Jurnal Anas

Passion: Sebuah Kontemplasi

Untuk mengerjakan sesuatu dengan baik, kamu harus menyukainya. Idenya sederhana, dan hampir semua orang udah tahu. Kita bahkan punya jargonnya, yang seringkali jadi satu bab tersendiri di banyak buku-buku motivasi: ”Do what you love.” Tapi gue nggak tahu apakah itu bakal semudah kedengarannya. Karena saat ini, gue merasa bahwa melakukan yang kamu sukai itu cukup kompleks. Dan nggak mudah.

Ini terjadi lima tahun yang lalu, tepatnya 26 Juni 2009. Gue masih ada di awal-awal semester pertama kelas X. Bel istirahat baru berbunyi, baru beberapa saat ketika gue mau kantin, ada seorang cowok yang manggil gue dari belakang.

Namanya Zego. Dari langkah dan gerak-geriknya saat berjalan gue tau dia bakal tereak dan marah. Dan gue udah bisa tebak itu tentang apa.

“Parah banget lu Nas!” ucap Zego. “Lu tau nggak, lu udah menghancurkan mimpi anak-anak yang mau serius bangun The Journal. Kita bisa sukses. The Journal bisa jadi gede. Tapi lu malah berentiin!”

The Journal adalah komunitas jurnalistik kecil yang gue dan beberapa temen bangun waktu kita kelas X. Kami memproduksi majalah kecil yang setiap isunya membahas satu topik yang sedang populer, lalu dibahas dari sudut pandang lain dengan kritis dan lebih menarik dibaca para pelajar dan mahasiswa.

Edisi pertama dan kedua The Journal sukses besar dan terjual kurang dari setengah hari. Ada dua pemesan yang bahkan dari luar kota. Kami bahkan sempat mengunjungi koran lokal untuk kerja sama. Tapi dititik puncak itu, gue melihat situasi di beberapa sisi yang gue pikir bakal sulit untuk membuat The Journal ini tetap berjalan dengan lancar kedepannya. Sebagian besar anggota The Journal mulai disibukkan dengan fokus lain: Olimpiade, punya jabatan strategis di organisasi-orgnisasi, dll. Begitu juga gue.

Dari kiri: Zego (Marketing Manager), Gue (CEO), Yogo (PR Manager) di ruang direksi Radar Bogor.Dari kiri: Zego (Marketing Manager), Gue (CEO), Yogo (PR Manager) di ruang direksi Radar Bogor.

The Journal sebenernya bisa tetap berjalan. Bisa, tapi bakal sulit banget. Gue mulai berpikir untuk mempertanyakan apa yang sebaiknya dilakukan.

Puncaknya adalah malam tadi di hari itu. Gue menulis artikel panjang dan gue post di Facebook Notes secara private (hanya orang-orang yang gue tag yang bisa lihat) berjudul, “Apakah ini pantas untuk dipertahankan?” berisi tentang apa yang selama ini ada dipikiran gue dan meminta pendapat dari temen-temen yang lain.

Komentar dari teman-teman bermunculan. Sebagian besar setuju dan mau terus melanjutkan The Journal entah apapun yang terjadi selanjutnya. Gue sempat berpikir kembali tentang itu, tapi akhirnya gue tetap memutuskan untuk berhenti. Note Facebook itu gue anggap sebagai salam perpisahan, dan untuk menandakan bahwa The Journal pernah ada.

Seperti dugaan gue, ada beberapa temen gue yang kecewa. Tapi sebagian besar gue hanya menganggap itu sebagai bentuk simpati karena gue tau mereka juga bakal sulit untuk bisa ngerjain The Journal. Tapi yang paling berasa ya Zego ini, karena dia yang terlihat paling ngotot.

Tapi entah kenapa, waktu itu gue juga nggak ngerasa kalau dia serius banget ngomongin apa yang barusan dia omongin. Itu mungkin hanya bagian dari cara dia untuk peduli dengan mimpi kami semua saat mulai membuat The Journal. Sebagai teman yang baik, dia ingin mencapai target yang sebelumnya kami ingin capai bersama. Dan sebagai teman yang baik pula, dia mencaci-maki gue saat memutuskan berhenti berjuang.

Untuk dalam waktu yang lama, gue menganggap debat gue dengan Zego waktu itu hanya sebatas diskusi dan obrolan biasa. Nggak perlu dianggap serius karena waktu itu kita kelas X SMA. Ada banyak perjalanan di depan yang bakal terjadi. Dan akan selalu ada kesempatan dan waktu untuk memulai berbagai petualangan baru. Untuk membangun berbagai hal baru.

