Be the Worst

In reality, even when you try to be the worst, you won’t actually be.

Chad Fowler The Passionate Programmer

Saya punya pertanyaan bagus yang sudah ada dipikiran saya sejak tadi. Saya yakin ini akan jadi diskusi yang menarik. Saya mulai meng-klik tombolnya, lalu muncul text area dan saya segera menulisnya dengan bersemangat. Sudah beberapa paragraf, sedikit lagi selesai. Namun saya berpikir, “Mungkin ini udah ada yang bahas?”, “Kayaknya pernah ada yang mirip seperti ini deh?” saya terdiam, dengan segera memencet tombol ctrl + a dan menghapus semua yang sudah saya tulis. Lalu saya beralih ke bagian search dan mulai melakukan research tentang topik yang saya tulis tadi. Bam. Ternyata udah ada, dan orang itu membahasnya dengan lebih baik.

Ini sering terjadi saat saya browsing di salah dua situs favorit saya: Quora dan Hacker News. Kalau kamu geek, atau pengen tau dimana banyak orang-orang paling pintar di berbagai bidang berkumpul dan ngobrol-ngobrol, kamu bakal suka (setidaknya tertarik) dua situs itu. Hati-hati: Jangan sampai ketagihan!

Saya seharusnya tahu kalau salah sedikit nggak apa-apa, tapi entah kenapa kadang saya ragu untuk memberi jawaban kalau ada jawaban yang lebih baik. Jadilah yang lebih sering saya gunakan adalah tombol vote di setiap jawaban orang lain yang saya suka. Tapi saya suka kultur seperti itu. Orang seharusnya suka dimana dia merasa jadi orang yang bukan apa-apa dibanding yang lainnya, karena lingkungan seperti itulah yang membuat kita belajar lebih banyak. Dengan menjadi yang “terburuk” sebenarnya membuat kita berhenti meremehkan diri kita sendiri. Kamu mungkin seharusnya ada di kelompok A tapi kamu menempatkan diri di kelompok B, hanya karena kamu ragu.

Seperti yang seorang gitaris jazz legendaris, Pat Metheny pernah katakan ke semua musisi muda:

“Always be the worst guy in every band you’re in.”