21

“I’ve always maintained that the greatest obstacle in life isn’t danger, it’s boredom.”

Dr. Vogel Dexter

Apa kamu pernah manjat pagar sekolah dua setengah meter, bolos, dan bangga setelah melakukannya? saya pernah. Waktu itu saya kelas 8 SMP, sekolah memutuskan menggunakan waktu istirahat dan 2 jam pelajaran terakhir untuk latihan baris-berbaris, persiapan kompetisi upacara bendera tingkat provinsi. Untuk yang kesekian kalinya. Ya, saya nggak suka berdiri di tengah lapangan dan hanya melihat kedepan atau melakukan posisi hormat selama satu jam lebih.

Tapi alasan sebenarnya saya nekat kabur adalah untuk merampungkan sebuah proyek sampingan: mengupload, dan merilis software antivirus “Alav” yang saya dan teman saya kerjakan. Besoknya, program antivirus ini akan kami promosikan di buletin yang waktu itu DKM Sekolah kami pegang. Ya, kami mempromosikan sofware di buletin yang biasanya disebar saat solat jumat. Jadi, saat itu pilihannya adalah: latihan upacara dan merampungkan project sepulang sekolah, atau nggak upacara dan melakukan apa yang ingin kami lakukan sekarang juga. Kami memilih opsi terakhir.

Detik-detik ketika loncat dari pagar mushola belakang sekolah, saya takut dan ragu-ragu. Bukan karena saya belum pernah manjat (waktu kecil saya sering banget manjat pohon tinggi, percayalah), tapi karena saya belum pernah melanggar aturan sekolah yang signifikan seperti, ya, cabut di jam pelajaran. Dari kecil, bahkan sejak saya sekolah TK, menaati peraturan sekolah adalah salah satu protokol hidup saya. Menjadi “anak baik” adalah kode yang seakan memang seharusnya ada dalam diri saya, dan semua anak normal yang ingin hidup tanpa masalah.

Tapi anehnya, saya nggak menyesal. Beberapa detik setelah kami loncat dari pagar, walau dengan sedikit luka baret di tangan, kami melakukan selebrasi. Berlari, dan seeperti layaknya seorang Lintang di Laskar Pelangi yang baru saja menang Cerdas Cermat di kelurahan, kami berteriak gembira. Hidup seperti menjadi lebih menarik.

Saya sendiri gembira bukan karena berhasil melanggar peraturan. Saya gembira karena sensasi seperti itu baru pertama kalinya saya rasakan. Sensasi saat kamu memutuskan untuk melakukan hal gila, untuk bisa mengerjakan apa yang jadi passion kamu. Sensasi yang muncul saat kamu melakukan sesuatu bukan karena kamu disuruh orang lain, sekolah, atau ingin dilihat baik. Sebuah energi yang kamu dapat karena kamu mengerjakan apa yang kamu suka. Karena kamu tahu, hal sedang kamu kerjakan adalah hal keren dan layak untuk diperjuangkan.

Bagi saya, salah satu passion itu adalah perangkat lunak. Saya suka mengeksplorasi dan membuat software.

Uniknya, kalau saya pikir-pikir, hal ini berbeda dari yang banyak orang bilang tentang passion. Saya bukanlah orang yang sejak kecil berkenalan dengan komputer. Saya juga nggak tinggal di lingkungan yang penuh dengan maniak komputer. Jangankan itu, saya justru pernah merasa bahwa komputer mungkin bidang yang nggak akan pernah saya dalami. Tapi ternyata itu salah. Senggaknya sampai saat ini.

Mengingat momen “loncat pagar” tujuh tahun yang lalu, yang menjadi trigger hal-hal gila yang saya lakukan setelah itu, membuat saya sedikit tertegun. Apa lagi yang hal yang cukup gila untuk bisa saya kerjakan?

Goals

Yap, sejak kemarin umur saya bertambah satu, dan itu berarti jatah hidup saya juga berkurang satu. Memikirkan umur 21, selalu mengingatkan saya pada film, yang juga berjudul “21”. Di film itu, Ben Campbell, seorang mahasiswa MIT dengan sederetan prestasi yang luarbiasa, dan dikenal pintar bahkan dibandingkan dengan rekan-rekannya di MIT, ditolak saat mengajukan beasiswa Robinson yang prestisius. Direkturnya bilang bahwa bahwa meskipun punya banyak prestasi, Ben nggak terlihat spesial, karena dia nggak punya cerita hidup yang hebat. Kisah hidup yang memukau.

Well, memukau adalah kata yang subjektif. Setiap orang punya pandangan masing-masing tentang apa yang menurut mereka keren. Tapi terlepas dari itu, berikut adalah beberapa goal yang ingin saya capai di umur yang ke 21 ini:

Work at [a] Top Tech Company.

