Jurnal Anas

Bagaimana Seharusnya Kita Tidur?

Bayangkan ini: malam sudah larut, suasana sudah semakin sunyi. Kamu melihat jam dinding. Sudah jam 1 malam. Kamu tahu tubuh sudah udah lelah dan kamu harus tidur. Tetapi otak dan hati masih semangat banget. Kamu bingung, pergi tidur sekarang atau lanjutin kerjaan kamu sampai pagi.

Pernah mengalami hal seperti itu? atau mungkin ini:

Besok ujian mata kuliah terberat semester ini. Kamu merasa belum nyaman untuk istirahat karena materi belum benar-benar di kuasai. Mata udah tinggal 5 watt, bantal dan kasur sudah menanti dengan indah 10 cm dari meja belajar. Kamu panik. Bingung. galau. Akhirnya, kamu malah buka facebook. #lho

Oke, ending dari gambaran yang kedua memang nggak menyelesaikan masalah, tapi keduanya berhubungan dengan tidur. Dan lebih dari 30 juta manusia modern punya masalah dengan benda bernama tidur ini.

Buat saya sendiri, membicarakan masalah tidur adalah hal yang sulit. Ini karena tidur adalah masalah sensitif; di satu sisi saya sudah banyak dengar tetang betapa penting dan bagaimana kita seharusnya tidur, di sisi lain saya masih sering kali melanggar untuk tidur sesuai dengan jadwal harian saya. Sampai akhirnya, beberapa hari yang lalu saya membalas salah satu tweet @yeahmahasiswa yang membahas tentang ini.

Mengingat kenyataanya tidur adalah isu yang penting, terutama di kalangan pelajar dan mahasiswa, saya beranikan diri untuk menggalaukan kembali topik ini.

Mengapa Kita Tidur

Mengapa kita tidur? alasan scientic-nya, belum diketahui. Riser yang dilakukan ke berbagai variasi binatang mengindikasikan campuran dari beberapa teori tentang tidur: mengeluarkan radikal bebas, memberikan memori baru yang digunakan untuk bisa “dipelajari”, atau pembentukan ulang sinapsis dan menurunkan permintaan metablik.

Tapi kita selama ini sudah dengar bahwa banyak riset yang membuktikan bahwa tidur itu penting. Salah satu alasannya adalah karena kita sangat membutuhkannya untuk bisa tetap hidup.

Apa hal terpenting untuk agar bisa bertahan hidup? Bukan makanan, minuman, pakaian dan sebagainya yang menyokong kebutuhan dan asupan energi tubuh. Jawabannya adalah memori, yang membantu kita mengerti dimana mencari makanan, dimana binatang-binatang buas bersembunyi, apa cara terbaik mencari pekerjaan, dan lain-lain. Kita butuh memori untuk mengerti sebuah pola, dan bagaimana cara beradaptasi di lingkungan baru. Oleh karena memori sangatlah penting, kita mendedikasikan waktu khusus secara permanen untuk mengkonsolidasikannya, dengan cara, tidur.

Singkatnya, tidur itu penting. Kita pun sudah punya alasan yang cukup untuk membuat isu ini menjadi lebih penting. Hal ini karena kebiasaan tidur yang buruk mengantongi banyak kasus terjadinya korban jiwa; entah karena kecelakaan mematikan di jalan raya ataupun stress, perubahan metabolisme, lebih cepat tua, dan depresi.

Begitu pentingnya tidur, fakta bahwa salah satu investasi terbaik dalam hidup kita adalah mempunyai tempat tidur yang nyaman, menjadi lebih bisa dimengerti. hampir satu per tiga hidup kita adalah tidur, kalau tidur nggak nyaman sama aja dengan satu per tiga hidup kita nggak nyaman. Iya kan? hehe.

Beberapa Teori

seperti tweet yang saya kutip sebelumnya, ada beberapa teori tentang tidur, sebut saja beberapa cara meng-hack tidur. ada yang dengan tidur siang 2 jam lalu di malam hari 6 jam, ada yang setiap 1 jam tidur 5 menit yang berarti nggak ada blok waktu tidur beberapa jam secara berturut-turut (konon, ini cara Leonardo Da Vinci lakukan), dan lain lain.

