, saat kelas enam SD, catatan itu sudah berubah jadi tiga buku yang masing-masing tebalnya sekitar 500 halaman. Banyak teman-teman yang ikut membaca catatan-catatan saya, bahkan ada yang mengkopi semua catatannya.

Melakukan sesuatu dengan memberi ekspektasi tertentu itu satu hal. Tapi kita tahu, melakukan sesuatu tanpa ekspektasi memberi kita kepuasan yang berbeda.

Saat mengetahui bahwa apa yang kita suka lakukan ternyata bisa berarti dan membuahkan hasil, sensasi yang ada sangatlah berbeda. Sejuk. Nikmat. Dan nggak tergantikan.

Rencana, sehebat apapun itu, nggak berarti banyak

If we do not chase our dreams, they will pursue us as nightmares.

Kevin Ashton How to Fly a Horse

Satu hal berharga yang saya pelajari tentang inspirasi: Harga tinggi dari sebuah ide sangat bergantung dari seberapa cepat ide itu diimpelementasikan. Cerita-cerita hebat nggak ada artinya kalau nggak ditulis. Produk-produk jenius nggak ada gunanya kalau belum dibuat prototipe-nya.

Ini karena justru, kadang, ide yang bagus itu berbahaya. Saking hebatnya ide yang kita punya, kita berpikir bahwa mewujudkannya tinggal menunggu waktu yang tepat. Tapi, nggak ada waktu yang tepat. Ide bagus yang hanya untuk dilihat indah, akan menumbuhkan ekspektasi tinggi, yang malah membuang-buang waktu kalau nggak segera dikerjakan.

Ironisnya, itu satu hal yang sering saya lupakan. Karena saya sering banget melakukan kesalahan itu. Menganggap bahwa punya ide yang bagus itu udah cukup. Mengira punya rencana yang hebat itu udah keren. Mengira bahwa hanya dengan bercerita dan membuatnya terdengar inspiratif, apapun yang saya pikirkan bisa jadi nyata.

Dan itu salah. Salah banget.

Misalnya aja, ada banyak hal yang ingin saya tulis. Sebagian udah jadi draft yang entah berapa lama nggak saya sentuh lagi dan saya anggap gagal. Saya nggak menyelesaikannya. Atau nggak sedikit juga hanya jadi satu baris di dalam file “writing ideas.txt”.

Punya sebuah ide yang bagus itu satu hal. Punya rencana yang keren itu satu hal. Melihat peluang itu satu hal.

The Life of A Project - Steal like an artistThe Life of A Project - Steal like an artist

Tapi bisa melakukan langkah pertama dan benar-benar melakukan sesuatu untuk mewujudnya itu bernilai jauh lebih tinggi. Karena butuh keberanian tersendiri untuk melakukannya. Dan kadang motivasi nggak membantu banyak.

Tapi yang paling hebat adalah ketika ada orang yang entah ada motivasi atau nggak, ada mood atau nggak, tetap menghasilkan sesuatu. Tetap mengerjakan apa yang harus dia kerjakan. Menumpukkan satu demi satu batu bata yang ketika saatnya tiba nanti, akan menjadi tembok yang besar nan kokoh. Itulah sosok seorang profesional.

Dan seorang profesional paling efisien, mereka biasanya nggak punya banyak ekspektasi. Mereka selalu melatih apa yang mereka kerjakan dan menghasilkan sesuatu. Nggak peduli bagus atau nggak, akan jadi sukses atau nggak. Tapi mereka menyelesaikan apa yang mereka mulai. Efeknya, karya yang dihasilkan semakin baik.

Saya jadi inget beberapa hari lalu, ketika saya tanya seorang temen apa yang akan dia lakukan setelah lulus, dia jawab, “Belum tau pasti. Sepertinya nggak lanjutin S2 dulu, liat aja nanti. Sekarang mau fokus nyelesein skripsi dulu.”

Saya agak kaget. Karena sebagian besar orang yang pintar biasanya akan menjawab dengan lebih visioner dari itu. Seperti kampus top apa yang akan dia coba daftar. Target ambisius apa yang ingin dia kejar, dan sebagainya. Tapi nggak dengan dia. Dan saya mengerti kenapa.

Kadang, memang ada orang yang terlihat nggak punya banyak rencana dan tujuan. Tapi selalu mendapat akhir yang bagus. Dia dapet apa yang banyak orang lain kejar, padahal sebelumnya nggak begitu ia inginkan.

