Here's to the Crazy Ones

Ada saran menarik tentang bagaimana kita melihat kritikan orang: Dalam hidup, kita akan selalu punya 30 persen orang yang menyukai dan menghargai kita, 30 persen lagi yang yang membenci kita, dan 30 persen lagi yang nggak peduli-peduli amat.

Banyak orang yang hanya berfokus pada 30 persen yang membeci mereka, tapi ada beberapa orang membuat keputusan lebih baik, yaitu fokus pada 30 persen orang yang menyukai mereka.

Mungkin B.J. Habibie secara nggak langsung pernah melakukan ini.

B.J. Habibie membuat perencanaan yang matang sebelum ia berencana membangun Industri Pesawat Terbang Indonesia disingkat IPTN. Waktu satu tahun ia gunakan untuk mempelajari bagaimana mengarahkan orang-orang Indoensia dalam manajemen, kemudian melihat kelemahan dan kelebihannya.

Kemudian B.J. Habibie berangkat keluar negeri guna mengajak industri-industri pesawat terbang lainnya untuk bekerja sama. Hasilnya nggak begitu mulus. Beberapa perusahaan yang diajaknya bekerja-sama menolak mentah-mentah. Kata seorang eksekutif industri asing, “Ketika ia memulai rencananya, seluruh dunia menertawakannya. Tidak ada orang menganggapnya serius.”

Bahkan, tamparan keras dirasakan ketika ia mau berunding dengan sebuah industri pesawat terbang di Kanada. Direktur Utama perusahaan itu menolak menerimanya. Ia hanya ditemui oleh seorang asisten direktur perusahaan tersebut. Jawabannya sangat menyakitkan hati dan membuatnya merasa terhina sebagai bangsa Indonesia.

Mereka menekankan bahwa tentu B.J. Habibie seharusnya tahu bahwa membangun industri pesawat terbang itu tidak mudah. B.J. Habibie seharusnya mengerti semua itu. Komentar pahit itu pun dirasakan penghinaan bagi B.J. Habibie, tetapi ia tidak dendam, ia hanya langsung pamit dan pergi.

Perlu waktu untuk pada akhirnya B.J. Habibie mendapatkan mitra yang diinginkannya, yaitu CASA Spanyol, yang setuju untuk bekerja sama dalam pembuatan NC 212 Aviocar twin turbopop. Beberapa tahun kemudian IPTN sendiri merancang dan membangun N 250. Berikutnya IPTN berpindah ke Jet N 2130 yang sedang dalam rancangan. IPTN sempat menggemparkan dunia dan membawa nama baik bangsa Indonesia. Sebelum akhirnya program itu dihentikan ketika terjadi krisis ekonomi di tahun 1997.

Keterampilan untuk bisa menerima akan cemoohan orang dan menahan rasa takut itu akan menjadi kenyataan adalah salah satu aset penting yang bisa seseorang miliki. Semua orang pernah merasakan ditolak termasuk orang yang mungkin terlihat tidak pernah gagal, seperti B.J. Habibie. (Oh ya, Makasih @pristysukmaa buat pinjeman bukunya.)

Tentang Rasa Takut

Saya pikir rasa takut memang lebih berbahaya dari kejahatan. Mungkin ini terlalu optimistis, tapi saya yakin semua orang pada dasarnya adalah orang baik. Mereka ingin melakukan hal-hal baik dan membuat hidup mereka bisa berarti. Tapi rasa takutlah yang membuat mereka berada dalam ujung tombak dan pada akhirnya membuat keputusan-keputusan buruk, yang akhirnya merugikan dirinya dan banyak orang. Inilah sebenarnya bagaimana masalah-masalah besar muncul.

Sebagai contoh, seorang pelajar yang mencontek saat ujian, sebagian besar adalah mereka yang belum mempersiapkan diri untuk belajar dan melahap semua materi di buku dalam satu malam, dan ternyata nggak memungkinkan. Situasi ini membuat mereka stress dan panik. Skenario-skenario buruk terlintas di kepala mereka, apa yang terjadi kalau dia gagal ujian, apa yang orang tuanya bilang, apa yang akan teman-temannya lakukan, dan bagaimana guru-guru melihatnya setelah itu. Akhirnya saat ujian dia berbuat curang. Dia berpikir bahwa itu darurat, nggak ada pilihan.

Seorang pimpinan organisasi yang tahu bahwa organisasinya dalam keadaan buruk, keadaan finansial dan produktifitas organisasi menurun, namun dia takut untuk membicarakan itu kepada rekan-rekannya yang lain karena takut hal-hal menakutkan terjadi: rekan-rekannya yang semakin tidak percaya, atau mereka yang akan memutuskan untuk berhenti dan keluar. Akhirnya dia memilih untuk diam dan menunggu. Berharap semuanya baik-baik saja. Tapi yang terjadi justru sebaliknya, situasi semakin buruk, dan organisasi tersebut kolaps dengan kondisi yang lebih buruk dan merugikan banyak orang.

