Jurnal Anas

Renungan Tentang Nasihat Dan Hikmah

Bayang seorang anak laki-laki berumur dua belas tahun tahun. Seumur anak kelas enam SD yang masih lugu. Dan seperti selayaknya anak kecil yang memiliki saudara-saudara yang lebih tua, nggak ada yang anak ini inginkan selain menjadi seperti kakaknya. Bermain dengan saudara-saudaranya, menjadikan mereka sebagai contoh, sebagai sosok yang ingin dia tiru.

Ketika seorang anak kecil bermain, ia ingin ikut memainkan mainan yang kakaknya punya. Ingin memakai baju yang sama dengan kakakya. Bahkan mencoba meniru berbicara seperti kakaknya. Kakak-kakaknya, bagi anak ini adalah role model, bahkan lebih dari itu, bagi anak ini nggak ada yang lebih penting selain menjadi berarti bagi saudara-saudaranya yang lain. Ia ingin seperti mereka. Sebuah ikatan yang hanya ada pada seorang anak terhadap saudara-saudaranya.

Suatu hari, sang ayah anak ini, seperti biasanya pergi bekerja yang jaraknya cukup jauh dari rumah. Sang ayah dibantu oleh anak-anaknya yang sudah cukup besar, kecuali tentu saja anak kecil tadi tidak diajak. Dan seperti lazimnya seorang anak kecil, ia tentu saja ingin ikut. Tapi tidak diperbolehkan oleh ayahnya karena terlalu berbahaya, kalau-kalau ada serigala yang bisa membahayakan si anak. Kecuali hari itu.

Semua kakaknya membujuk sang ayah untuk mau mengajak sang adik kecil tadi ikut bersama mereka ke gurun. Membiarkan dia bermain diluar, dan biar saudara-saudaranya yang lain menjaga si anak dari bahaya. Sang ayah tetap menolak, dan tidak mengijinkan adik kecil tadi untuk ikut. Tapi saudara-saudaranya yang lain terus membujuk sang ayah, meyakinkannya bahwa sang adik akan terjamin keamanannya. Mereka berjanji akan menjaganya dengan baik, dan memastikan tidak akan ada masalah. Akhirnya sang ayah luluh. Ia membolehkan adik kecil tadi untuk ikut. Sang adik senang tak kepalang.

Namun malang nian nasib menimpa. Sepulang berladang, adik kecilnya hilang. Saudara-saudaranya pulang bermandikan air mata sambil membawa baju berlumuran darah, memberitakan bahwa sang adik telah tewas diterkam serigala.

Kita semua tahu apa yang terjadi setelah itu. Sang ayah marah dan menangis sedih dalam waktu yang lama. Kita juga tahu apa yang sebenarnya terjadi, semua kakak dari anak kecil tadi bekerja sama mengikat tubuh adik mereka, memukulinya dan dibuangnya kedalam sumur. Semua itu karena rasa iri yang saudara-saudaranya rasakan terhadap adik mereka. Rasa dengki karena adik kecil terlihat lebih disayangi ayahnya dibanding dengan yang lain.

Ya, ini adalah kisah Nabi Yusuf as. Dan ini hanyalah awal dari kisah panjang beliau sampai akhirnya di suatu hari nanti, Yusuf yang dulunya dibuang akhirnya menjadi pejabat penting di mesir. Seorang menteri yang mengatur dan menjaga kesejahteraan negara di masa-masa sulit, bahkan akhirnya menjadi raja.

Tapi yang ingin saya coba bilang disini adalah, kebayang nggak sih perasaan Nabi Yusuf as saat ia di tinggalkan, dimusuhi dan dicelakai oleh semua saudaranya sendiri? Kebayang nggak sih trauma emosi yang beliau alami saat itu? Sehancur apa perasaan beliau ketika tahu saudara-saudaranya membecinya sampai rela nyaris membunuhnya? Rasa sedih seperti apa yang beliau alami ketika dikhianati seperti itu? Yang pasti itu akan sangat-sangat meneyedihkan.

Dimusuhi oleh orang lain, atau dicelakai oleh seorang yang memang lawan, itu satu hal. Tapi dibenci oleh saudara-saudaranya sendiri, oleh yang diidolakannya sendiri, itu hal lain. Akan ada gejolak emosi hebat dalam diri orang yang mengalami pengalaman hidup sekejam itu.

Kita juga tahu, ujian Nabi Yusuf as juga bukan hanya itu. Beliau dijual di pasar mesir lalu dia dibeli dengan harga yang sangat murah. Kemudian Nabi Yusuf as menghadapi rayuin dari isteri seorang pria yang mempunyai jabatan penting saat itu. Ketika ia menolak rayuannya, ia pun dimasukkan ke dalam penjara. Dalam beberapa waktu, beliau menjadi tahanan di penjara dan dihinakan.