Menurut saya penyebab hal-hal seperti ini terjadi adalah, karena orang seperti dia, walaupun nggak punya banyak rencana, tapi dia melakukan apa yang seharusnya seorang pemenang lakukan. Nggak peduli dia berekpektasi untuk menang atau nggak.

Mereka produktif. Mereka menyelesaikan pekerjaan dengan baik. Mereka mengerjakan penelitian dengan serius. Mereka biasanya nggak berpindah-pindah pada banyak pekerjaan lain sebelum apa yang dia kerjakan selesai. Mereka menyelesaikan apa yang mereka mulai.

Mereka mungkin terlihat santai dan tenang, tapi mereka nggak diam. Dan yang paling penting adalah, mereka kadang terlihat lebih ceria.

Saya nggak bilang bahwa goal itu nggak penting. Atau punya ide bagus itu nggak penting. Punya target itu penting, ide yang spektakuler itu berharga. Semakin nyata targetnya semakin bagus, dan semakin akan ada asupan motivasi yang muncul. Tapi selama goal itu hanya sebatas goal, selama ide itu hanya sebatas pengindah angan-angan, tanpa mengerjakan apapun yang berarti, itu sama aja bohong.

Pernah ada yang bilang, ”Punya cita-cita yang tinggi dan target yang ambisius, tapi males adalah cara paling indah untuk menyiksa diri.” Mari kita jujur kalau itu memang ada benarnya.

Lebih baik nggak punya banyak tujuan dan ekspektasi tapi bekerja keras, dari pada punya banyak tujuan tapi nggak melakukan apa-apa.

Cita-cita hanya sebatas cita-cita. Ide hanya sebatas ide. Yang hanya membuat ekpektasi meninggi, harapan terbang jauh, dan sampai akhirnya bisa mencekik diri sendiri. Seperti lilin, yang menerangi orang lain tapi dirinya sendiri hancur.


Kadang, kita keliru membedakan harapan dan ekspektasi. Dan keduanya memang terlihat sama. Seperti dua muka dalam satu koin yang sama. Keduanya harus bisa kita kendalikan, walaupun itu sulit.

Harapan itu baik, itulah yang membuat kita bisa terus bergerak. Berani melakukan sesuatu yang baru. Mendorong kita untuk jadi lebih baik. Membuat kita untuk bisa selalu bangkit setiap kali jatuh.

Berbeda dengan ekspektasi.

Harapan adalah sesuatu yang bebas, dia punya sayap untuk terbang. Dia bertengger dalam jiwa kita. Lalu menyanyikan lagu tanpa kata-kata, dan nggak pernah berhenti. Yang menemani dalam kegelapan. Yang membuat titik terendah dalam hidup pun akan terasa lapang, karena selalu ada harapan.

Harapan mengubah keputusasaan menjadi kebulatan tekad. Harapan adalah obat yang sangat ampuh, sebuah dorongan yang sangat kuat.

Berbeda dengan ekspektasi.

Karena hidup sejatinya seperti sebuah permainan yang kompleks. Kompilasi dari kejadian-kejadian yang menyenangkan, anomali, dan kesempatan. Dan seringkali, apa yang kita dapat nggak datang dalam bentuk yang kita harapkan.

Mungkin, ekspektasi itu seperti memakan buah apel. Kamu mungkin menyukai apel dan punya ekspektasi rasa manis dan asam yang “seharusnya”. Dan ketika kamu mulai memakan apel itu, otak kamu akan berinteraksi dan menganalisis rasanya. Apakah semanis yang seharusnya? apakah semasam yang seharusnya? saat itu terjadi, kamu sedang berada di suatu tempat lain, yang bukan sekarang. Kamu nggak lagi mengecap apel dan menikmatinya. Kamu berada di tempat lain.

Membebaskan diri dari ekspektasi akan membuat kita merasakan buah apel itu. Nggak ada yang perlu dipikirkan. Nggak ada yang perlu dicemaskan. Seperti saat kita menikmati hidup dan mengapresiasi semua keindahan yang ada didalamnya.

Karena ekspektasi adalah sesuatu yang mahal. Terlihat indah dan banyak yang mencoba menggenggamnya erat-erat. Tapi sayang, nggak semua orang mau membayar harganya.