Hujan

“One day your life will flash before your eyes. Make sure its worth watching..”

Hari itu saya sedang ada di taman rektorat yang cukup luas dan sepi, memegang formulir aplikasi beasiswa yang seharusnya akan saya kirimkan, dan membakarnya. Jangan tanya kenapa, anggap saja itu saya lakukan agar perasaan saya jadi lebih baik. Hari masih cerah, dan saat itu suasana kampus terlihat sibuk seperti biasanya. Untuk beberapa saat setelah saya memastikan abunya rata dengan tanah, saya terdiam sejenak. Menghela nafas panjang, dan berjalan untuk pulang ke rumah.

Saat hanya tinggal 20 meter dari angkutan umum tempat biasanya saya pulang, yang terjadi selanjutnya mirip dengan momen menyentuh di banyak film Hollywood: Pikiran saya berkecamuk, dan hujan deras turun dengan tiba-tiba. Orang-orang sontak berlari mencari tempat berteduh, sementara saya seperti orang idiot, berjalan merasa tidak terjadi apa-apa. Bedanya dengan di film, saya tidak berlutut dan berteriak di tengah hujan, “Tidaaaakk!”

Jarak dari kendaraan angkutan kota (angkot) tinggal beberapa meter lagi. Tapi saya memilih untuk berteduh di tangga sebuah gedung besar bernama Gedung Graha Widya Wisuda, tempat semua mahasiswa mencabut statusnya dan mulai menempuh hidup baru dengan status yang baru pula. Saya duduk disana, mengeluarkan sebuah buku bacaan, dan sejenak melihat hujan yang masih dengan ganas membasahi semua yang ada di bawah tanah. Saya jarang memerhatikan hujan, saya pikir itu hal biasa, tapi ternyata entah bagaimana melihat hujan membuat hati menjadi lebih tenang.

Saya jadi teringat sebuah mimpi yang saya alami saat masih SMA. Saya nggak tahu seberapa besar mimpi orang tidur bisa mempengaruhi cara berpikir orang, dan saya pun tidak begitu peduli dengan hal itu. Yang pasti, saya masih ingat mimpi itu: Di hari yang cerah di sebuah lapangan luas, saya berdiri dengan tegap, di depan podium menghadap ke banyak orang yang memakai toga di kepalanya, bertepuk tangan meriah dan semakin meriah saat nama saya disebutkan. Saya berdiri di situ, memberikan commencement speech, di salah satu universitas terbaik di dunia, Stanford University (Yang mau ketawa, silakan, nggak apa-apa).

Saya nggak berpikir mimpi itu suatu hari akan jadi nyata atau tidak dan sebenarnya membayangkannya saja malah ketawa sendiri, tapi sejak SMA saya jadi punya cita-cita yang mantap. Saya ingin jadi entrepreneur. Saya bayangkan diri saya di umur 25 tahun sudah mempunyai Startup Company, tinggal di apartemen yang sangat nyaman, punya tempat kerja yang menyenangkan dengan gedung yang indah dan banyak mainan, bersama dengan orang-orang terbaik yang pernah saya temui, menciptakan berbagai produk yang keren dan membuat hidup orang banyak jadi lebih mudah. Saya belum mengganti bayangan itu.

Tapi entah kenapa saya mulai takut. Takut kalau mimpi itu semakin jauh. Stanford? jangan bercanda, saat lulus SMA saya bahkan gagal masuk STEI ITB, pilihan pertama saya di SNMPTN (tapi alhamdulillah saya diterima di pilihan ke-duanya, di mayor Ilmu Kommputer).

Saat SMA, saya mirip Moritaka di manga Bakuman: Sejak kelas 11 saya sudah sering bolos, untuk melakukan kesibukan pribadi, termasuk untuk mengikuti kompetisi-kompetisi bidang informatika, penulisan kreatif ilmiah dan populer, sebagian besar secara independen. Bedanya dengan moritaka, saya belum mempunyai penghasilan yang pasti secara berkesinambungan.

Saya ingat saat pertama kali saya menghasilkan uang adalah ketika masih kelas X SMA, saya menjadi referral untuk menjual sebuah produk dan mendapat komisi beberapa persen kalau saya berhasil. Saking penasaran dan seriusnya, saya sampai membaca buku Hypnotic Writing dulu sebelum menulis sales letter sendiri, lalu membuat sebuah website statis, dan semalaman melakukan apapun agar mendapat traffic yang tinggi secepat mungkin. Kurang dari 4 hari, hasilnya sudah mulai terlihat. Saya berhasil menjual beberapa unit melalui refferal saya dan mencairkan komisi saya ke bank dan memegang Rp 500 ribu. Itu menjadi komisi saya yang pertama sekaligus yang terakhir saat itu. Karena setelahnya saya berhenti, melakukan bisnis semacam itu sangat melelahkan dan membosankan, disamping waktu saya terkuras habis (saya bahkan hanya tidur beberapa jam sehari, itupun di depan komputer).

