Jurnal Anas

Cuman Tentang Kisah Biasa..

Pagi itu Aya sudah bangun dan hendak beranjak dari tempat tidur, tapi tidak bisa. Tangannya bergetar setiap kali memegang tumpuan tempat tidur agar ia bisa menopang tubuhnya. Tubuhnya lemah sekali, tulang-tulangnya seakan menipis dan tak berdaya lagi. Aya lupa bahwa 2 hari yang lalu, dokter mendiagnosis dirinya mengidap penyakit spinocerreberal degradation.

Sebuah penyakit ganas yang memungkinkan penderitanya mengalami kemunduran dalam fungsional saraf motoriknya, yang memungkinkan pasiennya lambat laun akan melemah, lumpuh, sulit berbicara, dan tidak bisa bergerak walaupun untuk melakukan hal-hal sederhana seperti memasukkan kartu ke dalam mesin ATM. Bukan saja penyakit yang mengerikan, tapi spinocerreberal degradation juga adalah salah satu penyakit yang belum ada obatnya.

Pasiennya hanya dapat menerima obat untuk melambatkan penyakitnya, bukan menyembuhkannya. dengan kata lain, orang seperti Aya sudah tahu hidupnya tidak lama lagi. Sayangnya lagi, penyakit Aya memangsa tubuhnya lebih cepat dari kasus-kasus penyakit serupa.

Sebelum saat dia di vonis menderita spinocerreberal degradation, Aya mempunyai hidup yang menyenangkan. Keluarga yang baik dan menyenangkan dengan tiga orang adik, teman-teman yang baik dan seru, termasuk menjadi anggota klub basket putri yang handal, dan Aya pun baru saja di terima di SMA favorit yang ia impikan. Ya, Aya baru berumur 15 tahun saat ia di vonis. Dengan datangnya penyakit itu, sungguh logis hidupnya akan berubah total.

Ia lebih sering menangis. Setiap hari. Ibunya bahkan masih ingat kata-kata yang diucapkan Aya setelah ia diberitahu mendapat penyakit ganas itu. Dengan kucuran air mata yang menetes sampai ke pergelangan tangan ibunya, ia bertanya dengan campuran kesedihan dan kekecewaan, “Kenapa aku bu? penyakit ini.. kenapa memilih aku? aku masih berumur 15 tahun..?”

Banyak hal pahit yang dia rasakan sejak penyakit itu menggerogot tubuh Aya dengan ganas. Ia harus diantar ke sekolah dan menggunakan kursi roda untuk bisa ke kelas. Ia sulit mengikuti pelajaran karena tangannya yang sulit digerakkan untuk menulis, dan itu juga otomatis mengganggu teman-temannya. Untungnya dia punya teman-teman baik yang selalu mengantar dan menemaninya berjalan-jalan setiap bel istirahat berbunyi. Saat tingkat dua SMA, ia terpaksa harus pindah ke sekolah khusus untuk orang cacat.

Ini kenyataan terpahit yang ia harus hadapi. Keluarganya sangat sayang padanya, Aya dibuatkan kamar khusus yang nyaman di rumah oleh keluarganya. Tapi bukan nyamannya ruangan dan empuknya kasur yang membuat ia merasa lebih baik, tapi apa yang ia punya untuk alasan hidupnya. Ia lemah dan tak berdaya. Sudah tidak mungkin untuknya bisa bekerja. Aya khawatir hidupnya hanya menjadi beban orang lain, ia ingin bisa melakukan semuanya sendiri dan bisa membantu orang dengan sesuatu yang ia bisa lakukan. Sayangnya ia tidak bisa.

Yang menakjubkan, Aya tetap berjuang untuk bisa melakukan hobinya secara rutin, menulis diary. Sesuatu yang bisa untuk orang yang sehat, tetapi sebuah perjuangan yang berat kalau tangan kamu nggak bisa bergerak dengan bebas. Sejak ia menderita spinocerreberal degradation dan tubuhnya melemah, mungkin itu satu-satunya hal yang membuat ia bisa tetap semangat menjalani hari-harinya yang berat. Ia banyak menulis puisi, yang kebanyakan megajak orang lain untuk mensyukuri hidup dan terus berjuang menjalani hidup.

Ia menulis sampai ia harus menggunakan dua tangannya untuk memegang spidol agar bisa bergerak di atas kertas. Menulis baginya hal yang membuat dirinya tetap punya alasan untuk hidup. Ia menulis setiap hari, sampai akhirnya ia tidak bisa menulis lagi sama sekali. Aya meninggal dunia di umur 25 tahun. Tulisannya dikumpulkan dan diterbitkan menjadi sebuah buku. Tulisannya banyak menginspirasi orang, karyanya membantu banyak orang lain yang juga sakit untuk terus hidup dengan penuh semangat dan terus melakukan yang terbaik.

Jadi ini kisah nyata?