Ketika orang dalam keadaan takut, mereka sering berperilaku nggak rasional karena mereka sedang dalam keadaan depresi. Mereka mencoba hal-hal yang nggak solutif tapi mereka tetap saja melakukan itu karena, ya, mereka depresi. Hal ini membuat mereka secara nggak terprediksi melakukan hal yang sangat berbahaya dan merugikan.

Dalam level yang sederhana, rasa takut membaut orang menjadi underachiver dalam banyak cara. dan inilah yang juga menjadi masalah besar. Contohnya, orang yang takut untuk melakukan hal-hal baru, sehingga mereka terperangkap pada labirin yang menunut mereka melakukan apa sebenarnya tidak baik. Rasa takut membuat kita kehilangan banyak hal. Rasa takut untuk mencoba hal-hal baru membuat kita kehilangan banyak kesempatan berharga. Rasa takut untuk berbuat membuat kita kehilangan banyak pelajaran berharga.

Rasa takut tidak bisa kita hindari. Tapi itu bisa kontrol. Salah satu orang yang memberi saya perlajaran itu adalah Mario.

Saya dan Mario nggak begitu dekat, tapi kami kenal satu sama lain sejak SMA kelas 11. Waktu itu saya sedang mengikuti lomba karya ilmiah di Jakarta, kami berkenalan hanya sebatas karena dia menemani saya mengisi waktu kosong sambil menunggu teman-teman satu sekolah saya yang belum datang. Dia termasuk tipe orang menyenangkan, dan mungkin salah satu anak populer disekolahnya.

Tiga tahun berlalu sejak kami bertemu. Sampai akhirnya di suatu sore, di Gramedia Padjajaran Bogor, kami bertemu. Nggak banyak yang berubah dari Mario selain tubuhnya yang semakin tinggi dan rambut yang lebih panjang. Mirip Mesut Ozil hanya saja berkulit sawo matang. Tapi satu hal yang membuat saya terkejut adalah saat saya tanya, “Kuliah dimana sekarang?” Karena jawabannya tidak. Mario nggak kuliah.

Bukan karena dia mengisi waktu luang satu tahun sebelum kuliah atau semacamnya, tapi dia sendiri yang membuat pilihan itu. Dia memilih untuk mengambil untuk nggak kuliah.

“Nggak gampang pas bilang ke orang tua lu bahwa lu memutuskan nggak kuliah. Gue cuman berpikir kalau gue pengen melakukan apa yang gue mau, apa yang gue kejar, saat ini juga. Orang tua gue kaget. Dan kami berdiskusi semalaman.” katanya.

Mario sangat suka dengan mainan. Bagaimana mereka bisa dibuat, didesain, dan bisa melakukan hal-hal tertentu yang membuat orang, terutama anak-anak senang bermain. Mario ingin membuat mainan, banyak mainan, hasil desainnya sendiri.

“Bukan cuman yang bikin seru, tapi juga bisa mendidik. Gue punya banyak desain mainan yang gue buat kalau lagi nggak ada kerjaan. Gue juga pernah kontak sama beberapa usaha lokal yang bikin mainan-mainan gitu. Gue sadar kalau gue ingin mewujudkan itu. Gue nggak tau apa yang nanti terjadi, gue tahu gue butuh mentor yang berpengalaman dibidang ini biar gue bisa belajar, tapi gue suka petualangan. Gue juga punya basic di bidang elektronik kok. InsyaAllah gue bisa memulai ini dari mana saja, biar passion gue yang akan memandu gue kemana arahnya.” jelas Mario.

Diskusi dengan orang tuanya berakhir menjadi sebuah kesepakatan: Mario diberi ijin orang tuanya untuk melakukan apapun yang dia mau, tapi jika dalam satu tahun dia belum menghasilkan atau belum punya customer, dia harus kuliah.

Dan ternyata, kesepakatan tersebut mulai terlihat berpengaruh di bulan ke-enam. Mario diterima magang disalah satu perusahaan mainan Jakarta. Rencana Mario saat ini adalah belajar sebanyak mungkin hal yang bisa dia pelajari, mencari mentor mungkin ke Jepang atau USA, dan akhirnya mendesain mainannya sendiri yang dia pikir bisa menjadi Gamechanger, dan mencari investor untuk bisa membangun perusahaan mainannya sendiri.