Sticky Note: My Random tasksSticky Note: My Random tasks

Ada dua alasan utama. Pertama, saya sangat tertarik dengan mendesain sistem yang besar. Perusahaan-perusahaan seperti Google, misalnya, bisa jadi tempat terbaik untuk mendalami pengetahuan daya di bidang ini. Kedua, dan yang paling penting, adalah saya percaya bahwa hal esensial dari pekerjaan apapun adalah memastikan bahwa pekerjaan itu dapat membuat kamu belajar banyak.

Banyak teman saya yang sudah merencanakan tentang pendidikan S2 mereka, bahkan beberapa sudah berambisi untuk kuliah S3. Saya juga mau, tapi sekarang, itu nggak atau belum jadi fokus utama. Saya lebih fokus bagaimana agar saya bisa bekerja dengan orang-orang yang benar-benar ahli dibidang mereka, khususnya software engineering. Kalau itu bisa saya capai dengan kuliah S2 di luar negeri, insyaAllah akan saya perjuangkan. Tapi saya pikir, punya pengalaman bekerja di perusahaan terbaik adalah salah satu cara strategis bertemu dan belajar dengan engineer-engineer terbaik. Dan semoga dengan itu, saya bisa menghasilkan karya-karya yang bisa membantu hidup banyak orang.

Nulis Buku.

Sebenarnya ini udah jadi target sejak semester lalu, dan udah nyampe satu per tiga jalan. Tapi saya merasa hasilnya kurang memuaskan, jadi saya putuskan untuk memulai lagi. Dari awal. Sebenarnya fokus saya bukan tentang “menerbitkan buku” apalagi jadi populer. Yang menjadi fokus saya adalah untuk bisa berbagi cerita dan pikiran dengan banyak orang.

Ada banyak hal yang ingin saya ceritakan, dan ketika orang-orang membaca tulisan saya, mungkin itulah yang bisa mengantarkan saya bertemu dengan orang-orang yang menarik, dan juga bisa membuka lebih banyak pintu petualangan yang lebih seru. Amiin.

How about “the one”?

Yap, menjelang kuliah ditahun-tahun terakhir seperti ini, kamu akan menemukan seenggaknya satu tulisan atau curhatan tentang topik ini di setiap blog teman-teman kamu. Dan saya juga makin sadar bahwa waktu semakin dekat, dan saya secara nggak langsung merasa didorong untuk bisa cepat mapan. Bukan berarti saya bilang bahwa perempuan itu banyak yang meterialistis, tapi saya pikir dia pantas untuk tahu.

Seorang wanita layak untuk tahu bahwa laki-laki yang ada didepannya bisa diandalkan. Baik dalam segi finansial, ilmu, dan hal-hal penting lainnya. Seengaknya dia layak untuk melihat bahwa laki-laki yang sedang berdiri didepannya punya potensi untuk itu. Dan kalau dipikir-pikir sampai kesitu, saya sendiri belum jadi apa-apa.

Peter Parker, walaupun nggak kaya dan yatim piatu, tapi dia seorang jenius yang bisa jadi asisten di Oscorp Industries pas masih SMA, dan jadi freelancer photographer di koran besar. Bruce Wayne, walau sebagian besar kekayaannya hasil warisan, tapi dia juga nggak kalah jago dibidang chemical engineering, dan, dia juga jago bela diri. Shinichi Kudo, walau masih SMA, dia udah ikut andil di banyak kasus-kasus penting di departemen kepolisian Jepang.

Walaupun saya bukan Spiderman, Batman, atau Conan Edogawa, saya nggak mau cuman bisa bilang, “Atuh gue mah apa atuh..” saat ada didepan dia, lalu bilang kalau saya bisa membuat dia bahagia. A great woman, at least, deserve a good man, right?

And The Game is On..

Sebagai seorang muslim, saya percaya bahwa, kualitas seseorang salah satunya dinilai dari bagaimana dia menggunakan waktunya. Dan apapun yang terjadi di masa depan nanti, kalau kita niat dan tujuan kita baik, pasti ada ada hikmahnya. Nggak ada alasan untuk menyerah untuk sesuatu yang baik, yang pantas untuk kita perjuangkan.

“Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Rabbmulah hendaknya kamu berharap.” (QS. 94 : 7-8).

Hari ini umur saya bertambah satu tahun, dan saya berdoa, semoga kualitas diri ini juga bisa bertambah. Amiin.

Mengingat momen “loncat pagar” waktu SMP, semakin membuat saya yakin bahwa buah paling manis dari berani bermimpi adalah, kejadian-kejadian menakjubkan dalam perjalanan menggapainya. Dan setelah ini, jalan kedepannya mungkin nggak akan mudah, tapi ujungnya pasti bakal indah.