Ini hanyalah satu dari sekian banyak kisah yang ada dalam Al-Quran. Yang salah satu tujuannya adalah agar kita bisa belajar. Agar kita bisa tahu, bahwa seberat apapun kesulitan hidup, seberapa besar pun kesedihan yang dialami seseorang, menyerah bukanlah pilihan. Karena kesulitan-kesulitan hidup dan berbagai kesedihan mendalam pun pernah terjadi. Dan kita bisa mengambil hikmahnya, menjadikannya nasihat untuk diri kita.

Al-Quran memberi kita panduan bagaimana sikap kita saat kesedihan, dengan berbagai macam bentuknya datang ke kehidupan kita. Kita hanya tinggal mengambil hikmah dari itu semua. Tapi sayangnya nggak banyak orang yang melakukannya.

Perspektif

Cerita singkat tadi sebenernya bagian dari ceramah Ustadz Nouman Ali Khan di Queens College, yang judulnya “Quran’s Remedy for Sadness”. Kalau kamu punya waktu satu jam, saya sarankan dengerin ceramah lengkapnya sekarang juga, mungkin itu akan jadi satu jam yang mengubah hidup kamu. Serius.

Akhir-akhir ini, saya memang anteng mendengar kajian-kajian dari ustadz Nouman Ali Khan. Beliau adalah pendiri Bayyinah Institute - Program pembelajaran bahasa Arab terbesar dan terpesat perkembangannya di Amerika. Salah satu efek transformatif dari hampir setiap kajian beliau adalah selain mudah dipahami dan penyajiannya menarik, isinya juga membuat saya semakin ingin lebih dekat degan Al-Quran. Semakin membuat saya sadar bahwa kita benar-benar membutuhkan Al-Quran.

Selama ini mungkin banyak orang yang mengira bahwa makna ayat-ayat Al-Quran hanya bisa dibaca oleh para ulama atau yang memang sudah banyak belajar tafsir dan bahasa Arab. Orang-orang biasa kayak saya dan kalian yang nggak banyak mengerti, mungkin merasa kalau Al-Quran sulit dirasakan langsung manfaatnya. Padahal sebenarnya, justru salah satu peran penting Al-Quran adalah agar bisa menjadi hikmah untuk kita.

Dan satu hal yang ustadz Nouman coba ubah adalah perspektif awal yang kita punya tentang Al-Quran. Bahwa Al-Quran adalah sumber nasihat bagi kita, di setiap situasi hidup apapun yang sedang kita alami saat ini. Termasuk nasihat kalau kita sedang ada masalah.

Kita semua punya masalah kan? Masalah keluarga, masalah akademik, masalah dengan lingkungan, dan lain-lain. Dan apa yang akan kita lakukan saat menghadapi sebuah masalah? Biasanya kita akan mencari teman untuk bercerita.

Nah sekarang, bayangkan masalah terberat yang pernah kamu alami. Mungkin kamu gagal masuk jurusan atau tempat kuliah, sahabat kamu kecelakaan, atau yang lainnya. Kadang ada masalah yang membuat kita berpikir bahwa orang nggak akan mengerti apa yang kita rasakan. Dan mungkin ada juga orang-orang yang nggak mau menceritakan masalah yang dia hadapi. Saking besar dan traumatisnya masalah tersebut, dia nggak mau membagikan kesedihan itu pada orang lain. Ada orang-orang seperti itu, disekitar kita.

Saking seringnya kesedihan dan masalah ini muncul, bahkan menumbuhkan bisnis besar tersendiri, layanan terapis yang banyak dipopulerkan media. Tahu kan.. orang harus membayar jutaan rupiah per jam, masuk ke ruangan private dengan seorang terapis, dan si terapis tadi akan bilang, “Ceritakan apa yang kamu rasakan”. Lalu sang pasien tadi bercerita banyak hal tentang masalahnya. Setelah itu, sang terapis dengan gaya flamboyan penuh karisma akan bilang, “Apa sekarang perasaan anda membaik?”

Hmm.. Apa yang terjadi setelahnya? yang pasti, efek kesedihan hanya ada dua, bisa membuat jadi orang yang lebih baik atau hancur berkeping-keping. Dan itu ada pada pilihan kita.

Poinnya adalah, seorang muslim harus tahu bahwa solusi yang dicari sebenarnya ada dalam Al-Quran. Kita punya panduannya, yang nggak perlu diragukan lagi. Tapi banyak yang bahkan nggak mencoba menggunakannya.