Saya jadi penasaran bagaimana dia bisa bertahan selama itu, saya berargumen bahwa kampus bukan cuman tentang belajar dan ikut ujian tiap semester, tapi tentang bagaimana menimba pengalaman, membangun network, dan bersosialiasi. Sebagian besar orang bersosialisasi di sekolah atau di kampus mereka. Saya nggak tahu apa yang kebanyakan orang yang sudah terjun di Industri rasakan, tapi banyak yang bilang kalau mereka cenderung nongkrong dengan teman-teman mereka saat kuliah. “Atau mungkin lu tipe Lone Wolf gitu ya? haha”, tanya saya.

Mario diam sejenak, tapi kemudian membalas tawa, lebih heboh malah. “Gue sering main ke UI kok, gue juga kadang main di Gunadharma, ada beberapa temen gue disana. Gue juga sering kepikiran untuk kuliah, dan mungkin nanti gue kuliah, mungkin tahun depan, mungkin juga nggak sama sekali.”

Saya akan ingat momen ini.

Mario. Seorang ambisius, perfeksionis, tapi tetap rasional. Selain ambisinya yang serius untuk menggapai mimpi, dia juga tetap bisa gaul dan nggak merasa berbeda dengan teman-temannya yang lain. Dia nggak melihat mana jalan yang lebih baik atau lebih buruk untuk ditempuh. Dia hanya melihat bahwa dia membuat keputusan yang berbeda. Dia tahu itu beresiko, tapi dia nggak nekat. Dia punya rencana. Dan yang paling penting adalah, dia bisa mengontrol rasa takutnya. Rasa takut untuk berbeda, rasa takut untuk gagal.

Apa yang bisa kita pelajari?

Saya nggak akan bilang bahwa kuliah itu nggak penting. Kenapa? karena anekdot berbeda dengan data. Bill Gates dan Mark Zuckerberg dropout dan akhirnya punya perusahaan besar. Apakah itu berarti kalau kita dropout maka kita juga pasti akan jadi millionaire? tentu saja nggak.

Nggak semua orang bisa dropout lalu membuat iPhone, atau mesin waktu, atau toilet modern yang ukurannya bisa otomatis berubah tergantung siapa yang duduk diatasnya (oke, itu bakal keren kalau benar-benar ada). Orang nggak menilai kompetensi dari siapa dia, darimana dia berasal, kaya atau miskin, orang menilai dari apa yang kita bisa perbuat. Apa yang bisa kita lakukan.

Mario adalah salah satu contoh bagaimana seseorang bisa mengendalikan rasa takut dalam dirinya. Berusaha untuk survive dan konsiten dengan apa yang dia lakukan adalah pertarungan tersendiri dalam dirinya.

Ya, inilah salah satu pelajaran yang saya ambil: Jangan pernah memandang orang dari apa yang sedang kita lihat saja, karena setiap orang yang kita temui pernah bertarung di peperangan yang berat mereka masing-masing.

Mungkin ada orang yang tanpa kita sadari sedang berperang dengan penyakit yang sedang dideritanya. Mungkin ada orang yang tanpa kita sadari sedang mengalami masa-masa berat karena ada masalah di keluarganya. Mungkin ada orang yang tanpa kita sadari sedang bekerja sangat keras karena dia harus membiayai adiknya sekolah.

Atau mungkin ada orang yang tanpa kita sadari sedang frustasi dengan masalah studinya. Mungkin ada orang yang tanpa kita sadari baru saja membuat keputusan berat dalam hidupnya.

Semua orang pernah berperang di pertarungannya masing-masing. Nggak ada yang pantas untuk dipandang rendah.

Kedua, Hidup itu nggak kayak soal ujian. Di ujian, hanya ada satu jawaban yang benar, kamu harus memilih jawaban itu untuk bisa benar. Tapi dalam hidup, ada banyak jawaban yang benar. Entah mau jadi dosen, mau jadi insinyur, mau berkarir sesuai jurusan atau nggak atau mau banting setir dan terbang ke papua untuk membantu anak-anak disana untuk belajar, semua adalah jawaban yang benar.

Kuliah di luar negeri? itu jawaban yang benar. Berjuang keras jadi aktifis yang memperjuangkan idealisme? itu jawaban yang bagus. Jadi orang yang fokus untuk memperjuangkan studinya agar membanggakan orang tua? itu jawaban yang bagus. Jadi orang yang memperjuangkan mimpi gilanya dan memilih ga kuliah? itu jawaban yang bagus. Banyak jawaban yang bagus. Kita nggak bisa menilai orang buruk hanya karena ada persepsi berbeda tentang satu hal dengan kita.

Selama kita percaya apa yang kita lakukan adalah dengan niat baik, selama kita percaya bahwa yang sedang kita lakukan secara langsung atau nggak langsung memeberi arah kita ke suatu tujuan. Selama kita memperjuangkan itu, ada hati-hati kecil lain yang ikut memberi semangat untuk terus maju. Dan yang penting adalah kita nggak melakukan sesuatu karena itu membuat kita takut.