Ya. Saya yakin bagi sebagian dari kamu tahu siapa yang saya ceritakan barusan. Nama gadis itu Ikeuchi Aya. Diary -nya di diterbitkan pada tahun 1986 dengan judul One Litre Tears. Tahun 2005 Fuji Televition manayangkan drama 11 episode dari kisah ini (dan masuk dalam daftar film drama yang sukses di tahun tersebut), dengan judul yang sama. Saya nonton film drama ini beberapa bulan yang lalu dan inilah untuk pertama kalinya, saya benar-benar merasa ada orang yang menyimpan tumpukan potongan bawang di hadapan mata saya. Nggak, nggak, saya nggak nangis. It’s just rain on my face

Saya sangat kagum dengan semangat Aya yang terus berjuang dalam menjalani hidup. Tanpa disadarinya, walau ia meninggal saat masih muda sekali, tapi hidupnya sangat berarti untuk banyak orang yang melihat kisah hidupnya. Semangat dan ketegarannya membuat banyak orang lain di luar sana mempunyai semangat hidup untuk terus melakukan yang terbaik, apapun yang terjadi. Saya sendiri nggak bisa ngebayangin bagaimana perasaan remaja umur 15 tahun, yang baru saja akan menikmati masa-masa remajanya, di beritahu bahwa ia mengidap penyakit aneh yang belum ada penangkalnya.

Pelajaran

Setelah menonton drama ini, saya merasa harus lebih menjaga kesehatan saya, dan menggunakan waktu sehat itu sebaik-baiknya. Menggunakan setiap waktu dengan sebaik-baiknya? ah, andai setiap apa yang kita ucapkan bisa jadi kenyataan dengan mudahnya. Tapi sebaiknya saya harus berjuang selagi masih bisa mempunyai kekuatan dan waktu untuk hidup.

Selain itu, hal lain yang saya dapat dari kisah Ikeuchi Aya ini, salah satunya adalah: berhenti membandingkan hidup kita dengan orang dalam arti, yang hanya membuat kita iri. Lakukan saja yang terbaik yang bisa kita lakukan.

Kalau penyakit itu tidak datang ke tubuhnya, Aya akan mempunyai masa-masa remaja yang indah dan masa depan yang cerah. Ia bisa bermain basket dan bepergian dengan teman-temannya. Awalnya Aya selalu bertanya kenapa nasib hidupnya tidak seperti teman-teman yang lain. Ia tidak bisa hidup dengan tubuhnya yang dulu, sebelum penyakit itu benar-benar melemahkan tubuhnya. Tapi ia akhirnya harus menerima kenyataan, ia tetap harus bersemangat dan terus melakukan yang terbaik. Mencenggangkan karena yang mengatakan dan mengalaminya adalah remaja berumur 15 tahun.

Untuk orang yang umurnya 19 atau awal 20-an kayak saya, kadang iri kalau melihat orang yang umurnya sama dan sudah mendapatkan banyak hal yang belum saya dapatkan. Orang yang summer internship-nya di google, yang udah bangun Startup Company-nya sejak umur 18, anak umur 14 tahun yang udah jadi engineer di Apple, yang juara di kompetisi-kompetisi bergengsi tingkat internasional, yang udah nulis novelnya dan jadi best seller pas dia umur 15, yang udah ketemu sama calonnya pas umur 18 … dafuq. Serius di internet apalagi banyak banget kisah anak-anak kayak gitu.

Tapi nyadar atau nggak yang namanya iri itu berbahaya dan merugikan: membuang-buang waktu kita dan bikin kita nggak produktif. Saya dapet penjelasan bagus tentang menyikapi hal ini di sini. Tapi kalau kamu terlalu malas untuk mengklik link tadi, saya kutip aja disini:

Emphatically stop giving a shit.

1. You have ZERO idea what their personal lives are actually like, or if their outward appearance of success is total bullshit.

2. Stop focusing outward, focus inward. A preoccupation with the success of others is taking time away from tending your own internal garden.

3. Believing in common measures of success (money, position, family) is believing in a ready-made lunch box of meaning that society is opening up and shoving down your throat. WHO CARES. Figure out what success is for yourself and then just focus on pursuing that.

4. You are in your 20s, so be prepared to witness some epic personal collapses of those whom you are currently envious of.

5. You can’t do anything besides what you can do. If you’re giving it your all and staying focused on your values, then your life is progressing exactly as it should be. Did you hear that? EXACTLY AS IT SHOULD BE.

6. When you have an episode of crippling self-doubt, picture each doubt as a single sheet of paper. Then crunch all of them together and throw them into the toilet of your mind. Now angrily kick-flush that toilet with your foot.

7. Actively work to express gratitude for what you do have every morning. The happiest people I know are full of gratitude, and they are profoundly in touch with their innate talents.

8. Before you read number nine, think of at least one person who thinks you’re awesome. Try to think of yourself as that person does.

9. Isn’t the universe so vast, so deep, so incredibly amazing? Who could possibly worry about a 3200 dollar difference in salary when there are stars supernova-ing right this very minute?

10. It’s a marathon, not a sprint. Near the finish line, you’ll realize you’ve only been racing against yourself.

Michael Phelps pernah bilang gini..

I wouldn’t say anything is impossible. I think that everything is possible as long as you put your mind to it and put the work and time into it.

Tapi, ya.. kalau pun saya bekerja sekeras mungkin yang saya bisa, saya mungkin gak akan bisa jadi perenang sehandal Michael Phelps. Saya nggak berlatih berenang sejak umur 6 tahun dan nggak punya gen buat jadi perenang juara olimpiade. But, Who Cares?

Tentu aja nggak semua orang bisa jadi atlet olimpiade hanya dengan mencoba. Dan tentu aja nggak semua orang bisa jadi the next Steve Jobs atau Zuckerberg nggak peduli seberapa keras mereka mencoba. Tapi bukan itu intinya. Intinya kalau kamu latihan basket 10-12 jam sehari selama setahun, kamu mungkin nggak bakal bisa selevel Michael Jordan, tapi kemungkinan besar kamu bisa ngalahin 90% anak basket di beberapa kampus.