Mungkin ada beberapa yang berpikir, kalau memang efeknya sebaik itu, kenapa kita nggak bisa merasakan manfaat dari interaksi dengan Al-Quran sebelumnya? Well, pertama, mungkin kita belum cukup lama berinteraksi dengannya, atau mungkin kita belum mengerti apa maksudnya (yang bisa bahasa Arab aja belum tentu mengerti, itulah kenapa kita perlu belajar dari yang punya ilmunya).

The Quran are supposed to be Allah giving you and me very relevant advices for my life and your life. It’s personal relationship. It’s not an academic relationship. It’s not superficial kind of relationship. First and foremost, it is personal relationship. And when Allah giving us instruction, even when He telling stories about the past, even when He is telling the stories of the past, you are not supposed to think about the past. What are you thinking about? Yourself.

Mungkin sebagian dari kalian udah tahu website ini: Bayyinah.tv. Isinya banyak kajian dimana ustadz Nouman mencoba menjelaskan pesan-pesan yang tersirat dalam Al-Quran atau yang maknanya tidak ada dalam terjemahan yang kita punya. Karena memang, bahasa Arab adalah bahasa yang sangat indah keseksamaannya, yang kadang menantang untuk bisa menerjemahkan Al-Quran dalam kalimat yang pendek.

Oh ya, saya sempat nyatet beberapa quote dari ceramah-ceramah beliau yang lain.

Misalnya, tentang kesabaran:

“Sabar bukan berarti diam dan membiarkan kemarahan menumpuk di hatimu. Sabar adalah bicara tentang apa yang mengganggumu tanpa kehilangan kontrol terhadap emosimu.”

Tentang pendidikan dan keluarga:

But what I wanted to add to this discussion and what this had to do with family and relationship is that we’re living in strange times, where you can have a Phd in biochemistry and you can have a doctor in nuclear physic or history or political science.. and the guy does not know how to be a good husband! The guy has no clue how to be a neighbor. He has no idea how to be a good son. Or a good father for that matter. He has no clue. I would consider it a basic education. To be a decent son, a decent father, a decent neighbor, basically a decent human being, a decent husband. These are the basic things.

But people have pursued and we’ve defined for ourselves education and other things and when it comes to the very basic of being a decent member of society and a decent member of your family, we are almost completely ignorant.

So if you have marriage problems and parental problems, you know what the real problem is? Taqwa and Iman. You’re not grateful enough. Your spouses are the gift from Allah to you. And to be ungrateful to a gift is to be ungrateful to Allah SWT. Your parents are the gift of Allah to you. So if you don’t have a good relationship with them, who are you actually being ungrateful to? Think about that! SubhanAllah!

Sedikit cuap-cuap untuk yang masih kuliah..

College is really the formulating part of your life where you decide what the rest of your life is going to look like. Really it’s college, because true independence is in college. That’s where you truly decide what direction of life you are going to take. Not just professionally but what kind of person you are going to be, how you are going to carry yourself, what kind of priorities are you going to have in life. All of that comes from what you are going to do in college and huge part of that is who you are around in college.

As far as the money coming in is concerned , Muslims should have, in my opinion, the idea that we should ward duniya away and we should be the people of akhirah is true. At the same time, Muslims, we shouldn’t have the love of duniya but I tell you we should be the highest paid people in the country. Muslims should have the highest salaries. We should have the most successful businesses. Not because we want money, we pour that money in Islamic work. We can build infrastructure for the future generations, we can’t do that if we have nothing to work with. Do u follow what I am saying? The real strength of our times, the real power in our times is economic power. That is what the real power is. You can have military power or you can have economic power, and let me tell you most of the times economic forces even drive military forces.

Hmm..

Ada banyak yang kita belum tahu padahal kita membutuhkannya. Dan sayangnya, nggak banyak dari kita yang benar-banar mau mencari tahu apa yang menjadi kebutuhkan tersebut. Kebutuhkan untuk mempelajari ilmu dan bisa mendapati kehidupan yang tenang di dunia dan bisa mendatangkan ketenangan untuk masa kita di akhirat nanti. Kita sudah Al-Quran, yang selanjutnya kita renungkan adalah apa aja yang udah kita lakukan untuk menjadikannya bagian dari hidup kita.

Tulisan ini saya buat sebenarnya untuk bisa jadi pengingat diri sendiri juga sih. Semoga ada hikmah yang bisa diambil.

Oh ya, akses Bayyinah.tv berbayar $10 per bulan. Tapi saya rasa sulit mencari sesuatu yang bisa dibeli dengan harga yang sama, yang lebih baik dari ini.. :-)