Masih ada banyak waktu.

Sampai akhirnya saat ini gue coba pikirkan lagi. Tentang kenapa gue berhenti di satu hal di tengah perjalanan. Dan itu bukan cuman The Journal, beberapa project lain yang pernah gue kerjain, yang gue pimpin pun bernasib sama. Sukses sebentar, lalu ada kendala yang menurut gue belum waktunya untuk dihadapi, dan memutuskan untuk menghentikan itu. Gue bosan, lalu berpindah memulai sesuatu yang lain.

Untuk beberapa saat, gue menganggap ini semua sebagai bentuk “latihan” agar gue bisa membaca apa aja yang harus gue hadapi kalau nanti gue ada disituasi yang sama. Apa yang harus gue persiapkan sebelum mengerjakan hal yang sama. Agar ada sesuatu yang gue pelajari dari situ. Agar ada pelajaran yang bisa gue dapet dari pengelaman-pengalaman itu.

Untuk beberapa saat, gue nggak mempermasalahkan itu semua. Toh gue mengerjakannya dengan senang hati. Gue menganggap semua itu mainan-mainan gue, tempat gue bereksperimen, tempat gue berkreasi, tempat gue berekspresi. Nggak masalah untuk berhenti di satu hal yang nggak membuat lu bergairah lagi saat mengerjakannya, dan mencari hal lain.

Tapi gimana kalau apa yang Zego bilang waktu itu ada benarnya? gimana kalau gue memang kadang terlalu takut dan cepat bosan ketika ada sesuatu yang lain yang mengalihkan perhatian gue. Gue terlalu mudah tertarik pada banyak hal. Gue bisa total mengerjakan satu hal itu, sampai ada di satu titik, gue melihat mainan lain sepertinya terlihat lebih baik. Lebih bersinar. Lebih menyenangkan. Lalu gue berhenti, dan melakukan hal lain. Tanpa disadari, gue seringkali nggak menyelesaikan apa yang gue mulai.

Gue sedang ada di tahun terakhir kuliah. Awalnya gue kira menerima beberapa job sekaligus sambil kuliah bakal keren. Oke, di satu sisi itu memberi gue pengalaman dan pelajaran berharga, tapi di sisi lain, gue merasa lelah. Sangat lelah. Gue bagai seorang anak kecil yang diberi terlalu banyak puzzle sekaligus, dan berusaha mengerjakannya disaat waktu yang bersamaan.

Gue kadang berhenti sejenak dan mencoba berpikir apa yang sedang gue lakukan. Apa yang sedang gue kejar. Apa yang sebenernya gue mau. Lalu gue ingat percakapan sederhana di 5 tahun yang lalu itu.

Bagaimana kalau ternyata itu kekurangan gue selama ini? Bagaimana kalau itu adalah musuh gue sejak lama, dan gue nggak menyadarinya?

Dan setelah sekian lama gue memikirkannya, saat ini untuk pertamakalinya itu membuat gue takut. Gue takut kalau gue belum bisa mengatasi hal ini. Gue takut kalau sedang menaiki tangga yang salah. Gue takut kalau gue sedang mengejar beberapa kelinci disaat yang bersamaan.

Atau mungkin.. sebaiknya gue menggunakan perspektif baru.

Mungkin gue nggak perlu mengejar banyak kelinci. Bahkan gue nggak harus mengejar satu pun kelinci. Mungkin gue membiarkan saja diri gue terhisap pada apa yang sedang gue nikmati sekarang, dan mengerjakannya sebaik-baiknya, sekuat tenaga.

Mungkin sebaiknya gue hanya perlu fokus menanam bibit-bibit ini dengan baik. Merawat bibit-bibit yang gue punya, yang ada ditangan gue, dengan sebaik-baiknya. Tanpa memberi ekspektasi apapun. Tanpa mengejar burung-burung yang harus gue tangkep. Tanpa mengkhawatirkan apapun.

Gue hanya perlu terus menanam bibit-bibit yang gue punya. Setiap hari.

Gua harus lebih berani berkata tidak, dan hanya perlu percaya, bahwa bibit-bibit ini akan tumbuh. Dan bisa berbuah dengan baik dan lebat.

PS: Zeg, kalau lu baca ini, gue cuman mau bilang: “makasih Zeg..”