Ketiga, To be perfect is overrated. Semua orang cenderung untuk ingin menjadi sempurna, perfect. Dan akhirnya gue sadari bahwa pikiran seperti itu terlalu berlebihan. Nggak ada orang yang sempurna, dan kita nggak perlu untuk jadi sempurna untuk bisa bahagia, kita hanya perlu merasa cukup.

Orang-orang yang berusaha untuk terlihat sempurna justru berbahaya. Ini seringkali terjadi pada para pemimpin: Kamu pikir kamu harus menjadi tak terkalahkan, yang berarti kamu bukan seorang pemimpin yang baik kalau kamu terlihat melakukan kesalahan.

Jadi, akhirnya kamu nggak pernah mengakui kesalahan demi terlihat kuat. Tapi kalau kamu nggak pernah melakukan kesalahan, berarti kamu nggak belajar. Kalau kamu nggak belajar dari itu, kamu akan terus melakukan kesalahan, yang akhirnya membuat kamu malah makin merasa ketakutan, yang akhirnya memaksa kamu untuk berbohong lagi dan lagi. Dan kalau ada pemimping yang berada dalam titik itu, orang-orang akan menyadari bahwa dia nggak tau apa yang sebenarnya dia lakukan, walaupun dia berpura-pura bilang semua baik-baik saja.

Keinginan untuk menjadi selalu sempurna justru akan melahirkan banyak keputusan yang diakhiri dengan penyesalan dan sensitif terhadap setiap kritikan. Kita pernah melakukan kesalahan-kesalahan (atau mungkin sedang melakukannya), sebagian mungkin terlihat memalukan, tapi itulah yang membentuk diri kita sekarang. Kegelisahan untuk selalu terlihat sempurna hanya membuat 20 persen kinerja otak kita terbuang percuma.

So, Heres to The Crazy Ones

Coba bayangkan bagaimana kalau sebenarnya semua orang di dunia ini ada karena ditakdirkan untuk menjadi guru dan mengajarkan kita sesuatu. Ini akan membuat kita jadi rendah hati dan bisa mengambil banyak pelajaran-pelajaran penting yang bisa kita dapat di setiap kesempatan.

Ada guru yang mengajar dengan cara keras dan ada pula guru yang mengajar dengan cara yang lembut. Tapi nggak peduli dengan bagaimana cara mereka mengajar, entah bagaimana mereka berperilaku di depan kita, senggaknya kita menjadi tahu bahwa tersimpan pelajaran berharga yang bisa kita ambil dari situ. Dengan cara pandang seperti ini, mungkin kita bisa lebih baik dalam mengontrol situasi dan emosi, dan melampiaskannya ke cara yang labih baik.

Seengaknya mungkin itu pula yang secara sadar atau nggak sadar, orang-orang yang mengubah dunia, yang memberi banyak manfaat untuk sesama, yang produktif berkarya lakukan. Mereka menganggap bahwa semua momen, baik atau buruk, ada untuk mengajarkan mereka sesuatu.

Setiap tembok yang mereka lewati ada untuk memberi mereka ujian seberapa keras mereka ingin mencapai sesuatu. Setiap kesulitan ada untuk memberi mereka kesempatan untuk bisa menjadi bagian dari solusi. Setiap orang yang berperilaku tidak sopan, memberi mereka kesempatan untuk bisa memperbaiki diri dan kesempatan untuk bisa menasihati satu sama lain.

Dunia menjadi seakan miniatur besar sebuah training yang tidak pernah berhenti dan tidak pernah lelah untuk mengajarkan mereka banyak hal.

Sampai pada akhirnya, mereka bisa mengukir hidup mereka dengan cara yang memukau dan menginspirasi orang lain untuk bemanfaat bagi sesama. Mereka membuat jenis musik yang mereka tulis sendiri. Seperti yang pernah Cass Elliot bilang,

Nobody can tell ya;
There’s only one song worth singin’,
They may try and sell ya,
‘Cause it hangs them up to see someone like you.
But you’ve gotta make your own music
Sing your own special song,
Make your own kind of music even if nobody else sings along.
You’re gonna be knowing
The loneliest kind of lonely,
It may be rough goin’,
Just to do your thing’s the hardest thing to do.
But you’ve gotta make your own music
Sing your own special song,
Make your own kind of music even if nobody else sings along.
So if you cannot take my hand,
And if you must be goin’,
I will understand.
But you’ve gotta make your own music
Sing your own special song,
Make your own kind of music even if nobody else sings along.

Plot twist: Mario adalah tokoh fiktif.