Jurnal Anas

Bukan Tentang Diary

“Writing is like driving at night in the fog. You can only see as far as your headlights, but you can make the whole trip that way.”

E.L. Doctorow

Kita semua tahu Diary dari kecil, tapi gue rasa kebanyakan orang (terutama laki-laki) nggak punya. Tapi kebayang gak sih kalau kamu punya diary dari kecil sampe sekarang? keren banget kan?

Kalau gue punya diary, gue sih mungkin bakal bikin manuskrip dari diary-diary yang gue tulis terus nyari produser yang siapa tau, bakal menarik kalau dibuat film.

Tapi, gue pernah mencoba buat diary, karena nonton anime Hamtaro. Anime ini berkisah petualangan sekumpulan hamster-hamster ber-IQ tinggi (terbukti karena mereka bisa bahasa jepang) dan majikan mereka masing-masing (baca: manusia). Nah, pemilik Hamtaro ini seorang perempuan yang hidupnya selalu bahagia, dan di setiap akhir episode, dia menulis diary sebelum tidur. Ini keren banget, gue pikir. Gue harus mencobanya, walaupun belum tahu apa yang orang tulis di diary yang mereka punya.

Gue mau mencoba menulis diary selama sebulan berturut-turut. Gue semangat banget. Gue bahkan udah beli pulpe dan buku sidu 48 lembar yang baru. Ingat, 48 lembar, bukan yang 28 lembar. Uooh!

Gue lalu menulis diary untuk pertama kalinya, dan udah berhenti di hari kedua.

Gue nggak begitu bertipe “orang diary” (emang ada?). Tapi gue pernah bikin jurnal dari kelas 4 SD sampai kelas 6 SD, menghabiskan dua buku tebal dengan total 300 halaman. Itu salah satu prestasi yang gak gue sadari tapi justru karena itulah gue semakin membanggakannya. Hehe.

Jurnalnya sih random banget, dan sembilan pulu persen isinya bukan tentang hidup gue dan pengalaman-pengalaman abnormal yang pernah gue alami. Gue menulis apapun di jurnal itu hal-hal yang menurut gue menarik. Dari mulai rangkuman pelajaran, narasi waktu nonton National Geographic (ya, gue nonton film binatang sambil mencatat didepan tv), mencatat soal-soal dari acara “Who wants To Be A Millionaire” lengkap dengan jawabannya, kutipan-kutipan dari majalah, sampai lelucon yang gue dapet di gambar tempel hadiah dari snack seribuan.

Gue merasakan kepuasan tesendiri dengan mencatat apa yang gue pikirkan dan hal-hal yang menurut gue menarik. Seakan gue punya kontrol penuh untuk bisa mencari tahu semua pengetahuan yang pernah gue dapet dan mengolahnya jadi sesuatu yang baru, entah dalam bentuk percakapan saat gue ngobrol, saat gue bicara di depan kelas, saat gue ada tugas mengarang, atau bahan argumen saat diskusi.

Dan karena itulah gue masih melakukannya sampai sekarang, tentu dalam bentuk yang lain. Sebagian dalam bentuk postingan blog, sebagian lagi dalam bentuk artikel dan essay, sebagian hanya berbentuk list, bahkan gue juga pernah bikin beberapa cerpen.

Setiap kali gue melihat tulisan-tulisan itu, gue merasakan momen unik, dari situ gue bisa merasakan betapa cepatnya waktu berjalan, dan betapa ruginya kalau waktu yang gue punya sekarang nggak diisi dengan hal-hal yang berarti. Hal-hal yang ketika suatu hari di masa depan, bisa membuat gue tersenyum entah karena keras-kepalanya gue atau karena anehnya gue waktu dulu.

Dan itulah salah satu hal penting yang kita dapat dengan menulis: mendorong diri kita untuk selalu membuat jejak setiap hari. Jejak yang layak untuk ditulis, jejak yang layak untuk diingat.

Know that there is a mark to be made. Make your mark.