Kalau mau coba teknik-teknik sleep deprivation tersebut, ya silahkan saja. Tapi banyak riset membuktikan cara-cara tidur seperti itu melemahkan sistem imun dan metabolisme, menambah berat badan, dan membuat performa kognitif mengurang. Ini hal krusial, terutama buat para pelajar dan mahasiswa.

Dari yang pernah saya baca di salah satu buku (dan sayangnya saya lupa buku apa -_-), kita punya jumlah jam tidur masing-masing. Kebanyakan orang punya jatah tidur 8 jam sehari, ada juga yang harus 9 jam tidur untuk bisa bangun dalam keadaan segar, tapi ada juga yang hanya butuh 6 atau 7 jam tidur, dan bagi yang beruntung ada yang hanya butuh 5 jam tidur dalam sehari.

Kamu mungkin udah nemu ”magic number” ini. Kalau udah, ya tinggal konsisten aja dibikin jadwal. Kalau belum ketemu, ingat kata-kata Steve Jobs, “Keep looking, and don’t settle”, haha.

Fakta yang perlu diingat adalah, saat kita kekurangan tidur satu jam dari jumlah jam tidur yang kita butuhkan, efeknya buruknya bakal terasa seminggu, bukan 5 jam sesuai perhitungan matematika sederhana.

dan lagi, saya bukan dokter, saya nggak punya data ilmiah yang cukup untuk bisa memberi kamu saran medis tentang salah satu isu terpenting dalam dunia kesehatan. Jadi, ya, ini hanya bagian dari pengalaman pribadi dan itu berarti bisa bekerja atau tidak, tergantung individu masing-masing.

Dilema

Yang menjadi dilema adalah, sepeti yang pernah Hasan Al-Bana pernah bilang,

“Kewajiban kita lebih banyak daripada waktu yang tersedia”.

Di kalangan mahasiswa atau mungkin akademisi secara umum, mengorbankan tidur adalah salah satu bagian dari rencana untuk semakin produktif. Banyak orang-orang yang kompetitif mengorbankan waktu tidur mereka untuk bekerja atau belajar, bahkan nggak sedikit yang begadang tiga hari berturut-turut. Yang menjadi motif tindakan ini sederhana saja, kita pengen pekerjaan kita cepat selesai. Semakin cepat kita menyelesaikan pekerjaan, semakin cepat pula kita bisa istirahat dan santai-santai. Tidur menjadi reward kalau produktifitas mencapai target.

Hal lain yang memotivasi pilihan ini adalah orang yang rela mengorbankan tidur untuk menyelesaikan pekerjaan yang mereka sukai, terlihat lebih sukses. Terutama bagi para geek komputer. Steve wozniak misalnya, saat membuat prototype apple II dia nggak tidur empat hari berturut-turut.

Nah, apakah gaya hidup yang benar? saya nggak tahu, saya mahasiswa ilkom, bukan dokter apalagi neurologis. Tapi kalau ditanya apakah saya mau melakukannya? sujujurnya, nggak. Saya pengen punya jam biologis yang teratur dan punya gaya hidup sehat. Selain olah raga rutin dan asupan nutrisi yang baik, tidur adalah faktor maha penting untuk kesehatan tubuh. seperti yang pernah Tim Ferris bilang dalam bukunya “The 4-hour Workweek”, investasi terbaik saat kita masih muda adalah investasi untuk diri sendiri. Investasikan diri sendiri dengan belajar sebanyak mungkin hal dan tetap menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh.

Tapi.. saya juga pengen kerjaan saya beres, target-target tercapai. Nah kan, jadi dilema. Galau dah.

Kesimpulan

Tidur itu penting. Sebagian dari kita mungkin me-manage waktu dengan seberapa banyak waktu tidur yang kita tambah atau kita kurangi setiap harinya. Well, bagi sebagian orang itu mungkin nggak masalah. Tapi bagi kebanyakan orang itu bisa jadi masalah. Ada baiknya kita fokus untuk lebih disiplin dalam menyelesaikan pekerjaan dalam waktu tertentu dibanding fokus untuk nggak disiplin dalam tidur.

Tapi, kadang-kadang kalau lagi semangat banget saya mengorbankan tidur juga sih. Sekali-kali nggak masalah kali ya, hhe. Ada ide lain?