Saya suka programming, tapi sebenarnya selama SMA yang saya lakukan bukan programming beneran. Saya hanya secara random menghack berbagai macam script aplikasi web dan memodifikasinya secara random pula, dengan bermodalkan tutorial-turorial yang saya dapat dari internet dan buku-buku. Selama setahun setelah masuk kuliah, enam bulan lebih saya bermain-main dengan python dan django, Setelah itu saya mencoba menggunakan Ruby on Rails (RoR) sampai sekarang. Saya membuat banyak command-line program dan menulis lebih dari selusin game sederhana. Saya menikmati itu semua, dan saya yakin akan terus melakukannya dengan lebih serius ke bidang web aplikasi. Saya bersyukur lebih produktif, tapi saya masih takut.

Banyak yang saya pikirkan: Bagaimana karir saya kalau setelah lulus kuliah? apakah saya akan dengan begitu saja meninggalkan mimpi saya dan menjalani saja apa yang akan saya dapat nanti? atau apa saya lebih baik Drop Out? saya merasa bisa belajar lebih cepat dengan otodidak, tapi saya belum benar-benar berani memilih resikonya? bagaimana kalau gagal?

Keadaan paling menjengkelkan adalah saat kita tidak tahu apa yang kita belum tahu. Oleh karena itu, saya sering meminta dan mencari nasihat tentang bagaimana saya akan melanjutkan ini semua. Sejak SMP, saya banyak buku tentang bagaiana orang-orang yang mulanya bukan apa-apa, banting setir dan memilih keputusan yang berat, lalu bekerja sekeras mungkin, akan sukses. Saya membaca kisah hidup Thomas Alfa Edison, Tesla, Steve Jobs, Bill Gates, Mark Zuckerberg, Steve Wozniak, James Carson dan lain-lain. Mereka membuktikan itu semua, bahwa kerja keras dan rasa haus akan pengetahuan akan membuat kita mendapat hidup yang lebih baik dan semuanya akan berakhir bahagia. Tapi kadang, saya bertanya sendiri, apakah ini juga akan berhasil untuk saya?

Saya bisa akui bahwa banyak kegagalan yang sudah saya alami. Dari mulai kalah dari kompetisi di berbagai lomba, sampai gagal memasuki universitas pilihan. Saya tahu dan sadar, bahwa salah satu hal yang membuat ini semua terjadi adalah karena saya kurang peduli dengan kesempatan yang saya punya. Saya kurang bekerja keras, saya hanya berpikir untuk berusaha secukupnya saja, saya mungkin akan mendapat keberuntungan juga pada akhirnya. Pelajaran berharga sekaligus pahit ini sudah pernah saya baca diberbagai buku, tapi saya baru benar-benar mengerti sekarang. Saya nggak mungkin mikirin episode spongebob yang tayang besok pagi kalau saya benar-benar punya komitmen buat berusaha sekuat tenaga.

Untuk membuat sesuatu yang menghasilkan sebenarnya sederhana: buatlah sesuatu yang orang suka, sesuatu yang orang ingin baca, gunakan, pakai, dan akan merasa kehilangan kalau mereka berhenti menggunakan produk kita. Tapi tentu saja, membuat sesuatu yang dibutuhkan dan diminati banyak orang bukanlah sesuatu yang mudah. Saya sering berpikir apa project saya selanjutnya, dari mulai membuat web apps sambil belajar hal-hal penting di bidang software development, pernah juga terpikir membuat channel di youtube sendiri seperti thenewboston dan khanacademy, atau bahkan ide cerita novel yang ingin saya tulis.

Saya terdiam sejenak. Hujan semakin lama-semakin kecil, sepertinya tidak lama lagi akan reda. Saya masih memegang buku bacaan yang belum saya baca satu halaman pun. Saya menunduk, Saya masih takut.

Tapi, kanapa saya harus takut? Karena masa lalu beserta kegagalan-kegalan yang pernah saya alami? karena saya takut tidak akan berubah banyak?

Saya nggak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Saya nggak bisa mengubah masa lalu, dan itu memang nggak perlu. Saya nggak akan kemana-mana kalau saya berpikir seperti ini terus. Saya nggak tahu apa yang akan terjadi 6 bulan kedepan, atau satu tahun kedepan. Dan sebenarnya, itu nggak penting. Takut akan sesuatu yang bahkan belum terjadi hanya membuang-buang waktu saja.

Yang saya punya adalah saat ini. Hari ini. Itu investasi terbesar yang seharusnya saya gunakan sebaik-baiknya. Saya nggak tahu apa yang akan terjadi nanti. Tapi saya punya cita-cita, saya punya mimpi, mimpi yang setiap hari selalu hinggap 5 cm di depan mata saya, dan sering membuat saya terpecut ketika sedang tidak melakukan apa-apa. Saya ingin mewujudkannya. Ingin sekali. Saya nggak mau melihat lubang-lubang yang saya buat di masa lalu lagi. Saya sudah lelah jadi pengecut.

Suara seseorang memecah keheningan.

“Nas, lagi ngapain? nggak bawa payung?” seorang teman tiba-tiba menyahut dari samping tanpa saya sadari, sambil mengendarai sepeda motor. “Mau bareng?”

Saya nggak tahu apa yang saya pikirkan, secara refleks saya membalas,

“Oh, nggak usah.. thanks” sambil berlari ke pertigaan tempat banyak angkot ngetem dan dengan bodohnya tanpa menggunakan payung, yang sebenarnya saya bawa.

PS : Saya kepikiran mau buat novel gara-gara baca Ender’s Game.